Thursday, 11 December 2014

Dekat

Teng teng teng, tiga kali lonceng berbunyi di siang panas begini sudah pasti itu tandanya akan pulang, proses belajar mengajar yang tadi tenang tiba-tiba menjadi berisik, ada yang mengemas buku-buku bahkan sebelum guru didepan memberi aba-aba apakah sudah boleh berkemas dan boleh pulang atau tidak.

Setidaknya itulah momen paling menyenangkan selama 12 tahun belajar di sekolahan. Jam pulang sekolah, yang padahal sebenarnya ketika kita sudah sampai dirumah, malahan bingung kegiatan apalagi yang bakalan dilakukan. Dan rindu lagi balik ke sekolahan. Sifat manusia seperti ini yang saya ngga ngerti, sama halnya dengan ngga ngerti dengan kemauan diri sendiri itu apa.

Malam ketika saya menulis ini, salah seorang teman bertanya. “Gimana ya rasanya? Bangun tidur, dilingkungan kantor, lalu ketika sore semua orang pulang dari kantor, kita masih duduk di kursi kantor. dan ketika malam, balik ke kamar dibelakang kantor yang notabene masih satu bangunan dengan kantor”.

Well, memang itulah yang terjadi dengan saya saat sekarang ini, sudah hampir dua tahun saya tinggal di kantor cabang Sumatera Barat ini. Jadi meski saya kerja dikantor, jangan tanyakan ke saya gimana rasanya datang terlambat atau terjebak macet, hujan atau halangan menuju kantor lainnya. Sama sekali saya ngga pernah rasakan hal-hal semacam itu.

Sebenernya ini sudah agak lama mengganggu saya, ketika sore datang. Pak De mulai menyalakan lampu setiap sudut ruangan kantor. Satu persatu rekan kerja mulai pamitan, dan entah kenapa mereka semua pamitan kesaya. Memang saya seperti penghuni tetap kantor ini, tapi terkadang rekan-rekan dari proyek juga sering tidur di kantor ini, ada banyak kamar yang minta ditiduri di kantor ini.

Bukan terganggu oleh mereka yang pamitan, tapi saya juga pengen ngerasain yang namanya pamitan “pulang”, rasanya berbulan-bulan saya ngga bilang kata-kata itu ke orang-orang. Makanya ada waktu-waktu menyenangkan buat saya dalam 2 kali seminggu atau sekali beberapa bulan. Entah kenapa waktu paling menyenangkan itu adalah waktu ketika pulang. Ada dua waktu pulang paling menyenangkan dihidup saya beberapa tahun belakangan ini.

Pertama adalah pulang kuliah, ketika perlahan matahari mulai terlihat terbenam di samudera hindia terlihat jelas dari gedung kampus. Ketika mata kuliah habis, semua berjalan keluar diiringi becandaan bersama teman-teman kuliah yang lain menuju parkiran motor, matahari makin tenggelam, langit tadi yang tampak begitu biru berubah agak sedikit kelam, jika tatapan arah ke barat, langit jingga dan awan berarak begitu sempurna terlukis di kanvas langit, berikut beberapa burung-burung yang juga “pulang” dikala petang. Dan entah kenapa saya begitu menikmati perjalanan beberapa menit dari kampus menuju kantor itu yang mungkin hanya berjarak tak sampai 5 KM. Tapi rasa menyenangkan didalam hati itu ada, walau hanya dua kali dalam seminggu. Yaitu pada hari sabtu dan hari minggu.

Kedua adalah go home yang benar-benar home, ada yang pernah bilang “you can buy a House, but you can’t buy a Home” yaaak, pulang kerumah yang benar-benar rumah. Apapun kesulitanya, berapa lama pun  perjalanannya, bahkan jika niatnya memang pulang. Saya biasanya pulang dengan motor kira-kira 4 – 5 jam perjalanan dari kota Padang, jadi yang namanya hujan bukan lagi halangan, tapi sahabat. Saya merasa hujan bentuk euforia langit mengapresiasi perjalanan saya, perasaan saya bilang “Hey boy, Godbless you” langit bilang begitu. Pamitan untuk pulang seperti ini menyenangkan. Perjalanan saya pastikan akan menyenangkan. Misi terakhirnya adalah. Saya akan membuat status “sweetest palace” di blackberry messenger saya. Ketika saya sudah sampai dirumah yang benar-benar rumah.

