Monday, 9 December 2013

Listen to the Music - Chapter 1

Well, entah apalagi yang mau aku tulis, rasanya berlama-lama tidak menulis membuat aku kaku lagi merangkai kata-kata yang dulu walaupun berantakan namun bisa mengalir. Dan hari ini aku kehilangan sentuhan itu. malam ini aku buka-buka dokumen. Dan aku menemukan catatan diantara tumpukan file microsoft word ini sesuatu yang menarik. Tentang sebuah lagu dan kenangan yang tersembunyi antara lagu itu dengan aku. Simple nya lagu-lagu itu membuat aku kembali mengingat semua hal yang bisa aku tulis walau pendek. Oke semua cekidod!!


Peterpan – Semua Tentang Kita

Ini baru kelas delapan, dan sekolah sore menjelang Ujian kenaikan kelas dimulai. Hari ini biasa saja, hanya pelajaran kesenian dengan Guru baru yang juga baru saja lulus dari sebuah perguruan tinggi seni di kota padang panjang.  Dan yang menyesakkan lagi 4 kelas anak kelas delapan dikumpulkan dalam satu kelas, dia mengeluarkan semua alat musiknya. Dan aku ngga nyangka sama sekali dia bisa memainkan semua alat musik. Hebat sekali. Sampai yang terakhir, jarinya beradu pada tuts tuts piano, sebuah nada yang samar rasanya pernah aku dengar. Lalu tiba-tiba

“Waktu terasa semakin berlalu, tinggalkan cerita tentang kita”

Semua murid menyanyikan lagu itu, terus berlanjut sampai lagu itu habis, aku merinding. Paduan suara Pianonya dan suara semua anak kelas delapan. Hari itu aku bertekat agar bisa memainkan alat musik walau hanya satu.

Peterpan – Dibalik Awan

Hari itu, adalah hari-hari terakhir. Hari terakhir mengenakan celana biru dan lambang OSIS berwarna kuning. Ujian akhir telah selesai dan waktunya perpisahan. Ayah membuka warung pagi sekali. Karena pagi itu jam setengah enam pagi didepan gerbang sekolah sudah rame sekali siswa kelas 9. Mengadakan acara jalan-jalan keliling Sumbar untuk menikmati hari-hari terakhir serta perpisahan itu. aku baru saja selesai mandi dan berpakaian, beberapa saat kemudian. “pak beli batre” perempuan yang selalu aku ingat parasnya memanggil ayah untuk membeli batre. Lalu aku kedepan mengambilkan batre untuknya, “lho Hanafi ngga ikut?” dia sedikit kaget melihat aku yang masih belum nyiapin apa-apa untuk jalan-jalan itu “ngga,” aku jawab seperlunya ada rona kecewa diwajahnya. Meskipun begitu semua berlalu biasa saja. Walaupun aku ikut atau tidak. Semua benar-benar biasa. Terakhir berhenti dipadang. Aku beli CD bajakan peterpan. Judulnya dibalik Awan. Mendenger lagu itu hanya membuat aku mengingat kembali subuh itu. sial.

Peterpan  –  Sally Sendiri

Lagunya, mengingatkan pertama kali aku berada dikota padang sendirian, pergi sekolah sendiri. Naik angkot sendiri, tiba-tiba waktu MOS ada temen yang nyanyiin lagu ini. Rasanya makin sendiri. yang aku ingat hanya berjalan sendiri, belum ada rasanya yang ingin diajak berteman. Walau pada akhirnya ikatan yang aku buat selama 3 tahun dikota padang, di SMK 5 Padang Khususnya. Sangat-sangat susah diputus, akupun tak pernah ada niat untuk memutusnya. Mereka akan selalu hidup disini, dihati ini. Selamanya.

Drive – Bersama Bintang

Mungkin yang baru menginjak umur belasan tahun di tahun 2007 ada yang tau dengan sebuah sinetron yang berjudul Candy. Waktu itu memang sinetron lumayan lebay, tapi tidak selebay sinetron akhir-akhir ini yang sebenarnya untuk hiburan malah seolah sinetron berusaha merusak moral. Pertama kali dipadang aku tinggal dirumah orang yang sekampung denganku, semua orang biasa memanggilnya ibu. Setiap malam ibu selalu nonton tuh sinetron, sayup suara lagu itu selalu sampai kekamar atas tempat aku tidur. Harum kenanga dari balkon dan lagu itu, sampai sekarang masih membekas diotakku, ketika itu aku masih merasa sendiri, sangat sendiri dikota padang. Lagunya masih mengingatkan aku tentang kesendirian.

Closehead – Berdiri Teman

Entah siapa awal mula yang memperkenalkan lagu ini dikelas dulu, nyaris dua tahun lagu ini ada di playlist setiap anak-anak GB (Gambar Bangunan) dalam handphone nya masing-masing. Dan nyaris segitu lama juga lagu ini selalu menemani ruang praktek gambar ketika sedang praktek. Lagu ini hanya menyesakkan dada mengenang kembali segala kenangan yang telah lewat itu, berdiri teman nada-nada nya seperti rindu yang berterbangan.



Marjinal – Negri Negri

Aku ingat lagi, disaat-saat Dinasti Senior kelas tiga ketika aku kelas satu dulu akan berakhir. Akan terbebas dari ancaman anak-anak STM. Dan diakhir dinasti itu ada acara perpisahan dan sekolah mengadakan festival Band, dan KOMA 24. Entahlah, entah apa arti koma 24 itu, yang aku tau itu Band yang didirikan oleh 5 orang dari kelas GB, Iam, Acenk, Puyu, Ridho, Imul. Rasanya aku ingin  mencari lagi harddisk 5 GB bagian dari PC pentium 3 milik kakak yang aku bawa kepadang, disana ada Video dimana Koma 24 manggung. Yang membuat berbeda. Ketika hampir 7 – 8 band sudah unjuk gigi, sama sekali ngga ada reaksi dari siswa untuk jingkrak-jingkrak didepan panggung. Semuanya hanya nonton dari deretan kursi yang telah disediakan didepan panggung. Dan ketika Koma 24 yang akan tampil salah satu senar gitar putus, dan terpaksa sebagai Gitaris Ridho dan Imul gantian make Gitar karena mereka membawakan 2 lagu, masing-masing dapat satu lagu. Kejadian itu berlansung agak lama, dan membuat penonton emosi dan memaki serta mencela Koma 24, ada yang teriak. “Kangen Band, Kangen Band!!” entah apa maksudnya. Tapi kejadian terbalik ketika Drum Acenk mulai ditabuh, lagu negri-negri dengan tempo yang berbunyi terburu dan bergemuruh membuat adrenalin anak-anak STM yang sedari tadi manyun, semua orang berlari kedepan panggung dan mulai berjingkrak-jingkrak. Setidaknya Koma 24 membuat suasana yang tadi mati mulai bersemangat dengan lagu Negri –Negri yang diciptakan Marjinal. Lagu itu memang keren. Hari inipun sama, lagu itu seperti nada rindu. Kadang pilu.

Vierra – Manusia
AVA – Good Day

Playlist ketika berada diruang gambar, didepan meja gambar, menggambar masing-masing dimeja masing-masing, semuanya diam, semuanya Fokus pada gambar masing-masing, sayup hanya lagu-lagu ini yang terdengar. Pada akhirnya semua lagu-lagu ini hanya berlabuh pada kata rindu. Kadang pilu.

