Friday, 18 January 2013

Tentang Uni dan Perihal Baju Dinas


Kata-katanya sederhana. Tapi juga menusuk aku yang sebenarnya bukanlah objek sindiran Ayah pagi itu. Pagi yang berbeda ketika Ika adikku paling kecil sedang tidak dirumah, yang ada hanya aku dan Uni.

“baa ka bangga wak ko haa.. pagi-pagi anak wak lah pakai baju dinas sadoalah e.. baju dinas ayah ma?”

Mungkin yang mendengar hanya akan merasakan sedikit rasa bangga, tapi dari tiap penekanan disetiap katanya. Aku tau ayah sangat merasa bangga punya anak yang punya pakaian dinas. Aku memang tak pernah merasa apa yang aku raih aku dapatkan sendiri dengan kemampuanku, aku sangat sadar, ada bayang-bayang ayah yang selalu sedari dulu menopang aku yang rapuh, Ayah yang mengangkat aku tinggi-tinggi hingga aku dapat menjangkau semua mimpi yang ada dalam anganku.

Aku hanya tersenyum sedikit getir mendengar hal itu, disatu sisi aku sangat merasa bahagia, sempat melambungkan Ayah dalam sebuah rasa yang mungkin suatu hari dulu pernah ia impikan, ketika aku didekap dalam pangkuannya, mungkin ayah menatapku dalam ketidak tahuanku dulu, berharap aku menjadi seorang berguna, meski hanya untuk orang-orang yang berada disekelilingku.

Disisi lainnya itu hanyalah sindiran Ayah untuk uni, pagi itu baju dinas paginya masih tergantung rapi disalah satu paku yang menancap kedinding, baju itu berwarna biru, seragam Bank milik negara dan bisa dikatakan selalu berada digaris depan antara Bank besar lainnya.

Aku rasa sangat besar perjuangan uni untuk bisa mendaftarkan namanya disalah satu daftar absen pegawai di Bank itu. Dan bagaimanapun, tanpa sepenuhnya dia tahu, ada Ayah yang punya harapan besar ketika uni menjalani semua test dan berhasil menjadi salah satu yang terbaik. Uni selalu beruntung, dari dulu selalu berada dikalangan orang-orang terbaik.

Mungkin rasanya sangat menjengkelkan, ketika kita mulai merasa, ada tangan lain yang membantu setiap sukses yang kita rasa, tapi itu lumrahnya, tak ada orang yang sukses tanpa orang lain.

Maksud Ayah menyindir, hanya karena dia sedikit  kecewa dengan jalan yang telah dipilih uni. Jika berjalan lancar, usai pernikahannya nanti, uni ingin ikut calon suaminya yang bekerja di jakarta. Tapi jalan yang dipilih uni masih sangat lumrah, hal yang sangat wajar sekali untuk seorang wanita untuk ikut suaminya kemanapun suaminya akan pergi.

Beberapa bulan belakangan aku memang lebih banyak memilih diam, aku sudah terlalu masuk jauh dalam kehidupan uni, aku terlalu banyak mengaturnya, mungkin dia juga jengah. Mendengar cerca dari aku adiknya yang seharusnya tidak mengeluarkan kata-kata yang membuatnya sakit hati.

Siapa aku? Apa aku lebih mengerti dari dia?. Grade aku mungkin masih sangat jauh dibawahnya, apa yang aku katakan selama ini mungkin saja hanya sok tau agar terlihat hebat olehnya.

Yah aku hanya akan diam sampai semuanya benar-benar indah pada akhirnya, aku tau uni punya alasan yang kuat untuk memilih jalan yang bahkan ayah dan ibupun sedikit ada rasa kecewa dengan pilihan uni tersebut, mungkin memang berat bagi uni atas semua pilihan-pilihan yang mengelilingi uni bulan-bulan yang lalu, uni punya rasa cinta, uni punya lelaki yang benar-benar dia cintai, dan aku juga sangat yakin tak sedikitpun terniat dihati uni untuk mengecewakan ayah dan ibu, aku bisa lihat, ketika aku dan uni jauh dari rumah, setiap perpisahan dengan rumah bahkan hanya beberapa detik aku bisa lihat tatapannya yang rindu pada ibu, hatinya yang benar-benar mencintai ibu, aku bisa lihat itu.

