Thursday, 19 January 2012

Yang Pergi,,


“sudahlah, kenapa dirimu masih menunduk sepi dan terus meneteskan air mata?”

suara seorang pemuda yang sedikit agak menggema, dengan nada yang sangat pelan dan mengisyaratkan bahwa hatinya sedang sangat sedih, dibalik rindang dedaunan pemakaman yang tengah berfotosintesis, 


“peduli apa kamu?”

Lantang dan sangat jelas wanita itu layaknya marah, emosi yang sekonyong-konyong tengah labil, ditinggal pendamping hidup sampai dunia kiamat.


“yang pergi lepaskanlah, jangan sampai kau membuatnya begitu sedih, berilah nafas untuk takdir terus berjalan semestinya, ada yang telah mengatur, suatu hari ditempat yang lain, dirimu pasti akan bertemu lagi dengannya, tuhan tidak ingkar janji”

 Wanita itu menatap tajam dengan matanya yang merah berlinang air mata disekujur pipinya, seakan tak terima, karena takkan ada yang mengerti kecamuk yang meronta hebat dihatinya, ini adalah marah, yang paling marah ia rasakan pada pemuda itu.


“teteskanlah air mata, itu sisi lebih yang diberi tuhan untukmu, bahkan tuhan tak beri air mata itu untuk malaikat sekalipun, tapi percayalah, pelangi itu tak pernah datang jikalau tak hujan, masih banyak fase yang mesti dirimu lalui, tuhan maha tahu, tuhan sangat mengerti, tuhan memberi kepercayaan padamu, ini cerita sedih yang telah tuhan selesaikan sebelum dirimu lahir, jadi terimalah kepercayaan itu, jangan pernah kecewakan tuhan, dirimu bukan satu-satunya makhluk yang merasakan hal semacam ini, percayalah”

 Pemuda itu merunduk dan memegang pundak perempuan yang lebih tua dari dia itu, matanya yang tadi tajam berubah sayu, wanita itu berdiri sambil tetap dipegang oleh sang pemuda, teringat puluhan tahun yang lalu saat dahulu, dialah yang mengajarkan pemuda ini untuk berdiri dan berjalan, dan hari itu, pemuda ini yang mengajarkannya untuk tetaplah terus berjalan, adik yang dia cintai...


 Untuk semua yang pergi,
Entahlah,
Hatiku berkecamuk,
 Ikhlas yang terucap dimulut itu rasanya sangat jauh dari hati.
Aku juga akan sama rasakan, dan meninggalkan buram, Yang begitu muram, ketempat yang suram, Berteman nisan yang sepi,
Tapi aku hanya berusaha mensyukuri apa yang telah aku punya,
Dan sekerasnya, Aku berusaha mengikhlaskan segala apa yang telah pergi,


 Hujan masih belum berhenti,,

Sunday, 8 January 2012

Muterin Sumatera Barat

Taukan? Provinsi Sumatera Barat? Hehehe, kampung halaman dimana aku dibesarkan, meski tak dilahirkan dikampung halaman sendiri, sungguh sangat menggerahkan, tiga bulan kerja rodi tanpa berhenti, sehingga tulisan blog inipun terbengkalai dengan sedemikian rupa, ini postingan pertama ditahun 2012, cerita punya cerita, akhir taun kemaren dapat juga cuti tiga bulanan yang dari dulu memang jarang aku lakukan, mungkin karena terlalu jauh, aku sangat inigin menikmati perjalanannya, dengan prosedur yang sangat lumayan rumit, akhirnya dapat ijin pulang tanggal 26 desember 2011, meski akhirnya berangkat tanggal 28 karena terlambat dapat travel dari palembang kepadang, banyak yang mudik juga ternyata akhir taun, dan akhirnya tanggal 30 baru nyampe dirumah, planning taun baruan bersama teman-temanpun batal sebatal-batalnya, karena nggak mungkin sehari dirumah alias pasaman barat yang kira-kira masih 200 km lagi dari kota padang, harus kembali kekota padang berkumpul dengan teman-teman yang disana, dan hasilnya, taun baruan bakar ikan bersama abang-abang sekeluarga dan keponakan-keponakan. Tapi asik juga, :)
Karena nggak ada kerjaan dirumah, akupun berencana pergi main kekota padang ketemu teman-teman satu stm dulu, tanggal 2 pun aku berangkat, aku pergi bersama kakak perempuanku, aku harus mengantarnya dulu kekota bukittinggi, dengan motor pastinya, dia punya “acara” apaaa gitu disana, tapi aku senang juga mengantarnya kebukittinggi, sekalian aku bisa main-main juga disana, melihat jam gadang, yang kayak itu mulu dari dulu..


Nah.. apa hubungannya dengan sumatera barat? Setelah dikipir-kipir, wisata alam sumatera barat lumayan banyak juga, meski aku tak sempat mengabadikan semuanya dalam kamera ponsel, karena aku Cuma lewat dijalur yang tertera digambar ini nihh...