Lagi di Workshop Gambar (RUDI)


Peterpan – Yang Terdalam

Jam pelajaran terakhir, disiang terik. Namun jam 3 nanti masih ada kelas, terpaksa hari ini teman-teman GB ngga bisa pulang. Paling rame-rame jalan keluar dari sekolah melalui gerbang belakang, singgah dan nongkrong sebentar warung ibuk kos, dan berlanjut kekamar kos aku yang berada dipojok dekat kamar mandi. Hari-hari biasa yang kita lalui berminggu-minggu. Ada yang instan beli nasi bungkus, ada yang bawa nasi dari rumah, ngumpul nyaris 20 orang didalam kamar sempit, kumpulin semua nasi bungkus disatu tempat, dan makan rame-rame. Ritual yang biasa banget dilakukan. Sehabis itu pada santai semua menunggu pelajaran selanjutnya. Dulu ada videonya kita nyanyiin lagu ini didalam kamar, semuanya mainin alat musik. Lemaripun dijadiin alat musik. Tapi sayangnya Hardisk Jahanam itu sudah punah. Dan semuanya hanya tersimpan dalam kepala saja, ngga lebih. Lagi, lagu itu berubah wujud menjadi rindi. Kadang pilu

D’ Masiv – Lukaku

Jam istirahat, saatnya buru-buru kekantin. Menenangkan perut yang sedari tadi sudah unjuk rasa minta diturunkan makanan. Tapi matematika, fisika dan statika itu membuat segalanya terasa lambat. Adalah Puyu yang tampang Rock tapi suka banget dengan musik Pop. Waktu itu kita bertiga kekantin. Aku Iam dan Puyu, dan mereka bicara tentang lagu-lagu D’masiv. Dan puyu bilang “lagunya yang Lukaku enak tuh” dan Iam setuju, waktu itu bagi aku ngga ada yang lebih enak daripada semangkok Lontong gulai yang sedang aku kunyah ini. Walau pada akhirnya aku penasaran. Akhirnya aku download lagu itu dan dengarkan. Bener lagunya enak didenger. Tapi yang membuat aku sangat-sangat kecewa adalah. Nyaris seratus persen lagu D’masiv di Album itu ialah hasil plagiat. Pantesan pada enak semua, dan terbukti. Lagu D’masiv yang kita dengar hari ini. Itulah D’masiv yang sebenarnya.

Koma 24 – Fikirkan

Aku sudah lupa, bagaimana bunyinya lagu ini, yang aku ingat hanyalah. 3 orang wanita anak SMP, dan 20 Orang Cowok anak STM sedang berada disebuah Kampus bernama Bung Hatta menunggu 5 orang temannya untuk tampil, dengan Band mereka yang bernama Koma 24, sampai hari inipun aku sama sekali ngga mengerti dengan nama itu. tapi itu hari sabtu, seharusnya jadwal aku untuk pulang. Tapi mama Iam memaksa aku untuk tinggal sampai Koma tampil. Tapi aku ngga menyesal, ketika Koma 24 tampil mereka paling heboh, lalu aku pulang tanpa tau siapa yang juara di kompetisi itu, setelah balik lagi kepadang, aku dengan mereka kalah. Entahlah FIKIRKAN lagi KOMA 24. Apa yang sebenarnya salah.


Simple Plan – Perfect World

Ya, ini gila. Kebetulan 2 jam pelajaran ditengah kosong. Satu kelas berencana untuk bolos seharian dan pergi cabut kepainan yang berjarak kurang lebih 50 KM dari kota padang. Entah apa yang ada diotak anak GB waktu itu, yang jelas hari itu dunia seperti benar-benar sempurna. Untuk kita melepas tawa. Walau awalnya rasa tak mungkin sampai di painan karena ditengah jalan ditilang sama Polisi. Sampai ditempat tujuan. Semua sedih gundah itu hilang. Apa lagi bisa bersama sahabat tertawa. Ngga ada lagi rasanya masalah yang benar-benar berat. Entahlah menulis ini hanya membuat dadaku sesak. Lalu rindu. Kemudian pilu.

somehow forget the small parts like this


Udah lebih dari seribu kata. Sampe sini dulu deh lagu-lagu pembawa kenangan ini di chapter satu, masih banyak yang lain lagu dan kisahnya yang belum aku ceritakan. Sampai ketemu CHAPTER 2 yak!!

Tuesday, 1 October 2013

Salah?

aku ngga bisa senen.
ada acara sama temen.
selasa aja yuk jam 2 siang.


Pesan dua hari yang lalu, masih aku baca lagi dan lagi, memastikan apa hari selasa ini yang dia maksud?, aku masih terlalu resah, adzan zuhur samar terdengar dikamar yang dulu sempat aku tinggali beberapa tahun lalu. Sebentar lagi jam 2, dan hari ini hari selasa aku masih belum dapat kepastian apa-apa tentang janji yang telah disepakati selasa ini jam dua siang, disalah satu tempat makan, disudut komplek Gor di Padang.

jadi, kan?
Hari ini jam 2 ntar.

Pesan baru dari nomor yang sama masuk, dua hari ternyata aku harus menunggu beberapa belas karakter yang memastikan sebuah janji.

yuk jadi,
ini lagi siap-siap,
aku pergi sendiri ngga ada temen yang mau diajak siang-siang gini soalnya

Pesan itu terkirim, tanpa ada balasan selanjutnya, aku masih tiduran diruang sempit yang aku masih sangat hafal coretan dinding disetiap sudutnya. Ini sudah lama sekali, sudah hitungan tahun, setelah semua yang terjadi, sebuah peristiwa yang membuat aku harus membuang semuanya yang berhubungan dengan dia. Aku sangat tahu, waktu tahunan itu, ketika aku dan dia mulai miss contact. semua berjalan begitu saja, aku dihidupku berjalan sendiri. Dan aku tak yakin dia akan bisa berjalan sendiri, aku selalu mencari tahu tentang keberadaannya, apa yang terjadi dengannya. Dan aku selalu yakin, dia sama sekali tidak akan mengingat aku sedikitpun.

***

2010 akhir, ketika aku berada dibukittinggi. Menyelesaikan pekerjaan disana, beberapa waktu luang aku gunakan untuk membuka facebook. Ada dia didaftar request friend, dan ada beberapa pesan masuk. aku membaca pesan yang masuk.

Haay haann.....
Lama ngga ketemu ya :)
Aku kaget liat diwall grup alumni
Ternyata ittu dirimuuu..

Setelah semua yang terjadi, setelah beberapa tahun berlalu. Dia dengan welcome, sudah melupakan semua yang terjadi, jelas sekali karena memang dia sama sekali tidak punya perasaan apa-apa padaku. Dan karena hal ini dan itu, aku dan dia tukeran nomor telfon, dan berniat ingin bertemu buat makan siang bareng.

Beberapa saat kemudian, handphone aku berbunyi ada pesan masuk

Aku udah dilokasi,
Berdua sama temen, aku masuk kedalam duluan yak!
Aku duduk paling ujung.