Tapi hanya untuk disekedar diketahui, ayah ibu adalah orang paling demokratis didunia, selama itu masih benar-benar logis dalam fikirannya ayah dan ibu ngga akan pernah melarang apa yang anak-anaknya mau, kami dibiarkan saja berkembang sendiri tapi tetap dalam pengawasan dan bimbingannya yang sangat tegas, mungkin itu yang membentuk pribadi kami yang benar-benar dijadikan “orang” oleh ayah dan ibu.

Hari ini sudah nyaris sebulan setelah ayah resmi menikahkan uni dengan orang yang benar-benar telah sah menjadi suami uni dan kakak iparku. Dan lagi, rumah ayah dan ibu sepi lagi, perihal baju dinas, aku masih memakainya, dan senyum ayah selalu berbeda ketika aku mengenakan pakaian dinas itu, aku senang melihat senyuman itu, pakaian dinas uni, sudah dipensiunkan kedalam lemari.

Hari ini uni sudah dijakarta tinggal bersama suaminya, fase baru dihidupnya telah dimulai, waktu akan berangkat kejakarta kemaren ibu ikut mengantar uni kejakarta, dan aku sangat yakin. Dibandara ketika ibu akan pulang kembali kerumah, uni pasti nangis abis-abisan saat ibu sudah masuk kebandara. Uni masih cengeng dalam hal-hal seperti ini.

Selamat menempuh kehidupan yang baru ya uni, bersama pria beruntung yang telah uni pilih, semoga semuanya baik-baik saja, aku sama sekali ngga mau lagi nge-judge uni, aku punya pesan sederhana. Sangat sederhana untuk uni satu-satunya didunia, uni yang juga tempramen seperti ayah, uni yang suka menindas aku ketika masih kecil, uni yang berlagak bos ketika waktu kecil kita main bersama, uni yang juga sama keras kepalanya dengan ayah, dan ketika jauh dari rumah, ketika kita sama-sama kos dikota padang, uni juga sangat lembut seperti ibu, tapi tetap aku sangat tidak suka dipanggil “dik sayang..” -_- aku benci panggilan itu.

Uni tau kan? Apa yang terjadi dibulan-bulan sebelum pernikahan uni, mungkin tak perlu han jelaskan lagi apa yang terjadi, berkat kesabaran dan ketegaran uni semuanya alhamdulillah jadi lancar, memang ada sedikit kecewa dari orang-orang terdekat.

Jadi pesan sederhana han ialah. Jika banyak yang kecewa dengan jalan yang uni pilih, bahkan ayah dan ibu juga menyayangkan uni harus meninggalkan pekerjaan uni yang lumayan menjanjikan. Mulailah berfikir melingkar.

Sederhananya begini “Bahagiakan Ayah dan Ibu dengan jalan yang telah uni Pilih”.
Buktikan jalan yang uni pilih adalah jalan yang paling tepat untuk semuanya, untuk uni, suami uni, Ayah, Ibu dan semuanya. Jika hari ini mereka kecewa, buktikan suatu hari nanti mereka akan merasa lebih kecewa jika uni tidak memilih jalan yang telah uni pilih.

Sederhana ‘kan?
Ingat ini terus yah uni, bagaimanapun..
Han meminta pada uni,

BAHAGIAKAN AYAH DAN IBU DENGAN JALAN YANG TELAH UNI PILIH..