Ada 4 lokasi yang aku mau perkenalkan, meskipun kalo orang sumatera barat sendiri udah tau, ngga apa-apa yang penting bulan ini aku bikin postingan, mudah-mudahan aja bermanfaat, ohh ya catatannya, ini perjalanan aku sendiri, dan foto-fotonya aku yang motret sendiri,

Dimulai perjalanan aku dari rumah meninggalkan kabupaten pasaman barat, memasuki kabupaten agam, dimana dikabupaten ini ada sebuah danau besar yang bisa dikatakan terbesar disumatera barat, disini juga ada sebuah PLTA yang memanfaatkan air dari danau tersebut dan nama danaunya, DANAU MANINJAU, hawa yang sejuk, bahkan tergolong dingin dan aku tak tau berapakah ketinggiannya dimuka laut, yang pasti dingin sekali didaerah ini, adem dan tidak terlalu banyak penduduk, masyarakatnya rata-rata bekerja sebagai peternak ikan air tawar, yang memanfaatkan danau yang luas itu, dan juga banyak yang bekerja sebagai petani mengelola sawah yang lumayan luas, dan daerah ini seperti dikelilingi bukit bukit yang menjulang tinggi, sampai keawan malah, hehehe.

Sebelum memasuki area danau dari arah kota lubuk basung, kakakku mengatakan bahwa ada sebuah objek wisata sebuah kolam dengan air yang mempunyai 3 rasa, awalnya aku sama sekali tak berminat, karena dia suruh berhenti , yah aku turuti, untuk mengobati rasa penasaranku sedikit, aku pengen coba rasa airnya, masa dalam satu kolam airnya ada 3 rasa, dan aku dan kakakku pun berhenti didepan gapura yang bertuliskan “AIA TIGO RASO” dalam bahasa indonesia air tiga rasa, aku masuk kedalam tempatnya agak sedikit menurun, sampai disebuah kolam kecil berukuran 1,5 x 1 meter, yang sudah dibentuk seperti bak mandi oleh orang-orang disana, didalam kolam tersebut, ada tiga tempat yang mengeluarkan gelembung, seolah olah ada 3 mata air dibawahnya dengan jarak yang lumayan teratur, awalnya kakakku yang mencoba, akupun penasaran dan mencoba, dari tempat pertama bagian kiri kolam airnya terasa hangat dan sedikit agak asin, dan tempat kedua bagian tengah airnya terasa hambar dan dingin, dan ditempat ketiga bagian kanan kolam aku bingung harus bilang apa dengan rasa air itu, rasanya aneh dan aku bingung bilang harus bilang itu seperti rasa apa, dan ternyata benar, air itu mempunyai tiga rasa dalam satu kolam, padahal aku sering lewat daerah situ, tapi kenapa aku baru tau?.



Perjalanan berlanjut menyusuri pinggiran danau maninjau, dan sampai lah dikelok 44 atau dalam bahasa minang “kelok apek puluah ampek” ada 44 tikungan tajam bener-bener tajam menaiki gunung yang mengelilingi danau agar sampai dibukittinggi, tapi menaiki gunung itu ngga bakalan begitu terasa, melihat pemandangan danau maninjau dari atas sana, berikut beberapa potret danau maninjau, dari bawah dan dari kelok yang berjumlah 44.






Dan sampailah ditempat kedua, kota bukittinggi, digerbangnya bertulis, “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” karena aku statusnya Cuma mengantar, aku tak bisa bermain lebih lama dikota ini, padahal objek wisata ngarai sianok dikota ini bener, tapi tetap ngga sempat motret, mungkin lain kali, disini aku mengantar kakakku sampai dijam gadang, dan inilah beberapa potret, jam gadang dibalik lensa ponsel yang aku punya.




Perjalananku berlanjut menuju kota padang, melalui jalur padang panjang, ini yang paling aku suka, jalan turunan dari kota padang panjang sampai ke kabupaten padang pariaman, aku suka sekali dengan kota padang panjang, ini selintas terlihat asri dan sangat sejuk, atau juga bisa dibilang daerah yang dingin, ingin rasanya aku punya satu rumah disitu, dikota kecil yang orang-orang yang mendiami nya terlihat begitu bahagia, tapi aku tak punya potret fotonya,
Dan sampailah didaerah ketiga yang terlihat dipeta, itu adalah lokasi objek wisata lembah anai, yaitu terletak didaerah yang berlembah, dengan air terjun yang besar, persis terletak dipinggirian jalan raya, dan ini beberapa potret situasi dan pemandangan jalan disana dan aku Cuma dapat satu potret air terjunnya.






Dan akhirnya aku sampai dipadang alhamdulillah dengan selamat, bertemu dengan beberapa orang teman, ngumpul, ngalor ngidul, dan makan-makan, serta shoping hehehe, dan memperbaiki motor, nyaris tiga hari akupun pulang kerumah alias pasaman barat, melalui jalur yang berbeda ketika aku dalam perjalanan kepadang tadi, aku melewati jalur barat, bisa dibilang begitu, melewati pinggiran pantai puluhan km, mulai dari bandara internasional minangkabau sampai ke tiku, yang sudah masuk kabupaten agam lagi, dan aku lewat dipantai pariaman persis ketika matahari sudah mulai condong sedikit kearah barat, berikut potret-potret yang aku dapat sepanjang pantai.








Alhamdulillah aku selamat sampai dirumah kira-kira 3,5 jam perjalanan dari padang sampai rumah, Cuma segitulah yang bisa aku sharing untuk saat ini, dan sebenarnya masih banyak objek wisata lain disumbar yang belum aku sebutkan, walaupun aku sudah pernah mendatanginya, aku masih belum bisa ngshare nya, seperti dikampung aku sendiri, ada pantai sasak dengan pasirnya yang berwarna putih, ada lobang jepang, yang juga ada dibukittinggi, ada pemandian air panas dirimbo panti, ada lembah harau dipayakumbuh, dipainan ada puncak langkisau yang luar biasa banget view nya, ada jembatan akar juga disana, ada danau singkarak, danau kembar, atau yang biasa disebut juga danau atas danau bawah dialahan panjang, pantai padang juga ada, pantai air manis tempat dimana ada batu malin kundang, dan masih banyak lagi yang lainnya, mungkin dilain kesempatan aku bisa share.

