Tuesday, 1 October 2013

Salah?

aku ngga bisa senen.
ada acara sama temen.
selasa aja yuk jam 2 siang.


Pesan dua hari yang lalu, masih aku baca lagi dan lagi, memastikan apa hari selasa ini yang dia maksud?, aku masih terlalu resah, adzan zuhur samar terdengar dikamar yang dulu sempat aku tinggali beberapa tahun lalu. Sebentar lagi jam 2, dan hari ini hari selasa aku masih belum dapat kepastian apa-apa tentang janji yang telah disepakati selasa ini jam dua siang, disalah satu tempat makan, disudut komplek Gor di Padang.

jadi, kan?
Hari ini jam 2 ntar.

Pesan baru dari nomor yang sama masuk, dua hari ternyata aku harus menunggu beberapa belas karakter yang memastikan sebuah janji.

yuk jadi,
ini lagi siap-siap,
aku pergi sendiri ngga ada temen yang mau diajak siang-siang gini soalnya

Pesan itu terkirim, tanpa ada balasan selanjutnya, aku masih tiduran diruang sempit yang aku masih sangat hafal coretan dinding disetiap sudutnya. Ini sudah lama sekali, sudah hitungan tahun, setelah semua yang terjadi, sebuah peristiwa yang membuat aku harus membuang semuanya yang berhubungan dengan dia. Aku sangat tahu, waktu tahunan itu, ketika aku dan dia mulai miss contact. semua berjalan begitu saja, aku dihidupku berjalan sendiri. Dan aku tak yakin dia akan bisa berjalan sendiri, aku selalu mencari tahu tentang keberadaannya, apa yang terjadi dengannya. Dan aku selalu yakin, dia sama sekali tidak akan mengingat aku sedikitpun.

***

2010 akhir, ketika aku berada dibukittinggi. Menyelesaikan pekerjaan disana, beberapa waktu luang aku gunakan untuk membuka facebook. Ada dia didaftar request friend, dan ada beberapa pesan masuk. aku membaca pesan yang masuk.

Haay haann.....
Lama ngga ketemu ya :)
Aku kaget liat diwall grup alumni
Ternyata ittu dirimuuu..

Setelah semua yang terjadi, setelah beberapa tahun berlalu. Dia dengan welcome, sudah melupakan semua yang terjadi, jelas sekali karena memang dia sama sekali tidak punya perasaan apa-apa padaku. Dan karena hal ini dan itu, aku dan dia tukeran nomor telfon, dan berniat ingin bertemu buat makan siang bareng.

Beberapa saat kemudian, handphone aku berbunyi ada pesan masuk

Aku udah dilokasi,
Berdua sama temen, aku masuk kedalam duluan yak!
Aku duduk paling ujung.

Aku balas pesan itu, sambil bergegas berangkat ketempat yang sudah dijanjikan dua hari yang lalu.
Cukup tahu saja, ini untuk pertama kalinya, aku duduk berhadapan dengan dia. Melihatnya lekat-lekat, sudah jauh sekali berubah dari yang dulu pernah aku lihat. Diam-diam aku melihatnya dari kejauhan didalam kelas 9A. Cuma sebatas itu yang mampu aku lakukan dulu, jatuh cinta sendirian, dan menikmati rasa seneng dan sakitnya sendirian.

Dan hari selasa itu, aku duduk didepan dia, tanpa peduli pada temannya yang duduk disamping dia, semakin dewasa, semakin semuanya dari dia yang aku lihat. Obrolan pun ngelantur kemana-mana sejak 2005 aku kenal dengan dia, hari selasa itu aku punya waktu jauh lebih banyak dari yang pernah terjadi sebelumnya. Pertama kalinya aku bisa duduk didepan dia dan memandangnya dalam-dalam, memandang lebih dekat dari yang pernah terjadi sebelumnya.

Selesai makan disana, aku dia dan temennya, berangkat bersama kesebuah game station. Rasanya dia sangat lepas, tertawa,dan ini untuk pertama kalinya juga aku menemaninya bermain seperti ini. Harus aku akui, ini salah satu hari spesial yang akan terus teringat dikepalaku, tanpa harus aku menghafalkannya. Tapi buat dia, ini hanya sekedar hari biasa yang ia lewati sehari-hari, hari yang sama sekali ngga perlu diingat sedikitpun.

***
Hari itu berlalu begitu saja, tak ada interaksi lainnya, aku masuk lagi keduniaku, mengerjakan hal yang dulu pernah aku cita-citakan. Dan dia, entahlah. Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan pacarnya, atau sibuk-sibuknya kuliah dengan teman-temannya, mempersiapkan apa yang telah ia impikan dimasa depan.

