Wednesday, 23 January 2013

Sikap


“Ri.. kamu pernah sakit hati ngga sih sama aku?”
“kenapa?”
“aku kan sering kurang ajar sama kamu”
“iya, tapi kamu kan becanda”

Dari mana harusnya kita mengukur tingkat kedewasaan?, entahlah. Beberapa hari ini aku merasa jadi orang asing, pada awalnya memang kita semua orang asing, tapi bukan ditengah-tengah orang yang kita kenal, bukan juga ditengah-tengah orang yang kita benar-benar peduli.

Mungkin tingkat kedewasaan itu ngga bisa diukur sama sekali, siapa orang yang bener-bener bisa menyatakan dirinya dewasa?.  Setelah aku sadar didesakkan pada kata dewasa, aku sama sekali ngga pernah berharap jadi dewasa.

Mungkin diam adalah pilihan paling tepat, diam adalah pilihan paling dewasa ketika ada orang yang secara gamblang menyatakan dirinya sakit hati pada kita. Tulisan ini memang sangat abstrak, aku orangnya memang sangat sangat sangat sensitif, jangankan masalah besar, masalah kecil aja bisa membuat aku kacau, dan menulis seperti ini bisa mengurangi sesak itu, MENULIS ABSTRAK.

Jujur saja, dimanapun aku berada ketika aku sudah mulai bisa beradaptasi dalam suatu lingkungan dan dekat dengan komunitas yang ada didalamnya. Sifat aku yang sebenernya bakalan keluar, aku ngga pernah mau mengakuinya, tapi aku adalah seorang trouble maker. Meribut dimanapun, didalam kelas, ketika diluar bersama teman-teman, bahkan diperusahaan tempat aku bekerja ini, orang-orang yang pernah satu tim denganku diproyek diseluruh sumatera ini, tau betapa trouble maker-nya aku.

Dan satu lagi, dalam hal caci mencaci sejauh ini Cuma beberapa orang saja yang bisa mengungguli aku. Dan ngga lain tujuan aku sebenernya Cuma buat becandaan doang kok, buat ketawa-ketawa sama-sama. Tapi dibalik itu semua, aku tau akan satu hal. Aku juga orang yang sering ngomongin orang. Ngomongin temen sekantor, ngomongin siapa aja.

Yaa namanya ngomongin orang, kita ngomongin tentang baiknya orangpun tetep aja dilarang dan dosa, yang penting namanya ngomongin orang. Nah semua didunia ini pasti ada timbal baliknya, ketika kita ngomongin orang, diluar sana pasti juga banyak banget orang yang juga ngomongin kita, itu pasti. Dan tentang itu juga, dari sifat dan cara kita bersikap pasti banyak yang suka dan banyak yang ngga suka bahkan benci. Barangkali sakit hati karena mereka bukan tipikal orang yang bisa dibecandain.

Mungkin sifat tak perlu kita ubah, sekarang bagaimana caranya bersikap yang perlu diperhatikan. Tentang becandaan seperti apa yang seharusnya kita tunjukkan pada orang-orang tertentu. Namun, kalo memang secara sadar kita paham sifat kita memang kelewatan dan banyak yang kontra, ngga ada salahnya untuk merubah sifat kita, meski kita ngga comfort merubah sifat kita sendiri, ngga dosa kok, mau berubah jadi lebih baik, aku sih berfikir salah banget, orang yang merasa nyaman dengan semua sifat buruknya. Bukan kita kok yang menilai diri kita sendiri, tapi orang lain. Percuma kita berkoar kita yang paling hebat, ketika hidup kita biasa saja, orang ngga akan pernah percaya kalo kita hebat.

Eh, kok aku jadi nyeramahin orang gini sih?, kan yang dalam masalah ini sekarang kan aku.

Makasih banget deh buat Ari, dari kata-katanya yang sederhana, membuat aku bisa jadi sedikit paham dalam mengambil sikap. Dari sini aku heran bagaimana caranya mengukur tingkat kedewasaan. Sebelumnya lebih baik aku luruskan dulu, percakapan diatas adalah percakapan aku dan Ari ketika aku mengantarnya pulang ke kosannya yang ada didekat kampus, gerimis menemani percakapan itu sepulang dari rumah seorang dosen yang memberikan kami tugas matematika, dan percaya ngga percaya walaupun namanya Ari, tapi katanya dia Perempuan, katanya sih. Ya, setelah ditanya walau aku ngga tau dia jujur apa ngga, katanya dia seneng kok temenan sama orang seperti aku, karena dia ngomong gitu, dengan senang hati, akupun mulai percaya kalau dia itu perempuan, yapp Perempuan yang manis dengan caranya sendiri.