Aku balas pesan itu, sambil bergegas berangkat ketempat yang sudah dijanjikan dua hari yang lalu.
Cukup tahu saja, ini untuk pertama kalinya, aku duduk berhadapan dengan dia. Melihatnya lekat-lekat, sudah jauh sekali berubah dari yang dulu pernah aku lihat. Diam-diam aku melihatnya dari kejauhan didalam kelas 9A. Cuma sebatas itu yang mampu aku lakukan dulu, jatuh cinta sendirian, dan menikmati rasa seneng dan sakitnya sendirian.

Dan hari selasa itu, aku duduk didepan dia, tanpa peduli pada temannya yang duduk disamping dia, semakin dewasa, semakin semuanya dari dia yang aku lihat. Obrolan pun ngelantur kemana-mana sejak 2005 aku kenal dengan dia, hari selasa itu aku punya waktu jauh lebih banyak dari yang pernah terjadi sebelumnya. Pertama kalinya aku bisa duduk didepan dia dan memandangnya dalam-dalam, memandang lebih dekat dari yang pernah terjadi sebelumnya.

Selesai makan disana, aku dia dan temennya, berangkat bersama kesebuah game station. Rasanya dia sangat lepas, tertawa,dan ini untuk pertama kalinya juga aku menemaninya bermain seperti ini. Harus aku akui, ini salah satu hari spesial yang akan terus teringat dikepalaku, tanpa harus aku menghafalkannya. Tapi buat dia, ini hanya sekedar hari biasa yang ia lewati sehari-hari, hari yang sama sekali ngga perlu diingat sedikitpun.

***
Hari itu berlalu begitu saja, tak ada interaksi lainnya, aku masuk lagi keduniaku, mengerjakan hal yang dulu pernah aku cita-citakan. Dan dia, entahlah. Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan pacarnya, atau sibuk-sibuknya kuliah dengan teman-temannya, mempersiapkan apa yang telah ia impikan dimasa depan.

Sampai hari ini masih sama, aku dengan duniaku. Dan dia tengah sibuk dengan dunianya, hanya terkadang twitter jadi tempat komunikasi antara aku dengan dia belakangan ini. Yap, sesekali aku mention karena ditengah kesibukan aku bekerja, salah satu refreshing yang bisa aku lakukan dibalik laptop dan perjalanan dari Mess ke proyek hanyalah mentengin time line walau kadang sangat jarang ngetweet, sering kali aku dapati dia dengan semua masalahnya tertulis di twitter, dan sesekali aku coba mention, mencoba seolah aku lucu dengan mention-mention ngga jelas, terkadang dia balas semua mention-mention itu, terkadang sampai seminggupun ngga pernah dibalas.

Entah apa yang tengah aku lakukan, terkadang aku merasa aku sedang jatuh cinta pada dia, jatuh cinta diam-diam jatuh cinta sendirian, bukan karena takut, aku diam. Seolah aku suka padanya dan ngga berani mengungapkannya. Dulu, lama sekali aku pernah mengatakan padanya, mengatakan semua yang aku rasa padanya, lalu kalimat klise pun muncul “aku sayang kamu sebagai seorang sahabat”.

Setelah semuanya, hanya merusak hari-hariku saja, bersyukur dengan jadwal sekolahku yang dulu sangat-sangat sibuk, aku bisa sedikit demi sedikit menetralisir rasa sakit itu. Aku mencoba kenal dengan semua perempuan lain. Yang entah kenapa aku hanya bisa bertahan dua minggu terhitung jadian lalu putus. Dan hanya sekali dengan yang terakhir, aku bisa tahan pacaran dengan dia lebih lama, walau ngga sampe satu tahun. Terkadang aku muak dengan hubungan yang semacam itu.

Sampai hari inipun aku masih diam, membiarkan orang lain coba menerka, apa yang terjadi dengan aku beberapa tahun belakangan, aku menikmati sekali hidupku beberapa tahun belakangan. Cuma terkadang dia yang tiba-tiba muncul di timeline, atau dia yang tiba-tiba change display picture di bbm recent update, bahkan foto dengan lelaki yang dia sebut pacar, aku hanya tiba-tiba ingat pada hari-hari yang telah berlalu itu. Aku masih tertawa dengan yang lain, aku masih jadi maskot trouble maker dikomunitasku. Tapi awan hitam serasa turun ketika dia dia dan dia lagi yang tiba-tiba muncul, entah kenapa aku orang yang seneng sekali menjaga perasaan orang lain meski harus nyakitin perasaan sendiri, dan aku tau sering kali aku nyakitin perasaan orang lain denga kata-kataku. Dengan semua mantan aku baik-baik saja, bahkan sampai hari ini aku masih berkomunikasi dengan baik.

Dan dengan dia yang bukan pernah jadi siapa-siapa, hanya seorang teman. Tidak mungkin aku harus melupakan dia seutuhnya, salahnya apa?. SALAH? Jika dia memang benar-benar ngga suka pada aku? Ketika dia request friend di facebook, dan follow ditwitter apa aku harus tekan ignore atau block?

Walau pada akhirnya aku tau, ketika aku approve atau follow akun dia, hanya akan mengingatkan aku pada awan-awan kelabu yang tiba-tiba turun itu.

Lantas salah?
Jika aku jatuh cinta pada orang yang sama sekali ngga mencintai aku?
Lalu apa dia salah?
Walau selama ini dia ngga pernah suka sama aku?
Lalu apa aku salah?
Mencintainya diam-diam, mengingat setiap gores kenangan.
Dan apa dia salah?
Tidak pernah sadar dengan semua ini?

Bahkan kenangan itu sama sekali tak mau hilang, aku masih saja mengingatnya, mengingat kepingan demi kepingan. Aku masih ingat, ketika sesekali aku mulai bisa mengeja nama dia, karena rasanya susah untuk berkenalan dengan dia. Aku harus menunggu sampai kelas tiga untuk berani menyebut namanya utuh. Aku masih ingat cara dia menatap, aku masih ingat cara dia menatap lelaki yang dia suka, aku masih ingat ketika dia berdua dengan teman sebangkunya melirik kepadaku selama jam pelajaran dihari pertama aku memakai kacamata, aku masih ingat ketika aku bertanya apa dia punya handphone, lalu ketika jam istirahat aku lewat dibangkunya, dia memberiku secarik kertas yang berisikan nomor handphonenya, lalu aku hanya menyimpan nomor itu, aku masih ingat ketika dulu aku mencoba mengais sesuatu didalam kaleng, dan tiba-tiba saja dia datang dan menggodaku, aku masih ingat setiap lipatan jilbabnya, aku masih sangat ingat, wajahnya yang basah oleh wudhu ketika shalat dzuhur berjamaah di mushalla sekolah.

Aku masih ingat, senyum puasnya bersama perempuan lain dikelas, karena semua laki-laki didalam kelas unjuk rasa dengan bolos shalat berjamaah karena guru-guru jarang sekali yang ikut berjamaah.

Aku masih ingat ketika pelajaran kesenian, beberapa orang terbaik dari setiap tokoh sebuah drama dimainkan didepan kelas tampil kedepan, aku dipilih menjadi pameran utama terbaik, dan dia menjadi ibu si pameran utama, bahkan dalam sebuah drama dikelas pun, aku dan dia hanya sebatas ibu dan anak.

Salah?
Apabila aku masih mengingat setiap detil-detil itu?

Atau mungkin juga salah?
Lalu apa yang benar?
Jika semuanya salah?

