Sunday, 21 April 2013

Dua Satu



Dulu,  ketika aku mulai pandai berhitung, biasanya angka satu didepan dan angka dua selanjutnya, tapi hari ini aku akan menempuh 365 hari dengan angka dua didepan dan angka satu setelahnya..

Sebelumnya, segala puji bagi Allah yang masih memberi aku 365 hari lagi untuk terus belajar, untuk terus mencari, untuk terus berusaha, untuk terus mengerti, untuk terus memahami, untuk terus berbagi dan segala macam yang dapat aku lakukan dalam 365 hari yang berlalu, atau setahun dalam hitungan masehi.

Baru kemaren rasanya aku menulis tentang usiaku yang bertambah satu menjadi dua puluh dan hari ini bertambah lagi satu menjadi dua satu. Rasanya waktu begitu cepat berlalu.

Banyak hal yang dapat aku pahami dihari ini, awalnya aku berfikir ini benar-benar april yang salah, sampai pada akhirnya aku dapat sedikit memahami. Sejauh ini, april inilah april yang paling berarti, sangat berarti.

Dan semua yang terjadi selama april ini sampai pada tanggal 20, aku anggap itu hadiah ulang tahun, hadiah yang sangat berarti.

Awalnya aku memang merasa berat menerima ini, aku merasa dihadapkan pada april yang rasanya benar-benar kelam, diawali dengan ketika aku mulai menyukai salah seorang wanita, dan wanita itu tiba-tiba saja jadian dengan orang lain, padahal rasanya sudah sangat dekat. Aku memang terluka, aku memang kecewa. Lalu rasanya, aku sama sekali tidak pantas untuk sakit hati pada perilaku seorang wanita seperti dia. Yang aku dapat sangatlah sederhana, rasanya aku sudah tidak ingin main-main lagi dalam hal seperti ini, dan hasil pemikiranku sendiri. Aku belum meminta jodoh pada Allah, ketika aku yakin dia yang ada, ternyata Allah bilang tidak. Bukan dia yang selama ini aku cari, jawabannya begitu mudah. Bahkan yang telah memintapun masih ditangguhkan, apa lagi tidak meminta sama sekali, mana mungkin dapat.

Dan ditanggal 18 belas kemaren, aku kehilangan dompet. Dan satu hal yang aku pelajari lagi, ternyata kehilangan dompet itu lebih menyakitkan dari pada wanita yang diincar jadian dengan orang lain. Betapa tidak aku harus mengurus lagi semua kartu-kartu dan surat-surat yang hilang didalam dompet. Dan ini dalam kondisi ketika aku harus dihadapkan pada tanggung jawab pekerjaanku yang sudah menumpuk. Rasanya berat, rasanya ingin menangis tapi rasanya juga sangat tidak lucu, aku harus menangis karena hanya kehilangan dompet yang isinya hanyalah bersikap duniawi, aku semestinya menangis karena sering kehilangan waktu untuk menyentuhkan keningku kesajadah, tempat paling tertinggi dari gerakan shalat. Ya, rasanya aku terlalu angkuh meninggalkan itu semua. Tapi dibalik itu semua, aku dapat pelajaran yang sangat banyak dan berarti. Dan aku anggap ini hadiah paling dahsyat dihari-hari ulang tahun yang pernah aku lewati. Hadiah dari Allah, beberapa pembelajaran

Awalnya aku menyesalkan dengan apa yang terjadi, apa salah hanafi?
Dan aku dapat jawabannya, hanya perlu berfikiran positif dan berprasangka baik

Kenapa semuanya bisa terjadi?

Mungkin hanafi terlalu angkuh berjalan didunia dan sangat jarang bersujud mengakui kekecilan diri.
Mungkin hanafi terlalu angkuh tak pernah berdoa merasa bisa melakukan segalanya.
Mungkin hanafi bersedekah masih kurang.
Mungkin hanafi terlalu menganggap mudah semuanya.
Mungkin hanafi terlalu sering menyakiti hati orang dengan sikap maupun perkataan.