Friday, 30 September 2011

Kisah sedih penghujung september.

Siapa kira-kira yang masih ingat dengan kejadian 30 september 2009, september paling suram yang pernah terjadi dikota padang, sebagian jantung kota remuk redam, malam paling dingin yang pernah aku rasa dikota padang, saat harus tidur dalam garasi yang tak berdinding, karena kos-kosan aku sudah tak layak lagi untuk dihuni, ketika dulu aku hanya melihat sebuah musibah hanya dalam tayangan televisi, hari itu aku merasakan sendiri, gempa besar yang terjadi, rumah dan gedung-gedung yang runtuh hanya dalam hitungan detik, jalanan retak, semua benar-benar kacau, orang-orang berlarian dengan tujuan yang tidak jelas, teriakan, tangisan, melihat secara langsung orang terjepit reruntuhan bangunan, kabel listrik yang putus dan berserakan ditengah jalan, sudah tak ada lagi sinyal handphone. 30 september 2009 16:00 Seperti biasa, aku dan semua anak-anak kos selalu ngalor ngidul ngga jelas didepan kos, ketawa-ketawa dengan jokes yang ngga jelas juga, ade adik kelasku yang biasa membuat canda tawa itu terasa hangat, karena dia sosok yang lumayan lucu, sore itu aku memotong kuku ku sambil terus ngobrol dengan anak-anak kos yang lain, sampai akhirnya aku berfikiran untuk pergi membeli gelang kedaerah permindo, terletak tepat dipusat kota, aku mengajak adik kelasku yang biasa aku panggil ucup, dia sudah aku anggap adikku sendiri, setiap tingkah polahnya, nyaris mirip denganku, sampai selera musik, film dan sebagainya sama semua, bisa dikatakan apa yang aku suka, dia pasti suka, dan apa yg dia suka aku juga akan suka. Tak ada kata penolakan darinya, entah angin apa yg membuat itu semua berjalan, hanya aku dan dia saja yg punya keinginan besar untuk pergi kepusat kota, untuk membeli sesuatu yang sama sekali benar-benar tidak penting, tanpa basa-basi kita siap-siap dan berangkat, naik angkot beberapa belas menit, dari pasar raya padang, jalan lagi beberapa ratus meter kepermindo tempat dimana semuanya assesoris ngga jelas itu ada, tak berapa lama sampailah didepan sebuah toko busana, didepannya tersebut ada sebuah lapak pedagang kaki lima dengan segala macam assesorisnya yang digantung-gantung ngga jelas, aku dan ucup pun mendekat kearah itu, karena dagangan orang itu sangat rame, beberapa saat melihat, ada yang menarik perhatianku, dan aku ingin memegang gelang yang itu, belum sempat gelang itu tersentuh olehku, kakiku gemetar, serasa beton yang aku injak ingin retak dan naik keatas. Aku sadar ini gempa, gempa yang beberapa kali belakangan ini terjadi, tapi ada yang aneh dengan gempa ini gerakan vertikal dengan sangat kencang, aku melihat keatas takut ada sesuatu menimpa kepalaku, ucup langsung memegang tanganku dan menarikku ketengah jalan raya, semua mulai panik, gempa yang awalnya bergerak vertikal menjadi horizontal, semakin lama semakin kencang, semua orang yang ada ditempat itu panik berlarian tanpa ada tujuan yang jelas, teriakan, tangisan, ratapan, dan air mata bercampur dalam rasa panik dan ketakutan, semua kacau balau, hal yang selama ini terkadang hanya bisa aku lihat dari sebuah film, kini nyata dihadapanku, sebuah hotel plaza yang tepat berada dipinggiran jalan itu, bergetar, dan menjatuhkan beberapa runtuhan, aku melihat sendiri beberapa pegawainya yang lari keluar terlihat panik dan ada yang kepalanya mengeluarkan darah tertimpa reruntuhan beton, tiang listrik terombang ambing kekeri dan kanan, kabelnya putus dan berserakan ditengah jalan, travo-travo besar diatas tiang listrik berjatuhan menimpa mobil-mobil yang sedang parkir dbawahnya, beberapa jalanan retak, rasanya aku sudah tak kuat lagi berdiri, kepalaku pusing aku ingin duduk, tapi ucup memegang tanganku sangat erat, hingga aku tak bisa apa-apa. Beberapa detik kemudian, gempa berhenti, aku bilang kepada ucup untuk lari kearah jati, karena posisi aku dan ucup saat itu, sangatlah dekat dengan pantai, aku takut beberapa menit kemudian akan terjadi tsunami, aku dan ucup berlari kearah jati, melewati jalan ratulangi. Dalam perjalanan itu aku menyaksikan dengan mataku sendiri, dipusat kota, banyak sekali toko, luluh lantak hanya dalam hitungan detik, aku sudah tidak tau lagi berkata apa, Aku melihat ada 1 keluarga didalam sebuah mobil mini bus, terjepit beton rumahnya sendiri, dan klakson mobil itu terus saja berbunyi, aku bingung melihat semua kejadian itu, apa yang semestinya aku lakukan, Juga terlihat jelas beberapa monumen disetiap simpang jalan berjatuhan, seorang bapak tua penjual buah-buahan memungut, dagangannya yang berserakan dipinggiran jalan, rumah sakit M.djamil yang ada dijati, dipenuhi mungkin nyaris ribuan orang, beberapa perawat aku lihat sibuk menyelamatkan pasien yang ada didalam gedung yang runtuh, banyak lagi yang datang kesana aku lihat akibat gempa, macet luar biasa dijalan yang sungguh sangat sempit itu, Yang aku fikir, sungguh besar jasa perawat itu, ia