Lalu setiap pertanyaan itu hanya berputar-putar diporos yang sama, kembali lagi kesana, aku tau dia tidak akan pernah menjadi milikku, dan hari inipun aku sama sekali sudah tidak mengharapkannya lagi, lalu kenapa awan-awan kelabu itu datang dan datang lagi. Bahkan setelah aku tidak punya hasrat lagi untuk memilikinya.

Sampai pada akhirnya alasan logis muncul.
Kertas yang telah ditulis bahkan dengan pensil sekalipun, ketika ternyata itu salah, dan kita berusaha menghapus sebisanya, tetap pensil itu akan meninggalkan jejak.
Kertas bersih putih, jika dilipat lalu diletakkan dibawah kaki meja bertahun-tahun, ketika dibuka kembali, pasti akan meninggalkan jejak dan remuk. Sama hal nya dengan itu, betapa aku sadar aku salah telah menulis nama dia disatu lembaran awal buku yang aku buka, lalu aku mencoba menghapusnya setiap hari. Kertas itu hanya semakin tipis dan tak lagi menemukan bentuk awalnya.

Tetapi pertanyaannya, kenapa aku masih memegang kertas yang telah rusak itu?
Seharusnya aku sudah buka lagi lembaran-lembaran baru, yang mungkin jauh lebih putih, kenapa aku tidak begitu tega merobek kertas itu lalu aku buang jauh-jauh?

Entah lah,
Mungkin nanti, akan ada yang merobekkan kertas kusam itu untukku, aku juga telah lelah, kisah ini juga sudah terlalu basi untuk terus saja aku ingat. Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapapun, dan hari ini. Aku menulisnya, mengumpul aksaranya menjadi beberapa keping kalimat, untuk aku lihat-lihat lagi dimasa yang akan datang. Apakah kisah ini akan tetap basi.

Lalu pertanyaan lain muncul.
SALAH?

Jika aku menunggu seseorang untuk mencabik-cabik selembar kertas itu dibuku kehidupanku?

Suatu saat aku akan menulis sesuatu tentang dia.
dongeng tentang payung dan hujan..

cerita tentang payung dan hujan

gambar :
gambar 1
gambar 2

Wednesday, 28 August 2013

Rindu

Angin mengusap lembut wajahku, temali yang memanjang kelangit mengarah pada benda yang berterbangan kesana kemari, layangan dahulu kami menyebutnya. Angin sahabatnya, dan langit tempat seharusnya dia berada.

Lagu yang menemani aku pulang hari itu seperti gelombang pasang, mengingatkan aku lagi pada tahun-tahun dimana aku sama sekali tak punya tanggung jawab. Waktu begitu cepat bergulir, sehingga rindu lambat laun semakin menjadi penyakit yang membuat dada begitu sesak, tiada yang tau pasti apa yang akan bisa menjadi penawarnya.

Dahulu rumah didepan rumahku ini tak ada, dahulu Mtsn yang sekarang sesak dengan kelas itu adalah lapangan bermain layang-layang kami anak kampung. Jikalau tak percaya, tiga kelas permulaan itu yang menjadi saksinya, langit biru yang perkasa itu tau tentang canda dan manis senyum yang kami punya meski dalam bijaksananya langit hanya diam dan menyimpan setiap cerita itu untuk dia nikmati sendiri, dan langit tak tahu. Aku masih menyimpan rapi memori semacam itu dikepalaku. Ketika kepalaku membongkar kembali cerita itu, lantas hanya akan menyesakkan dadaku.

Aku senang, aku hanya akan mengembangkan senyum, katika sadar aku punya kenangan semanis itu, kenangan yang jauh dari hiruk-pikuk teknologi seperti saat ini, aku senang bagian masa laluku, berada dalam kampung dengan teman sebaya seperti ini. Aku senang bisa tumbuh diluasnya hamparan sawah yang setiap tahunnya menghijau lalu menguning, aku senang bisa belajar berenang dialiran sungai yang sangat-sangat jernih, aku senang bisa berlarian ditengah hamparan ladang jagung walau diakhirnya seluruh badanku gatal, aku senang sempat berkejar-kejaran dengan temanku dipematang sawah dan bermain lempar lumpur ditengah sawah yang hendak digarap, aku senang pernah dikejar petani semangka karena ketahuan mencuri semangkanya. Aku senang dimarahi ibu ketika disore hari aku pulang dalam keadaan sangat kotor, aku senang setiap malam dimarahi guru ngaji karena sering salah dalam tajwid, aku senang tidur dimesjid setiap malam minggu, untuk mengikuti didikan subuh disetiap minggu paginya, aku senang bermain layangan dengan teman-temanku meski layanganku paling jelek, aku senang mengejar layangan yang putus dengan teman-temanku meski lariku paling lamban. banyak lagi, sungguh banyak lagi yang membuat aku senang menjadi anak kampung. Disebuah desa yang orang sebut Katimaha.


Ipat, Domi, Ryan, Endi, Iga, Yandi, Datuak, Viktor, Ranggi, Menor, Buyuang. Sahabat masa kecil yang luar biasa, ribuan hari luar biasa yang aku lalui bersama mereka. Untuk sama-sama belajar tumbuh dan dewasa. Aku rindu, sungguh sangat rindu.

*Mencoba menulis lagi, mengumpulkan aksara, jadikan kalimat dan memulai lagi dari hal yang kecil

Langit Biru yang Jadi Saksi Kita

Sunday, 21 April 2013

Dua Satu



Dulu,  ketika aku mulai pandai berhitung, biasanya angka satu didepan dan angka dua selanjutnya, tapi hari ini aku akan menempuh 365 hari dengan angka dua didepan dan angka satu setelahnya..

Sebelumnya, segala puji bagi Allah yang masih memberi aku 365 hari lagi untuk terus belajar, untuk terus mencari, untuk terus berusaha, untuk terus mengerti, untuk terus memahami, untuk terus berbagi dan segala macam yang dapat aku lakukan dalam 365 hari yang berlalu, atau setahun dalam hitungan masehi.

Baru kemaren rasanya aku menulis tentang usiaku yang bertambah satu menjadi dua puluh dan hari ini bertambah lagi satu menjadi dua satu. Rasanya waktu begitu cepat berlalu.

Banyak hal yang dapat aku pahami dihari ini, awalnya aku berfikir ini benar-benar april yang salah, sampai pada akhirnya aku dapat sedikit memahami. Sejauh ini, april inilah april yang paling berarti, sangat berarti.

Dan semua yang terjadi selama april ini sampai pada tanggal 20, aku anggap itu hadiah ulang tahun, hadiah yang sangat berarti.

Awalnya aku memang merasa berat menerima ini, aku merasa dihadapkan pada april yang rasanya benar-benar kelam, diawali dengan ketika aku mulai menyukai salah seorang wanita, dan wanita itu tiba-tiba saja jadian dengan orang lain, padahal rasanya sudah sangat dekat. Aku memang terluka, aku memang kecewa. Lalu rasanya, aku sama sekali tidak pantas untuk sakit hati pada perilaku seorang wanita seperti dia. Yang aku dapat sangatlah sederhana, rasanya aku sudah tidak ingin main-main lagi dalam hal seperti ini, dan hasil pemikiranku sendiri. Aku belum meminta jodoh pada Allah, ketika aku yakin dia yang ada, ternyata Allah bilang tidak. Bukan dia yang selama ini aku cari, jawabannya begitu mudah. Bahkan yang telah memintapun masih ditangguhkan, apa lagi tidak meminta sama sekali, mana mungkin dapat.