Ya, semua yang terjadi rasanya membuat aku harus intropeksi diri, apa yang sebenarnya salah denganku, karena semua yang benar itu datangnya dari Allah dan semua yang salah murni hasil perbuatan manusia.

Beberapa macam hal itulah yang dapat aku maknai, dari semua kejadian ini. Ini semua mengajarkan aku untuk ikhlas, mengajarkan aku untuk tidak lagi menyakiti perasaan orang, mengajarkan aku untuk tidak lagi ceroboh dan plin plan dalam mengambil keputusan yang pada akhirnya hanya akan menyusahkan diriku sendiri.

Dibalik hadiah yang istimewa itu semua, pada tanggal 20 ini, aku menganggap semua orang yang berinteraksi secara langsung ataupun tidak, merupakan hadiah spesial dari orang-orang itu.


Seperti,

Aku memasuki usia ke dua satu ditengah kerjaan yang menumpuk, aku masuk usia ke dua satu ketika sedang membuat peta situasi. Dan aku menganggap, ini hadiah ulang tahun spesial dari perusahaan tempat aku bekerja, bagiku mengeluh bukan lagi sebuah hal yang penting, karena sekeren apapun keluhan yang dibuat, toh ngga akan pernah menyelesaikan masalah. Hanya akan memperumit, nah dari pada aku mengeluhkan hal dimana aku harus memasuki usia ke dua satu dalam keadaan bekerja. Aku hanya akan menikmatinya saja sambil tetap berprasangka baik. Itu hadiah spesial dari perusahaan tempat aku bekerja.

Beberapa bulan yang lalu aku menghadiahi Ibu sebuah handphone, dan selama Ibu memakai Handphone itu, selama itu jugalah Ibu selalu menelfon sebanyak 5 kali sehari untuk memastikan aku sudah shalat apa belum, dan bagiku itu menjadi sebuah rutinitas, jika seharian Ibu ngga menelfon, maka aku akan balik menelfon ibu. Dan pagi 20 april, ibu menelfon sama seperti biasanya. Biasanya setelah mengucapkan Assalamualaikum, Ibu akan langsung bertanya sudah shalat shubuh apa belum, tapi kali ini Ibu mengawali percakapan yang berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, Ibu mengucapkan “Selamat Ulang Tahun..” mungkin tiga kalimat itu sederhana, tapi bagiku tiga kalimat itu punya arti sendiri ketika Ibu yang mengucapkannya. Bagiku dengan ketiga kalimat itu rasanya tidak ada lagi hadiah yang lebih spesial dari itu. Ya.. itu adalah hadiah Spesial dari ibu.

Karena lembur sampai jam setengah lima pagi, aku ketiduran sampai jam dua belas siang, sampai suara TV diluar kamar yang sedikit mengganggu membuat aku terbangun, pelan aku mendengar lagu india “main Hoon Na” aku suka lagu itu, aku juga suka cerita difilmnya, bagiku itu adalah hadiah spesial dari saluran TV itu. Karena tanggal 20 april dia menayangkan film yang aku suka. Mungkin yang ini hanya anggapanku saja.

Setelah selesai mandi, aku Firman dan Defri berangkat kuliah, ada Ujian matematika hari ini tepat ketika 20 april, semua berjalan seperti biasa sampai dikampus, setelah masuk keruang ujian dan sudah memasuki menit-menit terakhir ujian, tiba-tiba dosen matematika bernama pak Henri datang ketempat aku duduk, dan bertanya apakah aku kesulitan dalam menjawab soal yang dia berikan, dan memang ada beberapa yang belum aku dapatkan jawabannya, semua yang aku tulis dilembar ujian itu hanya hasil menyontek, karena aku benar-benar tidak pernah belajar diluar jam kuliah. Dan entah kenapa pak Henri duduk disebelah aku duduk dan menerangkan cara yang belum aku dapatkan. Dan bagiku itu adalah hadiah spesial dari pak Henri. Dia menunjukkan aku jawaban matematika yang dia sendiri yang membuat soalnya. Yaa itu hadiah spesial.