Sampai hari ini masih sama, aku dengan duniaku. Dan dia tengah sibuk dengan dunianya, hanya terkadang twitter jadi tempat komunikasi antara aku dengan dia belakangan ini. Yap, sesekali aku mention karena ditengah kesibukan aku bekerja, salah satu refreshing yang bisa aku lakukan dibalik laptop dan perjalanan dari Mess ke proyek hanyalah mentengin time line walau kadang sangat jarang ngetweet, sering kali aku dapati dia dengan semua masalahnya tertulis di twitter, dan sesekali aku coba mention, mencoba seolah aku lucu dengan mention-mention ngga jelas, terkadang dia balas semua mention-mention itu, terkadang sampai seminggupun ngga pernah dibalas.

Entah apa yang tengah aku lakukan, terkadang aku merasa aku sedang jatuh cinta pada dia, jatuh cinta diam-diam jatuh cinta sendirian, bukan karena takut, aku diam. Seolah aku suka padanya dan ngga berani mengungapkannya. Dulu, lama sekali aku pernah mengatakan padanya, mengatakan semua yang aku rasa padanya, lalu kalimat klise pun muncul “aku sayang kamu sebagai seorang sahabat”.

Setelah semuanya, hanya merusak hari-hariku saja, bersyukur dengan jadwal sekolahku yang dulu sangat-sangat sibuk, aku bisa sedikit demi sedikit menetralisir rasa sakit itu. Aku mencoba kenal dengan semua perempuan lain. Yang entah kenapa aku hanya bisa bertahan dua minggu terhitung jadian lalu putus. Dan hanya sekali dengan yang terakhir, aku bisa tahan pacaran dengan dia lebih lama, walau ngga sampe satu tahun. Terkadang aku muak dengan hubungan yang semacam itu.

Sampai hari inipun aku masih diam, membiarkan orang lain coba menerka, apa yang terjadi dengan aku beberapa tahun belakangan, aku menikmati sekali hidupku beberapa tahun belakangan. Cuma terkadang dia yang tiba-tiba muncul di timeline, atau dia yang tiba-tiba change display picture di bbm recent update, bahkan foto dengan lelaki yang dia sebut pacar, aku hanya tiba-tiba ingat pada hari-hari yang telah berlalu itu. Aku masih tertawa dengan yang lain, aku masih jadi maskot trouble maker dikomunitasku. Tapi awan hitam serasa turun ketika dia dia dan dia lagi yang tiba-tiba muncul, entah kenapa aku orang yang seneng sekali menjaga perasaan orang lain meski harus nyakitin perasaan sendiri, dan aku tau sering kali aku nyakitin perasaan orang lain denga kata-kataku. Dengan semua mantan aku baik-baik saja, bahkan sampai hari ini aku masih berkomunikasi dengan baik.

Dan dengan dia yang bukan pernah jadi siapa-siapa, hanya seorang teman. Tidak mungkin aku harus melupakan dia seutuhnya, salahnya apa?. SALAH? Jika dia memang benar-benar ngga suka pada aku? Ketika dia request friend di facebook, dan follow ditwitter apa aku harus tekan ignore atau block?

Walau pada akhirnya aku tau, ketika aku approve atau follow akun dia, hanya akan mengingatkan aku pada awan-awan kelabu yang tiba-tiba turun itu.

Lantas salah?
Jika aku jatuh cinta pada orang yang sama sekali ngga mencintai aku?
Lalu apa dia salah?
Walau selama ini dia ngga pernah suka sama aku?
Lalu apa aku salah?
Mencintainya diam-diam, mengingat setiap gores kenangan.
Dan apa dia salah?
Tidak pernah sadar dengan semua ini?

Bahkan kenangan itu sama sekali tak mau hilang, aku masih saja mengingatnya, mengingat kepingan demi kepingan. Aku masih ingat, ketika sesekali aku mulai bisa mengeja nama dia, karena rasanya susah untuk berkenalan dengan dia. Aku harus menunggu sampai kelas tiga untuk berani menyebut namanya utuh. Aku masih ingat cara dia menatap, aku masih ingat cara dia menatap lelaki yang dia suka, aku masih ingat ketika dia berdua dengan teman sebangkunya melirik kepadaku selama jam pelajaran dihari pertama aku memakai kacamata, aku masih ingat ketika aku bertanya apa dia punya handphone, lalu ketika jam istirahat aku lewat dibangkunya, dia memberiku secarik kertas yang berisikan nomor handphonenya, lalu aku hanya menyimpan nomor itu, aku masih ingat ketika dulu aku mencoba mengais sesuatu didalam kaleng, dan tiba-tiba saja dia datang dan menggodaku, aku masih ingat setiap lipatan jilbabnya, aku masih sangat ingat, wajahnya yang basah oleh wudhu ketika shalat dzuhur berjamaah di mushalla sekolah.