melakukan pekerjaannya, walau sama sekali dia tidak tau, bagaimana kabar keluarganya dirumah. Aku dan ucup pulang kekosan dengan berjalan kaki, sejauh 4km, karena sudah tak ada angkot lagi, hanya reruntuhan yang aku lihat sepanjang jalan, semua berantakan, semua sudah tak beraturan lagi, semua terasa sepi, tak ada yang berjualan lagi, semuanya benar-benar terasa seperti kota mati, Sesampai dikos semua anak-anak kos langsung bersorak mengucap syukur, karena mereka lega, tau kalau aku dan ucup selamat. Aku langsung masuk kedalam, semuanya benar-benar hancur berantakan, dinding dan lantai retak tak karuan, lantainya juga sudah tidak rata lagi, galon berserakan dimana-mana, begitu juga dengan rumah ibuk kos ku, rumah yang biasanya kami anak kos dimarahi bila masuk memakai sendal, untuk malam itu ibuk kos menyuruh memakai sendal untuk masuk dalam rumahnya, karena lemari kacanya yang besar jatuh dan pecah, begitu juga dengan pajangan-pajangan yang terbuat dari keramik, benar-benar tak karuan. Malam berlanjut, cuaca yang tadinya gerimis mulai hujan, membasuh luka kota padang, menghanyutkan darah-darah korban dari gempa tersebut, malam itu sangat dingin, hujan semakin lama semakin lebat, disertai angin kencang yang tak karuan, dan beberapa gempa susulan kecil yang terus saja mengusik tidur kami yang dalam ketakutan, yang aku ingat hanyalah, ibu sudah pasti tak karuan dirumah, jikalau sudah tau dari televisi bagaimana keadaan kota padang malam ini, tapi perasaanku bilang, semuanya baik-baik saja. Malam kelam itu terlewati juga, pagi yang sangat sunyi datang membawa sedikit harapan, meski awan masih gelap dan menitikkan air hujan, perut kami semua mulai keroncongan, sudah tak ada lagi yang bisa dimakan, orang berjualanpun sudah tak ada, lebih baik mereka menyelamatkan diri dan berkumpul dengan keluarga dari pada berjualan, nyaris 1km kami berjalan kaki mencari makanan, tetap kota padang seperti kota mati, entah ada angin apa tiba-tiba sebuah bus jurusan kekampungku lewat dihadapan kami, kami yang rata-rata jalur rumahnya searah, langsung naik kemobil itu, yang ternyata masih kosong, tanpa menunggu kesempatan kami langsung naik, kami sudah ingat pulang, sepertinya rasa ingin pulang ini mengalahkan rasa lapar kami. Sepanjang jalan, hanya reruntuhan bangunan yang terlihat, jalanan retak, untung saja tidak ada jembatan yang runtuh, sampai akhirnya tiba disebuah tempat yang masih 40km lagi dari rumahku, disana terjadi longsor, hingga terjadi kemacetan panjang dan sangat tidak mungkin untuk bus sebesar itu melanjutkan perjalanan, hingga ia memutuskan untuk menurunkan semua penumpang ditempat itu dan mencari mobil lain untuk pulang. Sejauh itu hanya tinggal aku berdua dengan eby adik kelasku, kebetulan kita berdua satu kabupaten, namun beda kecamatan, aku melanjutkan perjalanan dengannya dengan berjalan kaki beberapa kilo, hingga sampai disimpang padang sawah, disana kita menunggu tumpangan untuk pulang, tak ada yang bisa memberi tumpangan, akhirnya aku dan eby mendapat tumpangan dari sebuah mobil pick up, distributor telur, mobilnya penuh dengan telur ayam, diapun bersedia memberikan kami tumpangan, namun hanya sampai kesimpang tiga, dari sana masih 10 km lagi kerumahku, akupun langsung menuju rumah abangku yang beristri orang sana, sesampainya disitu, istri abangku bilang, kalo abangku pergi kepadang pakai motor, memastikan aku dan uni meri baik-baik saja, namun aku sudah sampai dipasaman, akupun meminta agar seseorang mengantarku pulang dirumah, ada seorang sepupu istri abangku itu yang mengantarku pulang kerumah memakai motor. Sesampainya didepan rumah, aku melihat ayah sedang berjalan keluar dari rumah, sambil melipat lengan kemeja panjangnya, dia menatapku, wajahnya yang terlihat khawatir tampak lega melihatku, dia berteriak memanggil ibu, seraya berlari kecil mengejarku, kepinggir jalan raya, sesampainya didekatku, dia langsung memegang tanganku, hal yang sangat berbeda yang dia lakukan ketika aku pulang, aku sangat terharu, dia bilang "alhamdulillah kamu selamat, uni mana?" Tanya nya padaku, aku memang tak sempat memastikan keadaan uni ku, karena dipadang jaringa telfon maupun sinyal handphone sudah tak ada, tapi ayah bilang uni sudah menelfon, melalui telfon rumah, karena sepertinya jaringan telfon rumah tidak terganggu. September 2011 Bulan september 2011 ini mungkin akan segera berakhir, bulan yang aku rasa jauh lebih berat dibanding september 2 tahun yang lalu, Diawali dengan merusak acara wisuda uni ku tanggal 10 yang lalu, aku tak ingin membahasnya, tapi aku ingin meminta maaf pada uni, dihari yang hanya akan ia rasakan sekali seumur hidupnya, aku membuat ulah dan membuat ia meneteskan air mata dihari yang harusnya dia dijadikan ratu, dan membuat senyum diwajahnya, tapi aku memang keras kepala, sifat yang aku dapat dari ayah, kenapa aku harus dapat sifat buruknya, kenapa aku tidak dapat sikapnya