Diluar masih hujan ketika aku selesai mengetikkan semua kata-kata yang bisa membuat aku sedikit tenang ini. Pada akhirnya aku akan menyadari sedikit. Kita mungkin takkan pernah bisa jadi yang terbaik, tapi ngga ada salahnya buat mencoba melakukan hal baik dengan cara yang terbaik. Aku akan terus memperhatikannya, ketika ada sifat dan sikapku yang salah, sekerasnya aku akan merubahnya. Aku senang bisa jadi diriku sendiri, dan diletakkan ditengah-tengah orang yang bisa sedikit mengerti aku, walau hanya sedikit dan itu sangat patut untuk disukuri.


Note :
Hufftt yang membuat aku sedikit bermuram durja lagi, ini khusus buat KAMU!. ngga kerasa yah, ini udah masuk tahun keenam ketika dulu kamu menghancurkan semuanya. Tapi aku patut berbangga hati, waktu yang cukup panjang untuk aku membangun kembali semangat-semangat yang pernah kamu hancurkan, sampai saat ini tak ada dendam, dan melihat apa yang terjadi sekarang, memang tidak ada harapan lagi untuk bisa mendapatkan kamu kembali. Tapi yang tersisa dihatiku hanya harapan kosong, bukan lagi memprioritaskan kamu, enam tahun ini aku sudah terbiasa dengan hari-hari yang kamu buat kelam, tapi kamu ngga akan pernah tau. Dibalik kelam yang kamu tanam. Ada ribuan cahaya terang yang melebihi cahaya matahari menemani langkahku 6 tahun ini. Silih berganti cahaya itu datang dan pergi, tapi tak ada yang menanam kelam. Aku hanya akan menyadari RASAKU YANG DULU ITU HANYA OBSESI, meski aku selalu mengingat kamu, kamu bukan lagi mimpi indah, kamu bukan lagi tujuanku. Dan aku sangat yakin, bukan kamu tulang rusukku yang hilang!
Terimakasih waktu, lambat laun kamu membuatku sadar, aku terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengingat kamu dan mengingat rasa sakit yang dulu itu. Hari ini aku bahagia bisa jadi diriku sendiri TANPA BAYANG-BAYANG KAMU!!

Gambarnya ngga nyambung

Friday, 18 January 2013

Tentang Uni dan Perihal Baju Dinas


Kata-katanya sederhana. Tapi juga menusuk aku yang sebenarnya bukanlah objek sindiran Ayah pagi itu. Pagi yang berbeda ketika Ika adikku paling kecil sedang tidak dirumah, yang ada hanya aku dan Uni.

“baa ka bangga wak ko haa.. pagi-pagi anak wak lah pakai baju dinas sadoalah e.. baju dinas ayah ma?”

Mungkin yang mendengar hanya akan merasakan sedikit rasa bangga, tapi dari tiap penekanan disetiap katanya. Aku tau ayah sangat merasa bangga punya anak yang punya pakaian dinas. Aku memang tak pernah merasa apa yang aku raih aku dapatkan sendiri dengan kemampuanku, aku sangat sadar, ada bayang-bayang ayah yang selalu sedari dulu menopang aku yang rapuh, Ayah yang mengangkat aku tinggi-tinggi hingga aku dapat menjangkau semua mimpi yang ada dalam anganku.

Aku hanya tersenyum sedikit getir mendengar hal itu, disatu sisi aku sangat merasa bahagia, sempat melambungkan Ayah dalam sebuah rasa yang mungkin suatu hari dulu pernah ia impikan, ketika aku didekap dalam pangkuannya, mungkin ayah menatapku dalam ketidak tahuanku dulu, berharap aku menjadi seorang berguna, meski hanya untuk orang-orang yang berada disekelilingku.

Disisi lainnya itu hanyalah sindiran Ayah untuk uni, pagi itu baju dinas paginya masih tergantung rapi disalah satu paku yang menancap kedinding, baju itu berwarna biru, seragam Bank milik negara dan bisa dikatakan selalu berada digaris depan antara Bank besar lainnya.