Sebenarnya sebelum ujian aku sudah menghubungi uni via bbm, aku memotret soal ujian dan aku kirim ke uni, karena uni sarjana matematika aku minta uni mencarikan jawabannya untukku. Tapi hanya kekecewaan yang aku dapat, katanya uni lagi dalam perjalanan ke depok dengan suaminya. Tapi tidak apa-apa, aku anggap itu hadiah spesial dari uni karena aku akan terus berusaha untuk selalu berprasangka baik. Dua hadiah spesial dari uni, yang pertama uni adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Terimakasih uni hadiah spesialnya.

Selama ujian, aku ditelfon oleh keponakanku yang bernama Abid, tiba-tiba mengucapkan selamat ulang tahun dan dia meminta hadiah kepadaku, dan setau aku orang yang berulang tahunlah yang dikasih hadiah lantas kenapa ini kebalik? Tapi ngga apa-apa, karena bagiku ini adalah hadiah spesial dari Abid dan abang aku Uda Iwan. Terimakasih Abid hadiah spesialnya.

Sehabis ditelfon abid, aku ingat abang kandungku sendiri, dan keponakanku lagi. Kenapa dari pagi belum sms maupun nelfon untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Tapi ya sudahlah, mungkin ini hadiah spesial dari Iky dan kakakku, terimakasih kakak, Iky hadiah spesialnya.

Pulang kuliah aku diajak Hadi, Mely, Defri dan Firman untuk makan, karena pagi aku sama sekali belum makan, dan selesai ujianpun sudah jam 4 sore. Aku dan orang-orang inipun pergi makan, sehabis makan karena dompetku baru saja hilang, maka orang-orang ini lah yang membayar makan. Lelaki macam apa aku ini, dibayarin orang untuk makan dihari ulang tahun, seharusnya kan aku yang traktir -_-. Dan ternyata setelah selesai makan ketika mereka ngumpulin duit buat bayar, ternyata duitnya kurang! Dan terpaksa Firman yang harus turun tangan buat pergi ke ATM terdekat untuk mengambil duit dan membayar makanan. Aku memang sedikit merepotkan. Dan bagiku ini hadiah spesial dari mereka, bayarin makan walaupun kerepotan, terimakasih Hadi, Mely, Firman, Defri hadiah spesialnya.

Sehabis makan aku langsung kekantor, sampai maghrib berlalu. Tiba-tiba Ari bbm, aku tekankan lagi, Ari ini adalah seorang perempuan, aku pernah menceritakan sedikit tentang dia sebelumnya, sebenarnya aku rada males nulis nama dia dalam blog ini, karena jika dia baca postingan yang memuat tentang nama dia, dia pasti bakalan minta royalti. Aku kan ngga dapet penghasilan apa-apa dari ngeblog, mau bayar royalti pake apa. Tapi aku coba sedikit nekat untuk menulis namanya. Karena dia tiga kali memberi aku “HADIAH SPESIAL” tanggal 20 ini.

Dia bbm ngajak untuk makan jagung bakar dijembatan siti nurbaya, dia sempat nanya kenapa jembatan itu namanya siti nurbaya, karena dia orang semarang jadi dia ngga banyak tau tentang padang, dan sampai saat inipun aku sendiri masih belum paham dengan jembatan itu sendiri. Bahkan aku sendiri tidak tau, kenapa namanya jembatan siti nurbaya, kenapa banyak sekali orang jualan jagung diatas jembatan tersebut, kenapa banyak sekali orang pergi pacaran kejembatan itu, dan masih banyak pertanyaan lain yang belum terjawab, hmm jembatan itu memang penuh dengan misteri -_-“
 