yang pantang menyerah dalam bekerja, entahlah. Hari itu aku bertengkar hebat dengan ayah, disela-sela acara yang harusnya penuh dengan canda tawa. Maaf uni aku merusak segalanya. Tapi aku ingin menangis melihat apa yang telah dikorbankan ibu beberapa bulan sebelum acara ini dimulai. Dan ayah tetap saja bersikukuh dengan sikap keras kepalanya itu. Bahkan aku membuat tidak ada foto kelurga dihari itu. Aku hanya mencoreng wajah uni dimuka teman-temannya, rasa malu yang mungkin tak tertanggung lagi, tapi aku keras kepala seperti ayah, dan aku tetap pada pendirianku. Beberapa hari sebelum hari wisuda itu, pamanku meninggal dunia, aku memang jarang berinteraksi dengannya, aku hanya bertemu dengannya ketika shalat jum'at dan wirid pengajian dikampungku, serta sesekali bertemu ketika aku kebetulan lewat didepan rumahnya, tapi aku selalu bersalaman dengannya, senyumnya yang sangat lugu, jalannya, dan tutur katanya, sangat melekat jelas dalam benakku, masih teringat jelas diotakku september 2 tahun lalu, ketika aku sedang bercerita dengan ayah, apa yang terjadi dikota padang, persis sehari setelah gempa, sore ketika aku sudah berada dirumah, paman berjalan kaki bersama bibi, karena mereka tidak punya kendaraan, dari kejauhan terlihat sangat tergesa, dengan mimik wajah sangat panik, sesampai didepan warung milik ayahku, dia langsung memegangku dengan mata berbinar ingin mengeluarkan air mata dan menciumku, dia khawatir terjadi apa-apa denganku, diwajahnya terlihat agak tenang setelah tau kalau aku selamat dari musibah itu. Dan september tahun ini, dia, pamanku, pergi meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya. Aku sangat sedih. Beberapa hari setelah itu, aku berangkat kepalembang, melanjutkan pekerjaanku didaerah martapura, selang hanya beberapa hari disini, aku dapat sms dari siska adikku, kalu mak uwo, begitu kami biasa memanggilnya, guru mengajiku, sudah meninggal dunia, bulan september, aku sangat merasa sedih, dialah sosok yang bisa membuatku fasih membaca alquran lengkap dengan segala macam tajwidnya, didikannya memang keras, tapi semua itu terbukti, rombongannya yang ikut MTQ sangat ditakuti, bahkan beberapa muridnya selalu menang ditingkat provinsi. Mak uwo pulalah yang membuat aku bisa belajar tilawah, dan tartil, bahkan aku sempat ikut MTQ tingkat kecamatan meski hanya mendapat juara harapan 1, tapi itu sangat memuaskan aku. Dibenakku masih sangat jelas, saat aku mengisi malamku diwaktu masih sd dimushalla yang ia bangun sendiri, belajar mengaji dengan teman-teman lainnya, membayar dengan bayaran yang sangat-sangat murah, hanya 2500 perminggu dan perkeluarga, adapun 7 orang ngaji disitu, tapi semua kakak adik, tetap bayarnya hanya 2500 saja, dengan uang segitu bisa dapat ilmu yang sangat-sangat bermanfaat, malam minggu anak lelaki tidur dimushalla dan subuh nya ada acara didikan subuh, sampai pagi menjelang, dilanjutkan dengan acara goro membersihkan mushalla, masa kecilku yang indah, tiap malam belajar bersamanya, dan september ini, dia pun pergi meninggalkan semua muridnya untuk selama-lamanya. Bahkan tak sampai 2 hari setelahnya uni ku menelfon, dia mengabari aku, bahwa temannya satu kos, dan sama satu universitas meninggal dunia, dalam sebuah kecelakaan motor dengan kekasihnya, salah satu temannya bilang mereka memang pasangan terbaik, tuhan ngga ingin memisahkan orang itu berdua, sehingga tuhan memanggil mereka berdua berbarengan, aku tak tau bagaimana kejadian sebenarnya, tapi yang aku dengar seperti itu, dia hidup, dibesarkan orang tuanya, sekolah, dan kemudian menyelesaikan kuliahnya, wisuda dan dia pergi selamanya.. Uni bilang, kemaren, masih teringat jelas olehnya ketika dia memanggil uni ku "jeng mer".. Aku memang tak terlalu kenal siapa dia, tapi kenapa kisah sedih yang selalu diperdengarkan padaku september tahun ini? Ini lebih berat dari februari dan bulan mei yang lalu, jauh lebih berat.. Dan masih banyak lagi cerita suram september ini, mungkin ini hanya sebagian kecilnya, sebagian kecil yang aku ceritakan dipenghujung september.. Wake me up when september ends. Beberapa hari yang lalu aku menelfon ibu, disaat aku sangat galau tak karu-karuan, mendengar suara, cerita dan pesan ibu, membuat aku sangat tenang, sungguh sangat tenang, September yang galau, Jangan ceritakan lagi kisah sedih, Tulangku terasa remuk Mendengar nyanyianmu, Cepatlah berlalu bawa semua gundahmu, Kelak juga kau akan datang lagi, Mesti takkan pernah aku pastikan kita akan bertemu, Terimakasih untuk air matanya Terimakasih membuat aku tegar, Terimakasih mengajari aku untuk kuat, Terimakasih mengingatkan aku akan kematian, Selamat jalan semua yang tertinggal dibulan september, Semoga semua dapat tempat yang indah, lebih baik dari dunia, Aku mencintai Mencintai kalian yang tertinggal dibulan september, September ini.. September yang akan selalu aku kenang. September mengagumkan..... :'(