Aku rasa sangat besar perjuangan uni untuk bisa mendaftarkan namanya disalah satu daftar absen pegawai di Bank itu. Dan bagaimanapun, tanpa sepenuhnya dia tahu, ada Ayah yang punya harapan besar ketika uni menjalani semua test dan berhasil menjadi salah satu yang terbaik. Uni selalu beruntung, dari dulu selalu berada dikalangan orang-orang terbaik.

Mungkin rasanya sangat menjengkelkan, ketika kita mulai merasa, ada tangan lain yang membantu setiap sukses yang kita rasa, tapi itu lumrahnya, tak ada orang yang sukses tanpa orang lain.

Maksud Ayah menyindir, hanya karena dia sedikit  kecewa dengan jalan yang telah dipilih uni. Jika berjalan lancar, usai pernikahannya nanti, uni ingin ikut calon suaminya yang bekerja di jakarta. Tapi jalan yang dipilih uni masih sangat lumrah, hal yang sangat wajar sekali untuk seorang wanita untuk ikut suaminya kemanapun suaminya akan pergi.

Beberapa bulan belakangan aku memang lebih banyak memilih diam, aku sudah terlalu masuk jauh dalam kehidupan uni, aku terlalu banyak mengaturnya, mungkin dia juga jengah. Mendengar cerca dari aku adiknya yang seharusnya tidak mengeluarkan kata-kata yang membuatnya sakit hati.

Siapa aku? Apa aku lebih mengerti dari dia?. Grade aku mungkin masih sangat jauh dibawahnya, apa yang aku katakan selama ini mungkin saja hanya sok tau agar terlihat hebat olehnya.

Yah aku hanya akan diam sampai semuanya benar-benar indah pada akhirnya, aku tau uni punya alasan yang kuat untuk memilih jalan yang bahkan ayah dan ibupun sedikit ada rasa kecewa dengan pilihan uni tersebut, mungkin memang berat bagi uni atas semua pilihan-pilihan yang mengelilingi uni bulan-bulan yang lalu, uni punya rasa cinta, uni punya lelaki yang benar-benar dia cintai, dan aku juga sangat yakin tak sedikitpun terniat dihati uni untuk mengecewakan ayah dan ibu, aku bisa lihat, ketika aku dan uni jauh dari rumah, setiap perpisahan dengan rumah bahkan hanya beberapa detik aku bisa lihat tatapannya yang rindu pada ibu, hatinya yang benar-benar mencintai ibu, aku bisa lihat itu.

Tapi hanya untuk disekedar diketahui, ayah ibu adalah orang paling demokratis didunia, selama itu masih benar-benar logis dalam fikirannya ayah dan ibu ngga akan pernah melarang apa yang anak-anaknya mau, kami dibiarkan saja berkembang sendiri tapi tetap dalam pengawasan dan bimbingannya yang sangat tegas, mungkin itu yang membentuk pribadi kami yang benar-benar dijadikan “orang” oleh ayah dan ibu.

Hari ini sudah nyaris sebulan setelah ayah resmi menikahkan uni dengan orang yang benar-benar telah sah menjadi suami uni dan kakak iparku. Dan lagi, rumah ayah dan ibu sepi lagi, perihal baju dinas, aku masih memakainya, dan senyum ayah selalu berbeda ketika aku mengenakan pakaian dinas itu, aku senang melihat senyuman itu, pakaian dinas uni, sudah dipensiunkan kedalam lemari.

Hari ini uni sudah dijakarta tinggal bersama suaminya, fase baru dihidupnya telah dimulai, waktu akan berangkat kejakarta kemaren ibu ikut mengantar uni kejakarta, dan aku sangat yakin. Dibandara ketika ibu akan pulang kembali kerumah, uni pasti nangis abis-abisan saat ibu sudah masuk kebandara. Uni masih cengeng dalam hal-hal seperti ini.

Selamat menempuh kehidupan yang baru ya uni, bersama pria beruntung yang telah uni pilih, semoga semuanya baik-baik saja, aku sama sekali ngga mau lagi nge-judge uni, aku punya pesan sederhana. Sangat sederhana untuk uni satu-satunya didunia, uni yang juga tempramen seperti ayah, uni yang suka menindas aku ketika masih kecil, uni yang berlagak bos ketika waktu kecil kita main bersama, uni yang juga sama keras kepalanya dengan ayah, dan ketika jauh dari rumah, ketika kita sama-sama kos dikota padang, uni juga sangat lembut seperti ibu, tapi tetap aku sangat tidak suka dipanggil “dik sayang..” -_- aku benci panggilan itu.