Eh, kok malah ngurusin jembatan sih, aku pun bertemu dengan Ari, dia berdua dengan Mery, bukan uni aku ini Mery yang lain lagi. Kita bertemu didepan kantorku, dan berniat langsung kejembatan siti nurbaya. Tapi ketika mau sampai kejembatan, Mery ngajak makan dulu disebuah tempat makan yang deket dari jembatan itu, kali ini Mery yang bayar dan untuk kedua kalinya, lelaki macam apa aku ini, kembali makan dibayarin orang dihari aku berulang tahun. Tapi setuju ngga setuju aku ingin mengatakan kalo itu adalah hadiah spesial dari Mery, sudah bayarin makan malam. Terimakasih Mery hadiah spesialnya.

Dan setelah makan, ketika Mery akan membayar makanan, seperti biasa aku sering kali menjahili Ari, dan kali itu sepertinya dia sudah ngga punya kata-kata lagi untuk mengungkapkan sakit hatinya, dia terlihat sangat kesal dan seperti ingin memakan aku, eh tunggu dulu, mungkin istilah memakan terlalu kanibal, ganti saja. Ari keliatan sangat kesal dan ingin memukul aku, lalu aku lari dan dia tidak bisa melampiaskan kekesalannya. Entahkah ini kutukan atau bagaimana, yang pasti ketika Ari sakit hati kepadaku, pasti yang jadi korban adalah KUKU JEMPOL KAKIKU SEBELAH KANAN, sama seperti dulu aku Ari, Mery, dan Defri pergi nonton kebioskop, rasanya jadul sekali memakai istilah bioskop ketika yang lain sudah menyebutnya dengan sebutan 21. -_-  aku juga sempat membuatnya sakit hati karena menendang-nendang sendalnya, lalu aku menendang salah satu anak tangga, dan kuku kakiku yang jadi korban, darahnya belepotan keman-mana, sama halnya dengan malam 20 april itu, ketika dia sakit hati, dan kuku jempol kakiku yang sebelah kanan kena ban motor yang susah sekali mengeluarkannya dari parkiran. Kuku jempolku patah dan kembali mengeluarkan darah. Tapi bagaimanapun juga, aku menganggap itu hadiah spesial pertama dari Ari. Aku harus selalu berprasangka baik. Terimakasih Ari hadiah spesialnya.

Sehabis makan malam, Aku, Mery dan Ari langsung naik kejembatan siti nurbaya untuk makan jagung bakar, dan kali ini Ari yang bayar. Dan untuk ketiga kalinya, Lelaki macam apa aku ini, makan jagung dibayarin dihari ulang tahunku sendiri, tapi walau Ari setuju ataupun ngga, aku akan anggap ini hadiah spesial kedua dari Ari. Terimakasih Ari hadiah spesial keduanya

Jam setengah sebelas malam, aku mengantar orang berdua itu kekosannya, dan aku kembali kekantor, aku membuka laptop dan mulai mengetikkan postingan blog ini. Tak lama Firman dan Defri balik dari bermain futsal, dan mereka berdua nonton bola diruang TV, sedang aku sibuk dengan laptop, dan ketika jam menunjukkan pukul setengah satu, tiba-tiba Ari menelfon. Sambil nangis bilang handphonenya yang satu lagi hilang, dan kemungkinan besar tuh handphone ketinggalan ditempat kita makan jagung tadi, dan dia minta supaya aku datang kekosannya dan nemenin dia buat balik lagi ke jembatan itu, dan aku kasihan juga mendengar dia nangis terisak-isak karena kehilangan handphone, lalu aku langsung keruang TV dan bilang sama Defri dan Firman bawa handphonenya Ari ilang, dan aku juga minta temenin sama orang berdua itu untuk ikut nyariin.