Dan ditanggal 18 belas kemaren, aku kehilangan dompet. Dan satu hal yang aku pelajari lagi, ternyata kehilangan dompet itu lebih menyakitkan dari pada wanita yang diincar jadian dengan orang lain. Betapa tidak aku harus mengurus lagi semua kartu-kartu dan surat-surat yang hilang didalam dompet. Dan ini dalam kondisi ketika aku harus dihadapkan pada tanggung jawab pekerjaanku yang sudah menumpuk. Rasanya berat, rasanya ingin menangis tapi rasanya juga sangat tidak lucu, aku harus menangis karena hanya kehilangan dompet yang isinya hanyalah bersikap duniawi, aku semestinya menangis karena sering kehilangan waktu untuk menyentuhkan keningku kesajadah, tempat paling tertinggi dari gerakan shalat. Ya, rasanya aku terlalu angkuh meninggalkan itu semua. Tapi dibalik itu semua, aku dapat pelajaran yang sangat banyak dan berarti. Dan aku anggap ini hadiah paling dahsyat dihari-hari ulang tahun yang pernah aku lewati. Hadiah dari Allah, beberapa pembelajaran

Awalnya aku menyesalkan dengan apa yang terjadi, apa salah hanafi?
Dan aku dapat jawabannya, hanya perlu berfikiran positif dan berprasangka baik

Kenapa semuanya bisa terjadi?

Mungkin hanafi terlalu angkuh berjalan didunia dan sangat jarang bersujud mengakui kekecilan diri.
Mungkin hanafi terlalu angkuh tak pernah berdoa merasa bisa melakukan segalanya.
Mungkin hanafi bersedekah masih kurang.
Mungkin hanafi terlalu menganggap mudah semuanya.
Mungkin hanafi terlalu sering menyakiti hati orang dengan sikap maupun perkataan.

Ya, semua yang terjadi rasanya membuat aku harus intropeksi diri, apa yang sebenarnya salah denganku, karena semua yang benar itu datangnya dari Allah dan semua yang salah murni hasil perbuatan manusia.

Beberapa macam hal itulah yang dapat aku maknai, dari semua kejadian ini. Ini semua mengajarkan aku untuk ikhlas, mengajarkan aku untuk tidak lagi menyakiti perasaan orang, mengajarkan aku untuk tidak lagi ceroboh dan plin plan dalam mengambil keputusan yang pada akhirnya hanya akan menyusahkan diriku sendiri.

Dibalik hadiah yang istimewa itu semua, pada tanggal 20 ini, aku menganggap semua orang yang berinteraksi secara langsung ataupun tidak, merupakan hadiah spesial dari orang-orang itu.


Seperti,

Aku memasuki usia ke dua satu ditengah kerjaan yang menumpuk, aku masuk usia ke dua satu ketika sedang membuat peta situasi. Dan aku menganggap, ini hadiah ulang tahun spesial dari perusahaan tempat aku bekerja, bagiku mengeluh bukan lagi sebuah hal yang penting, karena sekeren apapun keluhan yang dibuat, toh ngga akan pernah menyelesaikan masalah. Hanya akan memperumit, nah dari pada aku mengeluhkan hal dimana aku harus memasuki usia ke dua satu dalam keadaan bekerja. Aku hanya akan menikmatinya saja sambil tetap berprasangka baik. Itu hadiah spesial dari perusahaan tempat aku bekerja.

Beberapa bulan yang lalu aku menghadiahi Ibu sebuah handphone, dan selama Ibu memakai Handphone itu, selama itu jugalah Ibu selalu menelfon sebanyak 5 kali sehari untuk memastikan aku sudah shalat apa belum, dan bagiku itu menjadi sebuah rutinitas, jika seharian Ibu ngga menelfon, maka aku akan balik menelfon ibu. Dan pagi 20 april, ibu menelfon sama seperti biasanya. Biasanya setelah mengucapkan Assalamualaikum, Ibu akan langsung bertanya sudah shalat shubuh apa belum, tapi kali ini Ibu mengawali percakapan yang berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, Ibu mengucapkan “Selamat Ulang Tahun..” mungkin tiga kalimat itu sederhana, tapi bagiku tiga kalimat itu punya arti sendiri ketika Ibu yang mengucapkannya. Bagiku dengan ketiga kalimat itu rasanya tidak ada lagi hadiah yang lebih spesial dari itu. Ya.. itu adalah hadiah Spesial dari ibu.

Karena lembur sampai jam setengah lima pagi, aku ketiduran sampai jam dua belas siang, sampai suara TV diluar kamar yang sedikit mengganggu membuat aku terbangun, pelan aku mendengar lagu india “main Hoon Na” aku suka lagu itu, aku juga suka cerita difilmnya, bagiku itu adalah hadiah spesial dari saluran TV itu. Karena tanggal 20 april dia menayangkan film yang aku suka. Mungkin yang ini hanya anggapanku saja.

Setelah selesai mandi, aku Firman dan Defri berangkat kuliah, ada Ujian matematika hari ini tepat ketika 20 april, semua berjalan seperti biasa sampai dikampus, setelah masuk keruang ujian dan sudah memasuki menit-menit terakhir ujian, tiba-tiba dosen matematika bernama pak Henri datang ketempat aku duduk, dan bertanya apakah aku kesulitan dalam menjawab soal yang dia berikan, dan memang ada beberapa yang belum aku dapatkan jawabannya, semua yang aku tulis dilembar ujian itu hanya hasil menyontek, karena aku benar-benar tidak pernah belajar diluar jam kuliah. Dan entah kenapa pak Henri duduk disebelah aku duduk dan menerangkan cara yang belum aku dapatkan. Dan bagiku itu adalah hadiah spesial dari pak Henri. Dia menunjukkan aku jawaban matematika yang dia sendiri yang membuat soalnya. Yaa itu hadiah spesial.

Sebenarnya sebelum ujian aku sudah menghubungi uni via bbm, aku memotret soal ujian dan aku kirim ke uni, karena uni sarjana matematika aku minta uni mencarikan jawabannya untukku. Tapi hanya kekecewaan yang aku dapat, katanya uni lagi dalam perjalanan ke depok dengan suaminya. Tapi tidak apa-apa, aku anggap itu hadiah spesial dari uni karena aku akan terus berusaha untuk selalu berprasangka baik. Dua hadiah spesial dari uni, yang pertama uni adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Terimakasih uni hadiah spesialnya.

Selama ujian, aku ditelfon oleh keponakanku yang bernama Abid, tiba-tiba mengucapkan selamat ulang tahun dan dia meminta hadiah kepadaku, dan setau aku orang yang berulang tahunlah yang dikasih hadiah lantas kenapa ini kebalik? Tapi ngga apa-apa, karena bagiku ini adalah hadiah spesial dari Abid dan abang aku Uda Iwan. Terimakasih Abid hadiah spesialnya.

Sehabis ditelfon abid, aku ingat abang kandungku sendiri, dan keponakanku lagi. Kenapa dari pagi belum sms maupun nelfon untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Tapi ya sudahlah, mungkin ini hadiah spesial dari Iky dan kakakku, terimakasih kakak, Iky hadiah spesialnya.