Thursday, 11 August 2011

Ikhlas

Sudah nyaris sepekan bulan ramadhan berjalan, terlihat jelas dimesjid, shaf yang awalnya penuh, mulai berkurang, semangat yang tinggi diawal tarawih mulai mengendor, termasuk aku, padahal tarawih disini hanya setengah jam, tapi kenapa aku merasa malas untuk melangkahkan kakiku datang kemesjid, aku tau aku melakukan hal ini untuk diriku sendiri, tetap saja rasa malas dan ngantuk membayangi aku setiap kali habis berbuka puasa, tapi selalu aku coba lawan, dan jadilah, tarawihku bolong-bolong beberapa malam, tapi jauh lebih baik ketimbang tahun kemaren, saat aku harus dipaksa kerja siang malam, hanya untuk pekerjaan erection yang aku anggap biasa-biasa saja, dan pekerjaanku hanya memegang kamera sambil terus berdiri dilapangan melihat semua orang bekerja.

Kembali kebeberapa minggu yang lalu, persis 1 ramadhan, sebelum berangkat tarawih malam pertama, sehabis menelfon dan shalat maghrib, aku menunggu dan menghabiskan waktu menonton tv, menunggu adzan isya dimesjid, aku tak tau pasti program apa yang sedang aku tonton, kisahnya seorang tukang jahit, yang hari demi hari mengumpulkan duit dari hasil jahitannya untuk berangkat haji, hingga tahunpun banyak terlewatkan, akhirnya sampai saat dimana uang itu sudah lengkap dan lebih dari cukup untuk berangkat haji, kisah ini sebenarnya sederhana, semua orang tau, ujung ceritanya, tiba-tiba tetangganya sakit parah dan membutuhkan banyak uang untuk biaya operasi, jalan cerita yang sangat mudah untuk dibaca, semua juga tau, makna ditayangkannya program itu, agar kita manusia, mau saling membantu sesama dan ikhlas dengan segala sesuatu.

Dan jujur, itu hanyalah tayangan fiktif yang diperagakan oleh orang-orang yang profesiaonal dibidang itu, tapi kenapa aku terbawa perasaan akan tayangan itu, aku merasa tak rela jika bapak tukang jahit tadi, dengan polos memberikan semua tabungan hajinya yang dikumpulkan bertahun-tahun demi tetangganya yang bisa dibilang sudah sangat sekarat, bahkan aku tak rela melihat kerelaan bapak tukang jahit itu mengubur kembali mimpinya yang nyaris tercapai.

Dari situ aku berfikir, aku sering kali berkata aku ikhlas kepada semua orang yang bertanya kepadaku tentang keikhlasanku, apa benar-benar aku sudah bisa menguasai ilmu ikhlas seperti yang dikatakan deddy mizwar dalam kiamat sudah dekat?, aku rasa tidak, meskipun aku takar seberapa banyak keikhlasanku, mungkin takkan sampai satu gelas, meski mungkin aku punya sedikit rasa ikhlas, tapi siapa orang yang bisa menakar seberapa ikhlasnya dia pada dirinya sendiri.

Apa yang mesti aku lakukan terhadap diriku sendiri,

Semalaman aku masih memikirkan hal itu, mungkin sebagian orang mengatakan, kenapa harus memikirkan hal yang tidak penting semacam itu, tapi aku tak bisa berhenti memikirkannya, sampai puasa pertamapun dimulai hari itu,
Dan hari itu bedug maghrib berbunyi, tak ada apa-apa waktu itu dimess tempat aku tinggal, dan hari pertama puasa, aku hanya berbuka dengan beberapa gelas air putih dan gorengan yang barusan dibeli diluar, aku tahu diluar sana, masih banyak orang-orang yang hanya bisa membatalkan puasanya dengan doa tanpa bisa menikmati setetespun air putih, apalagi es buah atau semacamnya termasuk juga makanan, dan dengan terpaksa harus kembali berpuasa sepanjang malam, tapi mengapa hatiku terus saja menggerutu berbuka puasa hanya dengan air putih saja dan beberapa gorengan untuk mengganjal perut, jujur beberapa hal seperti itu tanpa makan nasi, bisa membuatku kenyang dan tenang untuk melanjutkan shalat tarawih, tetapi aku tidak terima jika hanya berbuka dengan air putih saja, apa itu menandakan tidak ada ikhlas dalam hatiku?

Diawal ramadhan kali ini, aku diberi beberapa pelajaran, dan memaksa aku untuk mengerti, yaa jika aku ingin bisa ikhlas, aku harus mulai dari hal-hal kecil, aku harus mengikhlaskan hal-hal kecil terlebih dahulu, sebenarnya dari dulu aku sudah tau dengan yang namanya ikhlas, tapi ramadhan kali ini memaksa aku untuk mendalami lebih jauh tentang ikhlas, aku sangat bersyukur, karena lingkunganku senantiasa memberikan aku sebuah pembelajaraan, terkadang tanpa aku sadari, terimakasih ya rabb, membuat ekosistem yang begitu sempurna, dimana saja aku berada, terkadang hanya aku saja yang tidak menyadari, tingkah polahku diperhatikan, dan diajari dengan begitu saja, skenario paling indah yang pernah aku rasakan.