Uni tau kan? Apa yang terjadi dibulan-bulan sebelum pernikahan uni, mungkin tak perlu han jelaskan lagi apa yang terjadi, berkat kesabaran dan ketegaran uni semuanya alhamdulillah jadi lancar, memang ada sedikit kecewa dari orang-orang terdekat.

Jadi pesan sederhana han ialah. Jika banyak yang kecewa dengan jalan yang uni pilih, bahkan ayah dan ibu juga menyayangkan uni harus meninggalkan pekerjaan uni yang lumayan menjanjikan. Mulailah berfikir melingkar.

Sederhananya begini “Bahagiakan Ayah dan Ibu dengan jalan yang telah uni Pilih”.
Buktikan jalan yang uni pilih adalah jalan yang paling tepat untuk semuanya, untuk uni, suami uni, Ayah, Ibu dan semuanya. Jika hari ini mereka kecewa, buktikan suatu hari nanti mereka akan merasa lebih kecewa jika uni tidak memilih jalan yang telah uni pilih.

Sederhana ‘kan?
Ingat ini terus yah uni, bagaimanapun..
Han meminta pada uni,

BAHAGIAKAN AYAH DAN IBU DENGAN JALAN YANG TELAH UNI PILIH..


Sunday, 2 December 2012

Ingin Menulis ( Lagi )

Sebentar ya dunia, aku ingin melepas lelahku beberapa bulan kebelakang ini sejenak, bukan aku ingin meninggalkanmu. tapi beginilah adanya, janjiku untuk konsisten merangkum cerita yang aku punya setiap bulannya aku lewatkan selama 1/6 tahun, harusnya aku meluangkan sedikit waktuku untuk bercerita disini, mungkin saja diseberang sana ada sahabat yang tertarik membaca kisahku, atau suatu hari nanti aku ingin rasakan atmosphere yang sama ketika aku melewatkan setiap derai air mata bahagia dan kesedihan, aku ingin selalu mengingatnya.

Dalam sibuknya tuntutan hidup ini, masih ada kisah-kisah yang sengaja diselipkan dihidupku bersama mereka. Tapi aku tak pernah sempat menulisnya, ketika hendak menulis aku selalu mentok diparagraf pertama, ketika setiap aksara yang rasanya sudah aku susun rapi menjadi kalimat tiba-tiba pergi dari kantung otakku, rasanya aku sudah menyusunnya dengan amat rapi, tapi hilang begitu saja ketika aku berusaha mengingatnya, yang ada tulisanku berakhir jadi draft yang sama sekali tidak tau juntrungannya.

setidaknya lewat ini, aku bisa mengabari sahabat-sahabat semua, aku masih disini berusaha menulis kisah-kisahku bersama kalian, berbagi semua kisah ini.
dan disela sibuk itu, aku masih membaca semua yang kalian tulis.
rasanya disini aku punya keluarga.

mungkin sampai disini saja..
aku masih belum bisa menulis lagi..
mudah-mudahan semua ini berlalu..
dan aku bisa berbagi cerita lagi..

Selamat bulan Desember semuanya..
semoga resolusi taun lalu terealisasi tahun ini, dan bersiap untuk resolusi baru, dan minta petunjuk pada Allah SWT.



Friday, 28 September 2012

Sebelah Mata


Ini bukan freemason, illuminati atau antek-antek nya, ini hanya sekedar sebuah pandangan, pernah ngerasain dipandang sebelah mata ngga?, trus gimana rasanya?.

Aku pernah beberapa kali berada dalam golongan minoritas, dan ternyata jadi golongan minoritas itu sulit sekali. bagaimanapun keadaannya, semuanya mudah saja mempersalah kita, walau terkadang kita dalam keadaan benar, padahal belum tau siapa  yang sepenuhnya benar, karena kebenaran itu hak milik Allah dan kesalahan itu semuanya ulah manusia, yaa seenggaknya jangan pernah merasa diri kita lah yang paling benar.

Dan tentang sebelah mata, hari ini terjadi lagi. Awal bulan september ini, aku daftar kuliah disebuah perguruan tinggi swasta, dengan mengambil jalur khusus yaitu kuliah sabtu minggu, entah dari mana datangnya, semua orang menganggap citra kampus itu jelek, dan setelah aku masuk kuliah disana, kampus itu tidak sejelek apa yang selama ini orang-orang pikirkan.