Pulang kuliah aku diajak Hadi, Mely, Defri dan Firman untuk makan, karena pagi aku sama sekali belum makan, dan selesai ujianpun sudah jam 4 sore. Aku dan orang-orang inipun pergi makan, sehabis makan karena dompetku baru saja hilang, maka orang-orang ini lah yang membayar makan. Lelaki macam apa aku ini, dibayarin orang untuk makan dihari ulang tahun, seharusnya kan aku yang traktir -_-. Dan ternyata setelah selesai makan ketika mereka ngumpulin duit buat bayar, ternyata duitnya kurang! Dan terpaksa Firman yang harus turun tangan buat pergi ke ATM terdekat untuk mengambil duit dan membayar makanan. Aku memang sedikit merepotkan. Dan bagiku ini hadiah spesial dari mereka, bayarin makan walaupun kerepotan, terimakasih Hadi, Mely, Firman, Defri hadiah spesialnya.

Sehabis makan aku langsung kekantor, sampai maghrib berlalu. Tiba-tiba Ari bbm, aku tekankan lagi, Ari ini adalah seorang perempuan, aku pernah menceritakan sedikit tentang dia sebelumnya, sebenarnya aku rada males nulis nama dia dalam blog ini, karena jika dia baca postingan yang memuat tentang nama dia, dia pasti bakalan minta royalti. Aku kan ngga dapet penghasilan apa-apa dari ngeblog, mau bayar royalti pake apa. Tapi aku coba sedikit nekat untuk menulis namanya. Karena dia tiga kali memberi aku “HADIAH SPESIAL” tanggal 20 ini.

Dia bbm ngajak untuk makan jagung bakar dijembatan siti nurbaya, dia sempat nanya kenapa jembatan itu namanya siti nurbaya, karena dia orang semarang jadi dia ngga banyak tau tentang padang, dan sampai saat inipun aku sendiri masih belum paham dengan jembatan itu sendiri. Bahkan aku sendiri tidak tau, kenapa namanya jembatan siti nurbaya, kenapa banyak sekali orang jualan jagung diatas jembatan tersebut, kenapa banyak sekali orang pergi pacaran kejembatan itu, dan masih banyak pertanyaan lain yang belum terjawab, hmm jembatan itu memang penuh dengan misteri -_-“
 
Eh, kok malah ngurusin jembatan sih, aku pun bertemu dengan Ari, dia berdua dengan Mery, bukan uni aku ini Mery yang lain lagi. Kita bertemu didepan kantorku, dan berniat langsung kejembatan siti nurbaya. Tapi ketika mau sampai kejembatan, Mery ngajak makan dulu disebuah tempat makan yang deket dari jembatan itu, kali ini Mery yang bayar dan untuk kedua kalinya, lelaki macam apa aku ini, kembali makan dibayarin orang dihari aku berulang tahun. Tapi setuju ngga setuju aku ingin mengatakan kalo itu adalah hadiah spesial dari Mery, sudah bayarin makan malam. Terimakasih Mery hadiah spesialnya.

Dan setelah makan, ketika Mery akan membayar makanan, seperti biasa aku sering kali menjahili Ari, dan kali itu sepertinya dia sudah ngga punya kata-kata lagi untuk mengungkapkan sakit hatinya, dia terlihat sangat kesal dan seperti ingin memakan aku, eh tunggu dulu, mungkin istilah memakan terlalu kanibal, ganti saja. Ari keliatan sangat kesal dan ingin memukul aku, lalu aku lari dan dia tidak bisa melampiaskan kekesalannya. Entahkah ini kutukan atau bagaimana, yang pasti ketika Ari sakit hati kepadaku, pasti yang jadi korban adalah KUKU JEMPOL KAKIKU SEBELAH KANAN, sama seperti dulu aku Ari, Mery, dan Defri pergi nonton kebioskop, rasanya jadul sekali memakai istilah bioskop ketika yang lain sudah menyebutnya dengan sebutan 21. -_-  aku juga sempat membuatnya sakit hati karena menendang-nendang sendalnya, lalu aku menendang salah satu anak tangga, dan kuku kakiku yang jadi korban, darahnya belepotan keman-mana, sama halnya dengan malam 20 april itu, ketika dia sakit hati, dan kuku jempol kakiku yang sebelah kanan kena ban motor yang susah sekali mengeluarkannya dari parkiran. Kuku jempolku patah dan kembali mengeluarkan darah. Tapi bagaimanapun juga, aku menganggap itu hadiah spesial pertama dari Ari. Aku harus selalu berprasangka baik. Terimakasih Ari hadiah spesialnya.

Sehabis makan malam, Aku, Mery dan Ari langsung naik kejembatan siti nurbaya untuk makan jagung bakar, dan kali ini Ari yang bayar. Dan untuk ketiga kalinya, Lelaki macam apa aku ini, makan jagung dibayarin dihari ulang tahunku sendiri, tapi walau Ari setuju ataupun ngga, aku akan anggap ini hadiah spesial kedua dari Ari. Terimakasih Ari hadiah spesial keduanya

Jam setengah sebelas malam, aku mengantar orang berdua itu kekosannya, dan aku kembali kekantor, aku membuka laptop dan mulai mengetikkan postingan blog ini. Tak lama Firman dan Defri balik dari bermain futsal, dan mereka berdua nonton bola diruang TV, sedang aku sibuk dengan laptop, dan ketika jam menunjukkan pukul setengah satu, tiba-tiba Ari menelfon. Sambil nangis bilang handphonenya yang satu lagi hilang, dan kemungkinan besar tuh handphone ketinggalan ditempat kita makan jagung tadi, dan dia minta supaya aku datang kekosannya dan nemenin dia buat balik lagi ke jembatan itu, dan aku kasihan juga mendengar dia nangis terisak-isak karena kehilangan handphone, lalu aku langsung keruang TV dan bilang sama Defri dan Firman bawa handphonenya Ari ilang, dan aku juga minta temenin sama orang berdua itu untuk ikut nyariin.

Aku berfikir, ini triple surprise attack dari Ari, aku menganggapnya tetap, ini hadiah spesial ketiga dari Ari, dia kehilangan Handphonenya ketika tadi pergi keluar dengan aku, dan sekarang aku harus terlibat ketika handphonenya hilang.

Ketika sampai dikosannya aku dan Ari duluan menuju jembatan, sedang Firman dan Defri nungguin Mery yang katanya lagi make baju. Aku ngebut berdua dengan Ari kelokasi hilangnya Handphone, sepanjang jalan Ari nangis terisak-isak, aku kasihan sekali melihatnya, tapi dalam hati aku sudah ada niat, buat menertawaan dia, karena tadi dia mengejekku mengatakn kekayaanku ngga lebih dari NOL rupiah sekarang karena kehilangan dompet. Nanti aku juga akan mengejeknya karena nangis terisak-isak karena kehilangan handphone.

Sampai ditempat yang kata Ari disana hilangnya, aku bertanya pada ibu yang jualan jagung, dan dia bilang ngga ada ngeliat Handphone. Lalu aku dan Ari mutusin buat nyari tuh Handphone ditempat makan malam yang tadi. Sampai disana  setelah dicari diparkiranpun tetap ngga ketemu. Dan entah kenapa Defri pengen ngebuktiin buat balik lagi ketempat Ibu yang jualan jagung, dan aku ngikut aja.

