Wednesday, 22 July 2015

Delapan Tahun Kemudian

Selamat Lebaran semuanya, Mohon maaf lahir bathin. Hari ini Rabu 5 hari setelah lebaran, instansi Pemerintah sudah mulai masuk kerja hari ini dan ada beberapa perusahaan swasta yang bergerak dibidang produksi, marketing dan perbankan sudah memulai aktifitasnya kembali. Jalanan yang kemarin rame oleh mobil-mobil pribadi menuju tempat wisata, hari ini terlihat berkurang dan jalanan mulai dipenuhi oleh angkutan umum untuk sekolahan dan beberapa truk besar yang mulai membawa banyak Sawit.

Saya punya 3 orang keponakan yang memulai hari pertama mereka sekolah hari ini, Vendra, Levi dan Abid. Buat mereka bertiga saya ingin mengucapkan. Bersiap nak, kalian akan menemukan puluhan nama baru generasi kalian menuju masa depan sebagai pemimpin nantinya, kalian akan mulai merindukan hari pertama ini nanti 12 tahun kemudian. Saya sempat bertemu Vendra dan bertanya bagaimana hari pertama sekolah? Apa sudah punya banyak teman?. Dan dia bilang “Belum ada yang kenal” dalam hati saya bilang, suatu saat nanti kamu bakalan merindukan orang-orang yang belum kamu kenal itu.

Hal yang seperti itu juga yang membuat rasa rindu ini terbakar delapan tahun kemudian setelah saya dan teman-teman yang lain lulus di MTsN Simpang Ampek. Sebenarnya saya sudah ingin menulis cerita-cerita pertemuan ini beberapa tahun yang lalu, namun dikarenakan waktu liburan yang sedikit singkat dan sepertinya belum begitu meninggalkan bekas khusus dihati saya membuat saya kehilangan inspirasinya untuk menulis tentang cerita ini, entah generasi keberapa. Tapi kita kelulusan tahun 2007.

Salah satu alasan kita untuk berkumpul adalah “Buka Puasa Bersama”. Sepertinya tradisi ini sudah dimulai ketika yang lain masih SMA, dan saya sendiri setelah lulus Mtsn lebih memilih hilang dari peredaran selama tiga tahun, dan baru mulai ikut dalam acara buka puasa bersama itu pada tahun 2011 yang lalu. Pada tahun itupun saya masih merasakan hal yang biasa, belum ada kesan apa-apa setelah lama tidak bertemu.

Ada ungkapan yang ingin saya sampaikan. “Im not part of their drama”. Yaa kira-kira begitu, dulu ketika masih bersekolah di Mtsn saya bukan tipikal orang yang sangat suka bersosialisasi, saya lebih memilih untuk diam dan menjadi saksi-saksi cerita mereka yang punya nama diantara yang lain. Jika kehidupan sekolah itu adalah sebuah FTV maka saya adalah pameran pendukung yang mungkin menjadi orang yang lewat dalam sebuah scene lalu habis begitu saja.

Jadi intinya sedikit banyaknya saya tau kisah teman-teman saya tetapi mereka tidak begitu tau tentang saya. Yang mereka ingat tentang saya hanyalah, saya adalah satu-satunya orang yang rumahnya sangat dekat dengan sekolahan, dan nama ayah saya sangat begitu populer dikalangan mereka. Jadi jika mereka lupa dengan sosok yang bernama hanafi, ketika mereka menyebut nama ayah saya. Mereka akan segera ingat. Begitulah kira-kira, ayah saya jauh lebih populer dibanding saya yang benar-benar berteman dengan mereka. Baru sadar kalau saya begitu menyedihkan dulu.

Tapi setidaknya saya bisa menyimpan sendiri, kisah-kisah saya mulai jatuh hati kepada beberapa wanita diantara mereka, dan ini begitu lucu. Saya sangat takut mengungkapkan rasa yang saya punya kepada orang yang bersangkutan. Saya lebih memilih jatuh cinta pada jadwal piket yang mempertemukan kami untuk pulang lebih telat dibanding yang lainnya, saya lebih memilih mencuri pandang pada dia yang begitu serius memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung. Atau terakhir dikelas tiga, saya masih begitu ingat pelajaran fisika diakhir jam belajar itu. Entah kenapa hanya aku dan dia yang tinggal dikelas, lalu aku dan dia berjalan keluar dari sekolah berdua. Hanya berdua dan entah kenapa sampai hari ini perasaan itu masih sangat menyenangkan!

Lalu perjalanan kemarin menjadi begitu menyenangkan untuk kali ini, lima tahun ini saya mulai dekat lagi dengan mereka semua. Dimulai dari pertemuan 2011 itu, lanjut ke acara buka puasa bersama pada tahun 2012 dan acara jalan-jalan yang begitu menyenangkan ditahun itu, lalu buka puasa bersama lagi pada tahun 2013, entah kenapa puasa dan lebaran menjadi momen yang begitu berharga bersama mereka, saya lihat sejauh ini saya dan mereka mempunyai ikatan yang lebih dan sangat kuat dibanding ikatan dengan teman-teman SMA mereka, entahkah hanya perasaan saya saja atau memang begini adanya.

Untuk alasan yang tidak jelas, pada tahun 2014 kita tidak lagi membuat acara berbuka puasa bersama, tahun 2014 menjadi sedikit aneh puasa dan lebaran tanpa mereka. Lalu pada bulan puasa kemarin Ryan yang juga teman saya dari SD mulai membuka diskusi tentang buka puasa bersama di group BBM yang kita punya. Awalnya hanya sedikit yang respon. tetapi beberapa hari kemudian mereka mulai rame membicarakan perihal ini, awalnya acara buka puasa bersamanya akan dilaksanakan lebih cepat dan akan diadakan di Rumah Makan Asep salah satu alumni seangkatan juga, namun dikarenakan kebanyakan diantara mereka yang bisa mengikuti acaranya pada H-4 maka jadwalnya diundur mendekati lebaran.