Aku berfikir, ini triple surprise attack dari Ari, aku menganggapnya tetap, ini hadiah spesial ketiga dari Ari, dia kehilangan Handphonenya ketika tadi pergi keluar dengan aku, dan sekarang aku harus terlibat ketika handphonenya hilang.

Ketika sampai dikosannya aku dan Ari duluan menuju jembatan, sedang Firman dan Defri nungguin Mery yang katanya lagi make baju. Aku ngebut berdua dengan Ari kelokasi hilangnya Handphone, sepanjang jalan Ari nangis terisak-isak, aku kasihan sekali melihatnya, tapi dalam hati aku sudah ada niat, buat menertawaan dia, karena tadi dia mengejekku mengatakn kekayaanku ngga lebih dari NOL rupiah sekarang karena kehilangan dompet. Nanti aku juga akan mengejeknya karena nangis terisak-isak karena kehilangan handphone.

Sampai ditempat yang kata Ari disana hilangnya, aku bertanya pada ibu yang jualan jagung, dan dia bilang ngga ada ngeliat Handphone. Lalu aku dan Ari mutusin buat nyari tuh Handphone ditempat makan malam yang tadi. Sampai disana  setelah dicari diparkiranpun tetap ngga ketemu. Dan entah kenapa Defri pengen ngebuktiin buat balik lagi ketempat Ibu yang jualan jagung, dan aku ngikut aja.

Sampai disana, tiba-tiba Mery mengeluarkan sebuah kue sambil ketawa cekikikan persis kuntilanak, dan ngga tau kenapa Ari juga tiba-tiba ikutan mirip kuntilanak, ketawanya maksudnya. Yaaaaaa ternyata hilang handphone hanyalah sebuah skenario yang mereka susun agar aku keluar dari kantor malam itu. Mereka membuat surprise sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka DUA SATU diatasnya. Dan aku sama sekali tidak menyangka, Ari bisa akting seperti itu. Rasa kasihanku hilang berubah menjadi perasaan entah apalah namanya.

Tapi aku seneng banget, buat diketahui saja. Ini pertama kalinya dihidup aku, ulang tahun niup lilin. Ada kue ulang tahunnya lagi. Emang setahun belakangan ini jadi tradisi kita,  ketika ada yang ulang tahun kita bakalan bikin surprise buat yang ulang tahun. Tapi hari dimana aku ulang tahun, akus edih sekali, kenapa giliran aku ngga ada kuenya. Awalnya aku berfikiran seperti itu, karna aku lihat. Defri Firman Mery Ari cuek-cuek aja dengan tanggal 20 ini. Tapi ya sudah, toh biasa aja kalau aku ulang tahun ngga ada yang spesial. Seperti tahun-tahun sebelumnya, palingan aku memaknai ulang tahun itu sendirian. Tapi mereka sengaja mengundur surprise nya ampe tengah malem, biar aku berkecil hati dan sedih dulu, sedih kalo mereka lupa kalo tanggal 20 aku ulang tahun. Malah Defri punya ide lebih ekstrim lagi, yang lain pengen nunda ampe tengah malem, defri pengen nunda sampe dua bulan kedepan.

Kalian hadir dengan warna baru dihidup aku, padahal kenal dengan Defri dan Firman sudah 3 tahun, tapi baru beberapa bulan belakangan ini mulai terasa dekatnya berteman.

Terimakasih sudah membuat aku khawatir dengan skenario yang kalian buat, akting Ari yang semestinya masuk nominasi di PANASDINGIN AWARD. Dan semua-semuanya. Meski surprisenya sudah ditanggal 21. Mungkin ini menandakan aku ulang tahun yang ke DUA SATU.

Dan ini sudah jam 4 pagi, aku masih duduk didepan laptop untuk menuliskan ini semua.
MERI, DEFRI, ARI, FIRMAN.. terimakasih untuk malam ini
Dengan kalian rasanya aku punya arti!
Dengan kalian juga, aku belajar banyak hal, dan aku minta maaf seringkali membuat kalian kesal. Semoga kalian mengerti dengan tipikal hanafi.
Hanafi cinta kalian dari hati.