Sampai disana, tiba-tiba Mery mengeluarkan sebuah kue sambil ketawa cekikikan persis kuntilanak, dan ngga tau kenapa Ari juga tiba-tiba ikutan mirip kuntilanak, ketawanya maksudnya. Yaaaaaa ternyata hilang handphone hanyalah sebuah skenario yang mereka susun agar aku keluar dari kantor malam itu. Mereka membuat surprise sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka DUA SATU diatasnya. Dan aku sama sekali tidak menyangka, Ari bisa akting seperti itu. Rasa kasihanku hilang berubah menjadi perasaan entah apalah namanya.

Tapi aku seneng banget, buat diketahui saja. Ini pertama kalinya dihidup aku, ulang tahun niup lilin. Ada kue ulang tahunnya lagi. Emang setahun belakangan ini jadi tradisi kita,  ketika ada yang ulang tahun kita bakalan bikin surprise buat yang ulang tahun. Tapi hari dimana aku ulang tahun, akus edih sekali, kenapa giliran aku ngga ada kuenya. Awalnya aku berfikiran seperti itu, karna aku lihat. Defri Firman Mery Ari cuek-cuek aja dengan tanggal 20 ini. Tapi ya sudah, toh biasa aja kalau aku ulang tahun ngga ada yang spesial. Seperti tahun-tahun sebelumnya, palingan aku memaknai ulang tahun itu sendirian. Tapi mereka sengaja mengundur surprise nya ampe tengah malem, biar aku berkecil hati dan sedih dulu, sedih kalo mereka lupa kalo tanggal 20 aku ulang tahun. Malah Defri punya ide lebih ekstrim lagi, yang lain pengen nunda ampe tengah malem, defri pengen nunda sampe dua bulan kedepan.

Kalian hadir dengan warna baru dihidup aku, padahal kenal dengan Defri dan Firman sudah 3 tahun, tapi baru beberapa bulan belakangan ini mulai terasa dekatnya berteman.

Terimakasih sudah membuat aku khawatir dengan skenario yang kalian buat, akting Ari yang semestinya masuk nominasi di PANASDINGIN AWARD. Dan semua-semuanya. Meski surprisenya sudah ditanggal 21. Mungkin ini menandakan aku ulang tahun yang ke DUA SATU.

Dan ini sudah jam 4 pagi, aku masih duduk didepan laptop untuk menuliskan ini semua.
MERI, DEFRI, ARI, FIRMAN.. terimakasih untuk malam ini
Dengan kalian rasanya aku punya arti!
Dengan kalian juga, aku belajar banyak hal, dan aku minta maaf seringkali membuat kalian kesal. Semoga kalian mengerti dengan tipikal hanafi.
Hanafi cinta kalian dari hati.


Dan
Selamat ulang tahun hanafi, tetaplah menjadi hanafi. . . . .
Untuk tahun ini, selalu berprasangka baik dan lakukan yang terbaik!!



Wednesday, 20 February 2013

Cerita Tiga Hari #1


Tekanan showbiz? Mungkin ini yang sekarang sedikit menjadi beban, seminggu yang lalu aku berfikir mungkin sebaiknya aku pulang  saja kerumah dulu dan meminta libur selama tiga hari. Aku ingin melepas penat dengan cara yang aku suka. Pulang kerumah bertemu keluarga, dan kembali melihat-lihat kampung yang selama nyaris 6 tahun ini hanya beberapa hari saja aku habiskan disana. Yang paling lama hanya ketika lebaran, aku bisa stay dikampung selama 2 minggu.

Beda waktu pulang, beda cerita yang aku dapat. Pulang kali ini aku menyebutnya pulang kenangan, karena bertemu beberapa hal yang membuat aku kembali membongkar kotak-kotak kenangan yang ada diotakku. Wajah-wajah itu, jalanan itu, huft begitu berat rasanya menerima, ini sudah masuk tahun kesembilan berlalu, dan aku menyebutnya begitu saja.

Kegiatan pertama yang aku lakukan dirumah adalah menjeput keponakan kerumah abangku dan berniat membawanya kesebuah tempat wisata dikampung. Sekalian aku ingin ke mess tempat proyek aku bekerja yang sekarang pekerjaannya terhenti karena warga menolak pembangunan jembatan disitu dan ingin dipindahkan kekampungnya. Karena nyaris dua bulan proyek itu terhenti, aku ingin mengambil bajuku yang juga sudah 2 bulan disana ngga ada yang ngurus.

Sebelum berangkat ketempat wisata itu, karena keponakanku belum makan dari pagi dirumahnya, terpaksa aku yang terlebih dahulu menyuapinya makan, karena ibu juga sibuk dengan warung nasinya sekarang. Rasanya begitu lucu. ini alami saja, keponakanku sangat susah untuk menyuruhnya makan, tapi dengan caraku sendiri yang begitu mengalir dan alamiah, aku berhasil membuatnya mau makan bahkan bisa dibilang dengan porsi sangat banyak. Hari ini aku menyuapi keponakanku, mungkin disuatu hari yang lain beberapa tahun kedepan, mungkin aku sudah menyuapi anakku sendiri.

Aku ingat kembali belakangan ini, biasanya ayah tidak pernah serius menasehati aku tentang pasangan, tapi sekarang ayah sudah mulai serius tentang itu, dan ini begitu lucu rasanya. Ketika keluarga tau aku mulai dekat dengan beberapa perempuan, ibu dan ayah menelfon menanyakan aku sudah punya pacar apa belum. Dan selalu mewanti-wanti “kamu jangan pernah nyakitin anak gadis orang yah” selalu saja kata-kata itu yang aku dapat ketika ayah dan ibu sudah membicarakan jodoh, mengingat setelah uni menikah akulah anak selanjutnya yang diancam dengan kata-kata “kapan kawin?”, sampai pada akhirnya aku mengerti betapa menyebalkannya dipertanyakan dengan pertanyaan semacam itu, tapi aku berusaha menikmatinya, mengingat belum ada siapapun yang telah duduk manis dalam relung hati yang aku simpan sangat dalam, belum ada seorangpun yang bisa membuat aku benar-benar jatuh cinta. Kalau hanya rasa suka, banyak sekali perempuan yang aku sukai, namun yang benar-benar membuat aku mabuk rasanya belum ada.

Kadang aku berfikir, dijodohkan mungkin jauh lebih baik, karena aku hanya tidak ingin mengecewakan ayah dan ibu dengan pilihanku sendiri. Rasanya begitu egois bila aku harus memaksakan kehendakku tanpa memikirkan perasaan orang lain. Disisi lain aku juga percaya cinta itu diciptakan, bukan datang dengan sendirinya, hanya kita sendiri yang tidak sadar, ketika melihat pesona seseorang kita telah membuat begitu banyak cinta berterbangan didalam hati, terkadang cinta itu menjadi suatu hal yang sangat sederhana, tetapi terkadang cinta juga bisa menjadi begitu rumit untuk diartikan. Mario teguh juga bilang, cinta sejati itu tidak ada kalau bukan kita yang mensejatikannya. Dan satu lagi, nyari sendiri atau dijodohkan itu bagiku bukan sebuah pilihan. Jika jalannya kita bisa menemukan dan menjeputnya sendiri ketangan tuhan kita akan dapat, karena jodoh ditangan tuhan, kalo ngga dijemput. Ya jodoh bakalan tetap ditangan tuhan. Hanya caranya saja yang berbeda. Dan tetap aku yakin sekali dijodohkan atau nyari jodoh sendiri itu bukanlah sebuah pilihan.