Dan ternyata pada hari yang ditentukan Rumah Makan milik Asep sudah tutup. Tiba-tiba Dhio dan Aal menghubungi saya dan berencana akan melaksanakan acara buka puasa bersamanya dirumah saya. Saya berpikir sepertinya ini bakalan menyenangkan. Saya langsung mengiyakan walaupun saya baru mulai libur sehari sebelum hari yang ditentukan.

Tidak terasa hari yang ditentukanpun datang, saya sampai dirumah dan langsung pusing melihat rumah yang berantakan yang nyaris 2 bulan ditinggalin Ibu pergi ke Jakarta, rumput yang baru dipotong Ayah masih berserakan didepan rumah. Saya membersihan halaman rumah sampai kehausan, untung masih kuat sampai buka puasa, ternyata saya salah hari saya pikir hari itu juga akan ada buka puasa bersama, ternyata besok harinya. Lalu saya datang ke rumah Ryan, ternyata disana udah ada Dhio tidak lamapun Rya dan Vino datang, lalu kami membahas untuk acara besok, saya dan Ryan dapat tugas buat menyediakan Konsumsi untuk buka puasa dan makanannya.

Happy Banget 
Sebenarnya acara tersebut lebih banyak ke acara foto-foto selfie-nya dibanding buka puasa bersamanya, dari kemungkinan yang akan datang sebanyak 35 orang, alhamdulillah yang berkesempatan hadir mencapai 34 orang, saya seneng banget walau acaranya kayak pasar, ribut mulai dari buka puasa sampai selesai jam 9 malam. Yang menyenangkan lagi Ice membawa anaknya yang lucu keacara ini. Saya tidak menyangka, delapan tahun kemudian acara buka puasa bersamanya sudah dihadiri oleh seorang bayi lucu.

Ngumpul Dirumah Ice
Malam itu berakhir dengan sangat sangat sangat menyenangkan. Namun setelah lebaran ada hal yang lebih menyenangkan lagi, awalnya saya yang mencoba membuka diskusi tentang jalan-jalan yang akan kami adakan setelah lebaran, beberapa lama tidak ada yang komentar, lalu saya kirim BBM ke Rya agar memberi komentar untuk itu, setelah pembahasan yang panjang selama 2 hari dan pada hari senin kami berkumpul silaturrahmi ke rumah teman-teman, dan lengkap dirumah Dhio akhirnya diputuskan besok paginya kami berencana berangkat jalan-jalan ke PUNCAK LAWANG!

Ngumpul Dirumah Dhio
Hanya 18 orang saja yang bisa ikut dalam acara tersebut, Saya sendiri, Ryan, Zia, Yoyo, Asep, Riky, Dhio, Riko, Aal, Vino, Aan, Reza, Dahlia, Tila, Rya, Rini dan sikembar Opa Opi. Janjinya berangkat jam 7 pagi dan alhamdulillah akhirnya jam 10 siang berangkat juga. Ngaretnya sungguh keterlaluan. Sebelum masuk ke puncak lawang, kita berhenti shalat dulu dan membeli bekal makan siang. Sesampainya diatas tukang parkir malah mengarahkan kami ketempat parkir yang jauh banget. Sehingga kami harus jalan kaki, mulai dari tempat parkir sampai ke tempat pendakian puncak lawang!

Ceritanya Nanjak Gitu
Hari itu bener-bener hari gila-gilaan yang pernah saya lakukan dengan mereka, sepertinya sampai nanti sudah menikah sekalipun, kami bakalan melakukan hal-hal bodoh yang menyenangkan seperti itu, semoga begitu selamanya!

18 Lengkap!
Dalam perjalanan pulang, dari tiga mobil yang kami bawa, orang-orangnya di change kembali. Jadilah susunannya dimobil yang saya tumpangi ada saya, lalu Vino yang punya mobil ada Ryan, Tilla dan Reza. Karena mobilnya Vino hanya muat untuk 5 orang saja!, yang menarik dalam perjalanan pulang itu adalah sepertinya kualitas pembicaraan semakin jauh pendewasaannya, sehingga saya merasa. Percakapan malam itu seperti percakapan saya dan rekan Proyek dulu ketika sedang ngopi. Sharing hal-hal dari segala macam sudut pandang. Dan buat saya ini menyenangkan! Engga kerasa dari dulu yang hanya bisa ngomong masalah cinta monyet, malam itu kami bicara tentang nikah dan segala macam tetek bengek nya kedepan.  Dan sepertinya saya bakalan merindukan pembicaraan ini setahun kedepan ketika kita punya waktu lagi untuk ngobrol dan pergi bersama.


Engga kerasa, kita sudah tumbuh bersama mulai dari remaja sampai hari ini, banyak diantara kita yang sudah menikah, banyak diantara kita yang sudah punya anak. Bahkan sudah ada yang punya 3 orang anak. 8 tahun rasanya berlalu begitu saja. Banyak diantara kita yang sudah menemukan jalan hidup yang akan kita tempuh. Harapan saya sederhana, semoga kita bisa melakukan lagi hal-hal bodoh yang menyenangkan ini bersama sampai nanti. Semoga cerita ini tidak hanya sampai 8 tahun kemudian ini saja, semoga cerita ini sampai kebeberapa puluh tahun kemudian. Amin.

Menyenangkan :D

No comments:

Post a Comment