Wednesday, 3 August 2011

1 Ramadhan di "Martapura"


Suatu saat aku akan bercerita, kenapa aku bisa berada dikota kecil yang super bersih ini, ini bukanlah martapura yang berada dipulau kalimantan, ini adalah kisah martapura, yang terletak dikabupaten Oku Timur, Sumatera Selatan tepatnya, sekitar 6 jam dari kota palembang arah ke lampung. Kota yang sudah 3 kali berturut-turut mendapatkan piala adipura.

Tahun kedua dimana aku tak bisa berjabat tangan dengan keluarga terdekatku, untuk meminta maaf atas kesalahan yang selalu saja aku buat, tak bisa mencium tangan ayah ibu dan kakak-kakakku, serta minta maaf pada adikku, butuh waktu 6 jam dari sini kepalembang, butuh waktu 16 jam dari palembang ke padang, dan butuh 4 jam dari padang kerumahku, totalnya 26 jam, aku tak punya waktu sebanyak itu, dengan pekerjaanku yang sebanyak ini.

Ini hari minggu,31 agustus 2011, semua orang kantor yang rumahnya deket dari martapura, pulang kerumahnya masing-masing, sedangkan yang rumahnya jauh tetap berada di mess, tak ada niat kerja bagiku untuk hari ini, aku ingin santai sehari ini, tanpa ada volume-volume culvert yang membuat aku lumayan puyeng, tak sadar dalam ingatanku waktu itu, ternyata besok puasa pertama akan dimulai, siang tadi aku sempat liat di TV semua pada sibuk memberitakan keputusan menteri agama kapan 1 Ramadhan tepatnya, aku lihat jam tangan sudah nyaris pukul 17.00 wib, sedangkan aku belum shalat ashar, dan akupun lupa untuk mengisi pulsa akan menelfon semua yang ada dirumah, dikampungku tepatnya, segera aku whudu dan shalat, abis itu baru pergi keluar untuk membeli pulsa, sampai dimess kembali aku duduk dipinggir jalan depan mess, kebetulan mess yang aku tinggalin berada dalam komplek perumahan PU, dalamnya nyaman banget, ngga ada yang berisik, hijau lagi, aku duduk diatas rumput, sambil terus mencet handphone mencari nomor ayah.

Saat aku telfon ayah, suara halo dengan nada yang sangat aku kenal menyapa telingaku, sambil terus menanyakan bagaimana kabarku, “aku baik-baik saja ayah”, dan aku katakan padanya, bahwasanya aku ingin meminta maaf padanya, atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan padanya, aku kembali teringat akan sosok ayah, seseorang pekerja keras, sangat cerdas tanpa dia harus menyelesaikan sekolah dasarnya, karena kekurangan biaya dulu, tapi ayahku yang tidak lulus sd, bisa membuat satu anaknya menjadi seorang PNS, september depan anak perempuannya akan wisuda, dan anak ketiganya bisa menjadi salah satu karyawan perusahaan BUMN, dan anak yang terakhir, masih kelas 3 MTsN, aku tau betapa kerasnya hal yang dilakukan ayah sehingga menghasilkan itu semua, kasarnya, nyari uang itu emang sangat sulit terkadang, untuk orang-orang yang dipilih takdir. Sesuatu yang telah ditetapkan dengan harga mati, tanpa bisa ditawar lagi.

Aku menanyakan pada ayah dimana ibu, ayah bilang ibu sedang kepasar membeli beras, lantas aku bilang pada ayah untuk mengakhiri percakapan dan akan menelfon lagi nanti setelah ibu pulang dari pasar.

Habis memencet tombol reject, aku kembali mencari nomor abangku yang paling tua, namanya Desrimal, dibalik sosoknya yang dulu aku bilang antagonis, selalu marah padaku pada hal-hal yang tidak aku anggap salah, sebenarnya dia orang yang sangat-sangat perhatian kepada adik-adiknya, walau terkadang, caranya tak begitu benar, sehingga membuat kami adik-adiknya merasa risih, tapi aku tau, itu hanya ungkapan rasa sayang pada adik-adiknya, dulu ketika aku kecil saat dia sering marah-marah padaku, ingatan yang ada dalam otakku hanya, jika aku telah dewasa aku akan mengajaknya berantem, tapi setelah aku remaja seperti saat ini, tak ada dendam dihatiku atas apa yang dulu pernah terjadi, walaupun dulu aku menangis sejadi-jadinya karena dia. Mungkin fikiran yang sudah tidak pendek lagi membuat aku menyadari dari semua yang telah ia lakukan untuk aku. Harus aku akui, sosok dia, adalah salah satu yang membina hidupku sampai bisa seperti ini.