Ngajakin ponakan ke proyek, deket tumpukan tiang Pancang

abis itu ngajak ponakan main dipantai

Wednesday, 13 February 2013

Pelangi Chapter I


Lagi, kembali aku memencet tuts tuts keyboard ini ketika diluar, dijantung kota kecil ini masih menetes riuh hujan berkejaran dari langit. Nyaris seperti rinai, tapi sepertinya lebih layak dipanggil hujan. Yap hujan yang menutup malam ini.

Aku ngga begitu tau harus dari mana memulainya. Rasanya ini hanya masuk dalam hidupku begitu saja, dan membuatnya begitu berbeda. Ada warna yang datang dan sedikit merubah warna langit dihidupku. Dari dulu aku ngga pernah bisa, menulis sebuah arti yang dalam tentang apa yang sedang aku lalui bersama orang lain, jika hanya bercerita tentang apa yang aku lakukan dengan orang-orang yang tengah aku lalui mungkin bisa. Tapi tidak untuk mereka yang punya arti. Tapi malam ini aku coba paksa kan.

Satu setengah tahun yang lalu, aku tengah sibuk menggambar sendiri peta kehidupanku, dimana pinggiran laut akan aku garis, atau dimana letak gundukan gunung akan aku tumpukkan, semua terasa rapi dan sempurna. Mimpi-mimpi itu, aku ingin berjalan egois sendiri ditengah peta yang masih aku rancang itu. Tapi tidak semudah itu, tuhan punya skenario lain yang jauh lebih sempurna, hanya saja waktu itu aku tidak begitu menyadari apa yang akan aku jalani akan lebih berarti bila megikuti alur skenario tuhan, atau aku harus keluar dari zona nyamanku.

Saat itu aku berencana ditengah kesibukanku bekerja, aku akan melanjutkan kuliah dengan begitu gampangnya sendiri selama 4 tahun dan menyelesaikannya begitu saja, dan rasanya aku tidak butuh orang lain. Egois sekali memang. Tapi skenario tuhan ternyata tidak begitu, ketika aku sampai pada bulan-bulan awal perkuliahan, aku harus dipindah tugaskan ketempat yang jauh. Aku masih bisa rasakan buramnya sore itu ketika aku akan berangkat jauh ada ayah dan ibu didapur ketika itu. Dan rasanya semua peta itu hancur berantakan, mimpi jangka panjangku mulai berhenti disitu.

Sampai saat ini aku sadar sendiri, ini bukan lagi tentang kuliah, atau tentang mimpi jangka panjang itu. Bahkan tuhan memberi cerita yang begitu lebih berarti.

Aku teringat kembali percakapanku dengan temen satu kos uni, ketika kemaren aku sempat bertemu lagi dengannya, aku punya kesempatan bertemu karena nganter undangan pernikahan uni. Undangan untuk temen-temennya yang masih setia mengenakan almamater kampus, sedangkan uni sendiri, sudah bersiap untuk duduk dipelaminan waktu itu.

Namanya Prima. Dan bukan nama samaran, sumpah waktu itu aku kaget banget ngeliat dia, mungkin udah 2 taunan ngga ketemu sama dia, aku fikir ketika dia keluar dari kosannya, yang keluar itu Mita the virgin, “EEHH buset, Mita kos disini yakk!!” aku nyaris SHOOCKKK!!!, sekarang dia rasanya jauh dari kata cantik, manis dan imut, dulu itu ketika tahun 2008 dia juga pernah datang kerumahku, ketika acara resepsi pernikahan abang aku yang paling gede, rambutnya panjang dikasih poni, cakeepppp banget!, dan sifatnya, sedikit bertolak belakang deh, ngga perlu deh aku ceritain aib orang, pissss kak Prima.

Dan ternyata yang keluar itu Prima bukan Mita, seperti biasa basa-basi nanya kabar dan dia nanya iam, hufft udah 2 tahun juga waktu itu aku sangat jarang ketemu iam, dan iam selalu sibuk dengan perkuliahaannya, dan aku mengerti.

Entah darimana awalnya aku dan Prima sampai pada cerita tentang “Teman dan Sahabat”, dia mulai bercerita tentang teman-teman SMA-nya yang semenjak kuliah jadi rada-rada sombong, prima berfikir mungkin teman-teman yang seperti itu merasa mereka jauh lebih bermartabat dengan teman-temannya yang sekarang dan mungkin merasa jauh lebih intelektual sehingga meninggalkan bahkan melupakan teman-teman lamanya yang sudah jauh hari saling berkenalan. Hal yang sama seperti aku fikirkan, entahlah bagaimana orang lain, yang jelas aku juga merasakan hal yang sama, ketika kita sudah lepas dari lingkaran pergaulan itu dan menemukan lingkaran baru disitu akan sangat terlihat sekali siapa yang teman, dan mana yang sahabat. Jawabannya ketika kita ngga bisa mengartikan pergaulan kita teman atau sahabat, dengan sangat mudah waktu yang akan menjawabnya.

Banyak sekali aku menemukan orang yang semacam itu dalam hidupku, ketika kemarin-kemarin aku mencoba lagi untuk bertemu dan bersilaturrahmi dengan teman-teman lamaku, memang aku memulainya dengan menghubungi satu persatu dengan handphone. Banyak yang langsung kenal, dan ada yang lama mikirnya, dan juga banyak yang sama sekali ngga kenal lagi dengan aku bahkan setelah aku menyebutkan namaku padanya. Entahkah mereka benar-benar lupa, atau memang aku tidak pernah punya arti dalam hidup mereka.

Percakapan aku dengan Prima berhenti karena temen-temen kosnya berteriak dari dalam, ingin membeli beras. Dan aku tersenyum geli serta kagum, ini sudah 4 tahun lebih dia kuliah dan kos ditempat ini, dan selama itu juga dia jualan beras dikosannya, aku bingung sendiri, tampilan visual dia, sikapnya, perilakunya, dan pemikirannya semua bertolak belakang, kadang aku berfikir Prima itu makhluk paling komplit yang pernah aku temui, dan juga susah ditebak.

Aku kembali kekantor malam itu, rasanya Limau manis dan Padang Baru itu jauh banget! Ngga kayak biasa dulu, aku sering kekosannya itu pake F1ZR nya iam, bahkan naik angkot, tapi semua terasa dekat! Sepanjang jalan aku berfikir, barangkali itulah yang jurang pemisah antara TEMAN dan SAHABAT!

Teman itu akan lapuk dan hancur dimakan ruang dan waktu, tapi Sahabat ngga akan pernah terpisah oleh ruang dan waktu!

Sejauh apapun ruang, ngga akan pernah menghapus rindu pada sahabat. Selama apapun waktu, ngga akan pernah menghapus memori-memori yang pernah ada tentang sahabat, tapi kenangan dengan teman akan cepat termakan usia. Karena itu aku mengatakan, waktu bisa menjawab tentang arti teman dan sahabat!

Untuk sahabat aku Sisil, yang setiap saat bertanya. Apa beda antara teman dan sahabat, bagiku inilah jawaban sederhananya, sangat simpel.

to be continuous to Chapter II
*******

sumber gambar : http://putriejrs.blogspot.com/2012/01/makna-7-warna-pelangi.html