Oke. Don’t judge a book by the cover, mungkin dalam sisi penjualan, cover buku sangatlah penting dalam artian yang sebenarnya, tapi kalau dalam artian kiasan ini tepat sekali dengan kampus aku, mengubah paradigma itu memang sangat sulit, apalagi sudah turun temurun seperti saat sekarang ini, ya bagaimanapun, jelekpun kampus aku dimata orang-orang, jiwa memiliki itu pasti akan lahir seiring waktu aku menuntut ilmu didalamnya.

Hal yang sama pernah aku rasain sekolah disebuah SMK yang punya sertifikasi Internasional, namun aku berada dalam jurusan minoritas, jurusan yang sama sekali ngga ada peminatnya, Cuma aku yang punya minat tinggi mengambil jurusan itu, jurusan itu ialah jurusan Gambar Bangunan, dan aku puas mendengar ejekan 3 tahun disana, dan semuanya ngga sia-sia, walau minoritas, walau jadi bahan ejekan, bahkan dianggap jurusan yang paling ngga banget, aku dan teman satu angkatan bisa ngebuktiin kalo kami jurusan bangunan, sudah tidak bisa lagi dipandang sebelaha mata, karena aku sekolah bangunan dulu makanya sekarang bisa membiayai kuliah sendiri. Cuma butuh waktu untuk membuktikan.

Dan hal yang sama terulang lagi, ketika siapa aja yang bertanya padaku sekarang dimana kuliah, ketika aku menjawabnya aku berkuliah ditempat yang sekarang. beragam tanggapan yang datang, dengan catatan tanggapan itu jika disimpulkan semua artinya sama, “pandangan sebelah mata”. Terkadang kita merasa lebih baik dari pada orang lain hanya karena strata, akupun terkadang merasakan hal yang sama, sulit memang menganggap orang yang stratanya dibawah kita, bukan hanya dari materi mungkin saja dalam segala hal. Dan mungkin lagi salah satunya kualitas KAMPUS!

Akan punya kebanggan tersendiri bila bisa berkuliah ditempat yang namanya sudah besar, bahkan mungkin melahirkan orang-orang besar, tapi punya kampus dengan kualitas bagus ngga bakalan pernah menjamin kita untuk sukses, pertanyaannya hanyalah, apa diri kita termasuk orang yang benar-benar berkualitas?. Maka beruntunglah orang-orang yang selalu dalam golongan yang paling disenangi. Tapi jika suatu saat dia jatuh, dia bukanlah seorang pribadi yang tangguh.

Dan kampusku yang semua orang dari dulu memandangnya sebelah mata, harus mencoba kembali untuk melihat dengan kedua matanya, tempat itu bukan seperti yang kalian anggap dulu, terbukti kok. Dari teknik sipil, kebetulan saya mengambil jurusan teknik sipil disana, karena itu yang cocok dengan pekerjaanku sekarang. Entah taun berapa aku lupa, entah taun kemaren apa 2 tahun yang lalu, salah satu mahasiswa dari kampusku itu memenangkan perlombaan campuran beton dengan mutu tertinggi disalah satu Universitas bisa dibilang nomor wahid disumetare barat, yang diikuti oleh universitas dari 3 provinsi, yaitu Riau, Jambi dan Sumatera Barat.

Setidaknya universitas itu sekarang sudah mulai menampakkan diri, bahwa dirinya sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata, perlahan dia akan bisa mengatakan “Kami adalah satu dari yang terbaik”.

Sekecil apapun jangan pernah memandang sebelah mata.
Orang-orang tidak pernah tersandung dibatu yang besar, tapi orang-orang selalu tersandung oleh batu-batu kecil, yang aku dapat pelajaran dari hal ini hanyalah. Mulailah Respect dengan Hal-hal yang kecil.

gambarnya ngga nyambung, malah 2 belah mata, takut dibilang konspirasi -__-

Tuesday, 25 September 2012

September Awesome!


Akhirnya punya waktu luang juga untuk bercerita lagi dalam blog tercinta ini, september ini benar-benar bulan yang paling sibuk, dimulai dari planning lebaran kemaren yang punya acara numpuk disana dan disini, ditambah ketika dapat kabar bahwasanya aku akan dipindah tugaskan kedumai, dan dengan sanggahan ingin berkuliah dipadang, akhirnya aku ditempatkan disebuah proyek yang dekat dari rumah, sekitar 20 menit dari rumah. Dan ternyata butuh waktu 2 tahun agar doa ibu  terkabul.