Dari kejauahan terdengar agak pelan suaranya, seperti biasa mengangkat telfon, ia mengatakan
“halo, Assalamualaikum, apo pi”
Hahaha, abangku tak begitu kreatif saat mengangkat telfon, misalkan aku tidak menjawab salamnya dia akan memberi ceramah pendek padaku, tanpa peduli ada berita apa yang akan aku sampaikan.
Dalam sendu sore dipenghujung bulan sya’ban itu sayup-sayup aku katakan, aku memanggil kakak padanya, suatu saat akan aku permasalahkan panggilan kakak ini,
“kak, kan udah mau puasa, biar puasanya afdhal, hanafi minta maaf yah kak, atas kesalahan hanafi selama ini sama kakak”
“iya, udah kakak maafin, tadi kakak juga udah liat kok diwall pesbuk kakak”
Yap sehari sebelumnya aku sudah nyoret-nyoret wall pesbuk semua keluargaku, siapa yang sangka? Ayah dan ibuku punya akun pesbuk.
Percakapan berlanjut dengan canda-canda lainnya, dari situ aku dapat kabar, kalau abangku dan keluarganya bakalan pergi kerumah ayah dan ibu, sore itu.

Saat aku ingin menelfon ayah kembali, aku masih sangat yakin, ibu pasti belum pulang dari pasar, akupun menelfon mami, mami ialah adik ibuku, aku panggil mami kepadanya, saat aku menelfon, butuh waktu lama untuk dia mengangkat telfonnya, tapi aku sabar kok sampai dia mengangkat telfonnya, awalnya saat telfon itu diangkat banyak aku dengar suara gaduh, setelah ia mengangkat telfonnya ternyata dia lagi bareng ibu membeli beras dipasar, setelah ngomong banyak dan juga meminta maaf padanya, aku minta supaya mami, memberikan handphonenya pada ibu, terdengar jelas suara ibu disitu, meski timing minta maafnya bener-bener ngga pas waktu itu, terserah mau memanggil aku lelaki pecundang dan cemen, aku meneteskan air mata, saat mendengar suara ibu yang sudah sangat aku kenal, rekaman nomor wahid dalam otakku, aku meminta maaf padanya sambil berlinang air mata, suasana sore itu juga sangat sendu dan sepi dikomplek itu, bahkan angin yang bertiuppun serasa tak ada disana, membuat aku makin sedih, mengingat dosa-dosaku pada ibu, bahkan beberapa bulan yang lalu aku nyaris membuat ibu menangis, aku tak tau apa ibu tau aku menangis atau tidak, yang jelas nada suaranya yang mengatakan telah memaafkan aku, seolah ingin menenangkanku dan mengusap punggungku, begitu aku merasakan sosok ibu dalam hidupku, bahkan hanya dengan suaranya bisa membuat aku tenang.

Dalam percakapan itu, disela-selanya aku bertanya, uni meri dimana, uni meri ialah kakak perempuanku, dia anak nomor dua, aku panggil uni kepadanya, layaknya seorang anak minang yang memanggil uni pada kakak perempuannya, saat aku bertanya uni meri dimana, ibu menjawab dia lagi dirumah, tapi besok udah balik lagi kepadang, kata ibu singkat menjelaskan, kalo uni meri hanya pulang dihari pertama.

Sebelumnya tadi aku sudah mencoba untuk menghubungi handphonenya, beberapa kali aku panggil, tak ada jawaban, tapi untuk kesekian kalinya aku panggil baru dia angkat telfon dariku, sebenarnya aku agak ragu menelfonnya, mengingat aku ada masalah kecil dengannya beberapa minggu yang lalu, bahkan aku sama sekali tidak memberi kabar bahwa aku berangkat kepalembang kepadanya, aku kesal padanya setelah mendengar cerita dia dari ibu, aku kesal karena dia sudah membuat ibu sedih, dia sudah buat ibu sakit hati dengan sikapnya, itu yang membuat aku kesal, sangat kesal padanya, aku kasihan melihat ibu, sehingga semua kata-kata kotorku ku lontarkan padanya, lewat sms yang panjang banget, sebagai ungkapan bahwa aku kecewa padanya, sangat kecewa.
Hal itu yang membuat aku berfikir, apa seharusnya aku minta maaf padanya?
Hati kecilku bilang, jelas aku harus meminta maaf padanya, kesalahan yang aku lakukan mungkin lebih buruk dari apa yang dia lakukan, aku tau posisinya yang tersudut saat itu, jauh lebih miris daripada keadaan aku, aku mengerti akan perasaannya, entahkah ini karmaku, terlalu sering menyakiti wanita, sehingga kakakku juga harus merasakan hal yang sama. Entahlah, aku tau posisi dia yang sangat bimbang, posisi dia yang terlalu percaya pada orang yang tak semestinya ia percayai, kata-kata apapun yang aku lontarkan, takkan buat ia mengerti, aku hanya kesal, aku tak mau mengajarinya, dia yang seharusnya mengajariku tentang dunia yang selama ini dia rasa. Tak pantas untukku menasehatinya, seharusnya akulah yang harus patuh dengan pilihannya, dan sebaik-baiknya aku yang harus meminta maaf padanya, aku yakin dia pasti memaafkan aku dengan tulus, karena apa, karena aku juga seorang kakak.

Benar, semua baik-baik saja, aku sering berantem dengan dia, apa lagi diwaktu aku kecil, seringkali aku tertekan olehnya, aku sama sekali tidak berani dengannya, bisa aku bilang, uni meri yang dulu itu kejam, tapi itu hasil pemikiranku ketika berumur 7 tahun, 12 tahun yang lalu, dia juga kakak yang baik, meski terkadang aku selalu membantah apa yang dia ucapkan.
Dalam percakapan telfon dengannya dari mulutnya dia sudah mengatakan, kalau dia memaafkan aku. Aku yakin hatinya juga berkata begitu, aamiin

Begitu juga dengan adikku, semoga dia baik-baik saja, aku punya kejutan kecil untuknya..

Tunggu lebaran datang!!