Dan
Selamat ulang tahun hanafi, tetaplah menjadi hanafi. . . . .
Untuk tahun ini, selalu berprasangka baik dan lakukan yang terbaik!!



Wednesday, 20 February 2013

Cerita Tiga Hari #1


Tekanan showbiz? Mungkin ini yang sekarang sedikit menjadi beban, seminggu yang lalu aku berfikir mungkin sebaiknya aku pulang  saja kerumah dulu dan meminta libur selama tiga hari. Aku ingin melepas penat dengan cara yang aku suka. Pulang kerumah bertemu keluarga, dan kembali melihat-lihat kampung yang selama nyaris 6 tahun ini hanya beberapa hari saja aku habiskan disana. Yang paling lama hanya ketika lebaran, aku bisa stay dikampung selama 2 minggu.

Beda waktu pulang, beda cerita yang aku dapat. Pulang kali ini aku menyebutnya pulang kenangan, karena bertemu beberapa hal yang membuat aku kembali membongkar kotak-kotak kenangan yang ada diotakku. Wajah-wajah itu, jalanan itu, huft begitu berat rasanya menerima, ini sudah masuk tahun kesembilan berlalu, dan aku menyebutnya begitu saja.

Kegiatan pertama yang aku lakukan dirumah adalah menjeput keponakan kerumah abangku dan berniat membawanya kesebuah tempat wisata dikampung. Sekalian aku ingin ke mess tempat proyek aku bekerja yang sekarang pekerjaannya terhenti karena warga menolak pembangunan jembatan disitu dan ingin dipindahkan kekampungnya. Karena nyaris dua bulan proyek itu terhenti, aku ingin mengambil bajuku yang juga sudah 2 bulan disana ngga ada yang ngurus.

Sebelum berangkat ketempat wisata itu, karena keponakanku belum makan dari pagi dirumahnya, terpaksa aku yang terlebih dahulu menyuapinya makan, karena ibu juga sibuk dengan warung nasinya sekarang. Rasanya begitu lucu. ini alami saja, keponakanku sangat susah untuk menyuruhnya makan, tapi dengan caraku sendiri yang begitu mengalir dan alamiah, aku berhasil membuatnya mau makan bahkan bisa dibilang dengan porsi sangat banyak. Hari ini aku menyuapi keponakanku, mungkin disuatu hari yang lain beberapa tahun kedepan, mungkin aku sudah menyuapi anakku sendiri.

Aku ingat kembali belakangan ini, biasanya ayah tidak pernah serius menasehati aku tentang pasangan, tapi sekarang ayah sudah mulai serius tentang itu, dan ini begitu lucu rasanya. Ketika keluarga tau aku mulai dekat dengan beberapa perempuan, ibu dan ayah menelfon menanyakan aku sudah punya pacar apa belum. Dan selalu mewanti-wanti “kamu jangan pernah nyakitin anak gadis orang yah” selalu saja kata-kata itu yang aku dapat ketika ayah dan ibu sudah membicarakan jodoh, mengingat setelah uni menikah akulah anak selanjutnya yang diancam dengan kata-kata “kapan kawin?”, sampai pada akhirnya aku mengerti betapa menyebalkannya dipertanyakan dengan pertanyaan semacam itu, tapi aku berusaha menikmatinya, mengingat belum ada siapapun yang telah duduk manis dalam relung hati yang aku simpan sangat dalam, belum ada seorangpun yang bisa membuat aku benar-benar jatuh cinta. Kalau hanya rasa suka, banyak sekali perempuan yang aku sukai, namun yang benar-benar membuat aku mabuk rasanya belum ada.