28 comments:

  1. so swit :')
    bahagia itu emang sederhana

    ReplyDelete
  2. memang, hanya orang yg menalani saja yg bisa merasakan apa itu arti bahagia, kita sebagai org luar yg tidak menjalani hanya bisa memberikan sara, dan tidak memiliki hak untuk menetukan arah hidup yg ingin or gitu pilih

    namun apapun yg dipilih uni mu, smoga itu bisa membuat uni mu menjadi lebih bahagia ya, di doakan saja ...

    amiinn

    :)

    ReplyDelete
  3. semoga ia bahagia dgn pilihan yg telah diambilnyaaa :-)

    ReplyDelete
  4. semoga apa yang dipilinya menjadi jalan kebahagiaannya dan kebahagiaan orang tua... :)

    ReplyDelete
  5. uda han ko urang awak jo?
    ndeh ba'a beko awak nan jadi pengantin?
    salamaik yo uni nyo uda han:)

    ReplyDelete
  6. adik yang baik :')

    saya juga meninggalkan bermacam2 pekerjaan saya setelah menikah, and after married, I get much better happiness than I've ever felt before, alhamdulillaah.. saya yakin, uni-nya Han juga merasakan hal serupa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi mbak..

      amin.. semoga bahagia,,

      Delete
  7. hem jadi cerita dan gaya tutur kamu sepertinya ada sesuatu peristiwa yg sedang kamu tutup2i dan sembunyikan apalagi setelah melihat poto pernikahan uni kamu, seperti tergores sesuatu pesan yg hanya dipahami seorang wanita, lihat saja poto antara mempelai laki2 dan perempuan seperti ada gep kebahagian, dari senyum dan raut wajahnya, tapi itu menurut analogi saya dari psikologi gaya bahasa dan poto lo

    ReplyDelete
  8. Kalau Prinsip individualisme, biarlah uni menentukan jalan hidupnya sendiri, toh ia juga yang akan merasakan pahit manisnya hidup yang dilaluinya. orang lain boleh komntar buruk tentang uni tapi apakah mereka merasakan kebahagiaan uni? tidak kan?

    prinspi kekeluargaan itu yang super banget kalo menuruk aku.
    kita saling mengingatkan, menasehati, berbagi ceria, suka cita, pahit-manis, dan tentunya mendapatkan perhatian lebih.

    karya tulis yang amat baik? kalau novelnya udah jadi. aku pesan yah! salam persahabatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. walahh..

      belum terniat sedikitpun om mau dijadiin novel,

      gue pengen sih jadi penulis,
      doain aja yaaaaa

      Delete
  9. hadeeh.... ini bukan masalah keluarga, kan? kalo maasalah keluarga, aku gak berani ikut2 ya... hanya kamu dan anggota keluargamu yg bisa menentuka. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha

      cuma ngasih semangat buat uni kok..

      Delete
  10. yuupppp,, stuju,, membahagiakan mereka dgn jalan dan cara kita,, stiap anak punya prinsip dn opini sendiri,, namun trkadang org tua tak paham,, dan kita sebagai anak lah yg harus bs memahamkannya,,^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. yapp..

      tunjukkan dengan sikap,
      ngga usah pake urat leher menunjukkannya.. :D

      Delete
  11. cara membahagiakan orang tua kalo uni udah nikah gmana bang? kan udah tinggal jauh2an

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduhhhhh

      cuman ninggalin pesan gitu doang kok,
      cuman bagaimana caranya belon kepikiran nih,

      ntar deh,
      kalo udah kepikiran dibikin lagi dipostingan yang lain,,
      hehehe

      Delete
  12. cuhaaann jaek maaahhh...
    nangis uni meri dek nyo ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bialah,

      nyo ndak namuah manunjuak an han UAS matematika do :p

      Delete
  13. yakinlah kalo semua yg Uni km pilih itu adalah yg terbaik :)

    ReplyDelete
  14. Semoga aja jalan yang dipilih Uni itu sudah dipikirkannya matang-matang, biar kelak rasa kekecewaan ibu sama bapak ga bertambah besar. Hidup emang pilihan dan setiap yang dipilih itu pasti ada kensekuensinya masing-masing. Uni sudah bijak memilih dan dia pasti sudah mempelajari dan tau resikonya. Tinggal mendoakan saja lagi, biar semuanya baik-baik saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yappp

      sebagai adeknya gue akan mendoakan :D

      Delete