Setelah 2 tahun akhirnya keinginan untuk berkuliah itu terlaksana, aku melanjutkan kuliah disalah satu Perguruan Tinggi Swasta dikota Padang, dan dengan alasan itu tadi aku jadi punya alasan pada Manager keungan divisi I untuk tetap ditugaskan didaerah Sumatera Barat, setidaknya sampai 4 tahun kedepan.

Susahnya ngga abis disitu aja, awal bulan ini aku disibukkan dengan persiapan proyek baru yang kontraknya baru ditanda tangani pertengahan agustus kemaren, mulai dari survey lapangan yang bikin aku item setelah pemutihan selama berbulan-bulan, menggambar bentuk jembatan itu kembali, dikarenakan softfile gambar dari konsultan sudah ngga ada lagi, membuat Rencana kerja, menghitung volume jembatan dan sampai hari ini hitungan kebutuhan besi sampai desember depan belum selesai, bukan belum selesai belum aku sentuh sama sekali, ngeliat gambar penulangannya aja  kepala aku udah sakit! -__-

sok sok an..

Dan beberapa hari belakangan ini aku have FUN banget!, dikarenakan sabtu kemaren hari pertama masuk kuliah, tapi masih belum masuk kelas karena dihari pertama itu ada ospek kecil-kecilan, untuk pengenalan kampus dan berkenalan dengan para senior serta tenaga pendidik dan sedikit pidato dari Rektor Universitas. Kenapa dimulainya pada hari sabtu?. Ini dikarenakan aku kuliah mengambil jalur khusus pada sabtu minggu, kedepannya aku harus bisa me-manage waktu biar kuliah dan kerja sejalan semuanya, senin sampai jum’at kerja dan sabtu minggu kuliah, tanpa hari libur walau setengah hari sekalipun. Mungkin 4 tahun kedepan akan jadi tahun-tahun yang berat, tapi ini fase yang harus dijalanin.

Cukup happy dihari pertama masuk auditorium kampus, berkenalan dengan anak-anak sipil lainnya, dari kabar yang sebelumnya aku dengar, biasanya yang kuliah sabtu minggu itu Cuma orang-orang uzur yang bekerja dipemerintahan maupun swasta, tetapi alhamdulillah banget, angkatan aku tahun ini, yang kuliah sabtu minggu paling banter tamatan tahun 2009, dan akhirnya aku bertemu dengan orang-orang yang masih muda, pekerja keras dan kreatif buktinya meraka semua mampu membayar uang kuliahnya sendiri, yang terpenting adalah aku punya teman seangkatan yang seumuran!.

Menikmati hari pertama dengan teman-teman jurusan yang welcome, membuat aku sedikit melupakan stres tentang kerjaan yang selalu aja numpuk, dan pada malam harinya aku ngumpul dengan anak gebe, walau Cuma 8 orang. Anak gebe itu ialah sebutan buat kami tamatan SMK Negeri 5 Padang tahun 2010 dengan jurusan Gambar Bangunan. Malam mingguan bareng teman sampai jam 4 pagi itu sangat menyenangkan, mengingat hampir setahun juga kita ngga ngumpul-ngumpul lagi.

ini salah satunya..
Pulang jam 4 pagi dan jam 9 paginya kudu hadir lagi dikampus buat lanjutan acara yang kemaren belum usai, dan ngga nyangka banget kita anak teknik sipil makin berasa aja kompaknya, aku, Firman, Defri, Tora, Agung, Angga, Ramzil setidaknya baru itu yang aku tau anak sipil yang asik banget. Dengan catatan Tora bukan anak sipil tapi dia teknik industri.

Dihari sebelumnya ada pemungutan biaya makan siang untuk hari minggu itu sebesar 25 ribu rupiah, yang jelas aku, firman, defri, tora dan agung sama sekali belum bayar. Karena ngga dimintain sih sama seniornya. Namun nasinya kita dapet dan makan rame-rame dari sini aja udah keliatan kompaknya.

Halal ngga yah?
Dan hari ini, aku sudah kembali lagi duduk dibelakang meja didepan laptop diatas kursi dalam ruangan pengap bersiap menghitung besi. Kebayang deh, hari-hari berikutnya yang bakalan aku jalanin.

Oh yah satu lagi, ada yang aneh dari ospek kemaren, baru kali ini aku dengar senior manggil abang sama seniornya. hahahahahaha