Aku masih ingat, senyum puasnya bersama perempuan lain dikelas, karena semua laki-laki didalam kelas unjuk rasa dengan bolos shalat berjamaah karena guru-guru jarang sekali yang ikut berjamaah.

Aku masih ingat ketika pelajaran kesenian, beberapa orang terbaik dari setiap tokoh sebuah drama dimainkan didepan kelas tampil kedepan, aku dipilih menjadi pameran utama terbaik, dan dia menjadi ibu si pameran utama, bahkan dalam sebuah drama dikelas pun, aku dan dia hanya sebatas ibu dan anak.

Salah?
Apabila aku masih mengingat setiap detil-detil itu?

Atau mungkin juga salah?
Lalu apa yang benar?
Jika semuanya salah?

Lalu setiap pertanyaan itu hanya berputar-putar diporos yang sama, kembali lagi kesana, aku tau dia tidak akan pernah menjadi milikku, dan hari inipun aku sama sekali sudah tidak mengharapkannya lagi, lalu kenapa awan-awan kelabu itu datang dan datang lagi. Bahkan setelah aku tidak punya hasrat lagi untuk memilikinya.

Sampai pada akhirnya alasan logis muncul.
Kertas yang telah ditulis bahkan dengan pensil sekalipun, ketika ternyata itu salah, dan kita berusaha menghapus sebisanya, tetap pensil itu akan meninggalkan jejak.
Kertas bersih putih, jika dilipat lalu diletakkan dibawah kaki meja bertahun-tahun, ketika dibuka kembali, pasti akan meninggalkan jejak dan remuk. Sama hal nya dengan itu, betapa aku sadar aku salah telah menulis nama dia disatu lembaran awal buku yang aku buka, lalu aku mencoba menghapusnya setiap hari. Kertas itu hanya semakin tipis dan tak lagi menemukan bentuk awalnya.

Tetapi pertanyaannya, kenapa aku masih memegang kertas yang telah rusak itu?
Seharusnya aku sudah buka lagi lembaran-lembaran baru, yang mungkin jauh lebih putih, kenapa aku tidak begitu tega merobek kertas itu lalu aku buang jauh-jauh?

Entah lah,
Mungkin nanti, akan ada yang merobekkan kertas kusam itu untukku, aku juga telah lelah, kisah ini juga sudah terlalu basi untuk terus saja aku ingat. Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapapun, dan hari ini. Aku menulisnya, mengumpul aksaranya menjadi beberapa keping kalimat, untuk aku lihat-lihat lagi dimasa yang akan datang. Apakah kisah ini akan tetap basi.

Lalu pertanyaan lain muncul.
SALAH?

Jika aku menunggu seseorang untuk mencabik-cabik selembar kertas itu dibuku kehidupanku?

Suatu saat aku akan menulis sesuatu tentang dia.
dongeng tentang payung dan hujan..

cerita tentang payung dan hujan

gambar :
gambar 1
gambar 2

17 comments:

  1. Replies
    1. walah, ntar han bingung pula ini siapa ^^ -hime-

      Delete
    2. Ah, blogspot saya sudah terhapus rupanya...

      Delete
    3. bukan apa apa hime,

      ini hanya tentang cerita yang seharusnya sudah lama dibuang.. :)

      Delete
  2. Nggak SALAH sih, cuman PEDIH...
    hehehhehe, salam salah, ehh salam kenall..

    ReplyDelete
  3. hmmm.. kapan sich hana mau move on...

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah lama move on nya..

      nulis salah satu langkah move on :D

      Delete
  4. selamat sore, salam persahabatan...

    ReplyDelete
  5. salam, silahkan mampir ke blog saya, atau ke https://play.google.com/store/apps/details?id=air.PuzzleBarbie ada puzzle untuk mengasah kecerdasan anak anak. download gratis, siapa tau punya,keponakan,adik atau saudara kecil yang lainnya, semoga bermanfaat., ditunggu kunjungannya, trm ksh.

    ReplyDelete
  6. hallo gan ^_^ salam blogger

    ReplyDelete
  7. wow. sebuah dongeng yang sangat Menginspirasi...

    ReplyDelete
  8. suka kak :)
    ngga salah, cuma waktunya yang belum tepat. hhaha
    -salam kenal kak-

    ReplyDelete