Lalu kenapa judul postingan saya kali ini “dekat”, saya berpikir ini selalu terjadi dikehidupan saya mulai dari saya taman kanak-kanak sampai sudah bekerja sekarang ini. Ketika sekolah TK, pulang itu menyenangkan memang. Dari mobil angkutan khusus TK saya itu dulu, entah kenapa saya menjadi orang pertama yang diantar entahkah memang rumah saya sangat dekat dari sekolahan atau entah kenapa. Jadi rasanya pulangnya aneh, ngga kayak pulang sekolah biasa. Saya ngga dapatkan EUFORIA pulangnya.

Ketika TK itu, kira-kira saya berumur 5 atau 6 tahun. Ayah udah beli tanah dan bangun rumah sendiri, jadi rumah ayah sekarang makin jauh menjadi 1,5 km dari pusat kota kabupaten saya. Saya lulus dari TK dengan nilai matematika yang membanggakan, sehingga ibu selalu menyebut itu sampai beberapa tahun kedepan, dan saya ngga tau kenapa nilai matematika saya waktu TK itu bagus, sampai akhirnya saya sadari. SAYA NGGA SUKA MATEMATIKA.

Dibelakang rumah Ayah yang baru ada sebuah SD, tapi saya ngga mau sekolah disitu. Saya mau sekolah di simpang ampek saja, deket dari pusat kota, karena sebelumnya, kakak-kakak saya juga sekolah ditempat yang sama, katanya dulu Ibu juga sekolah disitu. Akhirnya saya sekolah disimpang Ampek 1,5 KM dari rumah saya, dan ternyata dari semua siswa angkatan saya. Sayalah satu satunya orang yang mengambil jalur jalan yang berbeda ketika pulang, ketika yang lain pulang ke arah pusat kota yang lebih rame, saya pulang berjalan sendirian sejauh 1,5 KM berbalik arah dengan jalan yang diambil teman-teman saya, kedua kalinya, saya merasa ini cara pulang yang salah. 6 tahun saya merasakan hal itu. Dan saya ngga pernah dapet yang namanya EUFORIA pulang.

Lulus dari SD, saya masuk kesalah satu MTsN yang sama dengan kakak-kakak saya bersekolah sebelumnya, dan gerbang sekolah tersebut nyaris PERSIS didepan rumah saya.Selama 3 tahun juga ketika saya berjalan keluar dari sekolah ketika pulang hanya beberapa menit saya sampai rumah, berbeda dengan teman-teman saya yang pulang berkelompok dan bergerombol kerumah mereka masing-masing, dan masih saya ngga dapetin EUFORIA pulang.

Sekolah tingkat atas, saya sekolah di Padang, 200 Km dari rumah saya. Dan perjalanan sejauh itu ngga mungkin banget saya harus bolak balik setiap hari, dan saya ngekos disalah satu rumah yang berjarak hanya 50 M dari gerbang belakang sekolah! Bahkan saya bisa bangun jam 7.00 pagi tanpa harus telat.Lumayan jauh kalo saya berangkat sekolahnya ngesot. Dan yang sedikit membuat berbeda kali ini hanyalah, 20 orang teman kelas saya selalu ngumpul di kamar saya yang sempit ketika jam pulang sekolah. Namun tetap saya belum bisa rasakan EUFORIA pulang.

Tiga tahun kemudian, hal sama masih terjadi saya bekerja dan tinggal dikantor, saya hanya dijarak oleh pintu. Sangaaat dekat! Jangankan euforia pulang, bahkan mengeja kata pulang pun sudah berbulan-bulan tak pernah saya lakukan! Hal ini yang membuat saya berpikir banyak sekali hal-hal yang dekat disekeliling saya. Apa memang saya takdirnya memang berdekatan? Berdekatan dengan sekolah, berdekatan dengan kantor, berdekatan dengan orang yang saya suka(?) ah mungkin yang terakhir tidak.

Lalu saya berpikir, terlalu banyak hal-hal dekat yang terjadi dalam hidup saya. Terasa pembagian yang jauh dan yang dekat ngga adil dihidup saya. Dan yang saya pahami sedikit, ya.. semuanya memang terasa timpang jika kita melihat dari satu perspektif. jangankan itu melihat dengan sebelah mata saja risalah jarak jadi terasa berubah.

Dan pada akhirnya saya pahami, dulu saya juga pernah bilang. Ditempat yang kita lihatpaling timpang sekalipun, kadang disanalah tuhan menyelipkan keadilan. Toh kita ngga pernah benar-benar tau.

Dan pada dasarnya semua hal yang ada ini diciptakan dalam keadaan seimbang, semua hal memang terasa DEKAT jika kita menutup mata untuk hal-hal yang jauh, sebaliknya semua terasa jauh, jika kita menutup mata untuk hal-hal yang DEKAT.


Mungkin nanti akan saya tulis tentang “jauh”.

No comments:

Post a Comment