Kadang aku berfikir, dijodohkan mungkin jauh lebih baik, karena aku hanya tidak ingin mengecewakan ayah dan ibu dengan pilihanku sendiri. Rasanya begitu egois bila aku harus memaksakan kehendakku tanpa memikirkan perasaan orang lain. Disisi lain aku juga percaya cinta itu diciptakan, bukan datang dengan sendirinya, hanya kita sendiri yang tidak sadar, ketika melihat pesona seseorang kita telah membuat begitu banyak cinta berterbangan didalam hati, terkadang cinta itu menjadi suatu hal yang sangat sederhana, tetapi terkadang cinta juga bisa menjadi begitu rumit untuk diartikan. Mario teguh juga bilang, cinta sejati itu tidak ada kalau bukan kita yang mensejatikannya. Dan satu lagi, nyari sendiri atau dijodohkan itu bagiku bukan sebuah pilihan. Jika jalannya kita bisa menemukan dan menjeputnya sendiri ketangan tuhan kita akan dapat, karena jodoh ditangan tuhan, kalo ngga dijemput. Ya jodoh bakalan tetap ditangan tuhan. Hanya caranya saja yang berbeda. Dan tetap aku yakin sekali dijodohkan atau nyari jodoh sendiri itu bukanlah sebuah pilihan.

Ngajakin ponakan ke proyek, deket tumpukan tiang Pancang

abis itu ngajak ponakan main dipantai

Wednesday, 13 February 2013

Pelangi Chapter I


Lagi, kembali aku memencet tuts tuts keyboard ini ketika diluar, dijantung kota kecil ini masih menetes riuh hujan berkejaran dari langit. Nyaris seperti rinai, tapi sepertinya lebih layak dipanggil hujan. Yap hujan yang menutup malam ini.

Aku ngga begitu tau harus dari mana memulainya. Rasanya ini hanya masuk dalam hidupku begitu saja, dan membuatnya begitu berbeda. Ada warna yang datang dan sedikit merubah warna langit dihidupku. Dari dulu aku ngga pernah bisa, menulis sebuah arti yang dalam tentang apa yang sedang aku lalui bersama orang lain, jika hanya bercerita tentang apa yang aku lakukan dengan orang-orang yang tengah aku lalui mungkin bisa. Tapi tidak untuk mereka yang punya arti. Tapi malam ini aku coba paksa kan.

Satu setengah tahun yang lalu, aku tengah sibuk menggambar sendiri peta kehidupanku, dimana pinggiran laut akan aku garis, atau dimana letak gundukan gunung akan aku tumpukkan, semua terasa rapi dan sempurna. Mimpi-mimpi itu, aku ingin berjalan egois sendiri ditengah peta yang masih aku rancang itu. Tapi tidak semudah itu, tuhan punya skenario lain yang jauh lebih sempurna, hanya saja waktu itu aku tidak begitu menyadari apa yang akan aku jalani akan lebih berarti bila megikuti alur skenario tuhan, atau aku harus keluar dari zona nyamanku.

Saat itu aku berencana ditengah kesibukanku bekerja, aku akan melanjutkan kuliah dengan begitu gampangnya sendiri selama 4 tahun dan menyelesaikannya begitu saja, dan rasanya aku tidak butuh orang lain. Egois sekali memang. Tapi skenario tuhan ternyata tidak begitu, ketika aku sampai pada bulan-bulan awal perkuliahan, aku harus dipindah tugaskan ketempat yang jauh. Aku masih bisa rasakan buramnya sore itu ketika aku akan berangkat jauh ada ayah dan ibu didapur ketika itu. Dan rasanya semua peta itu hancur berantakan, mimpi jangka panjangku mulai berhenti disitu.

Sampai saat ini aku sadar sendiri, ini bukan lagi tentang kuliah, atau tentang mimpi jangka panjang itu. Bahkan tuhan memberi cerita yang begitu lebih berarti.

Aku teringat kembali percakapanku dengan temen satu kos uni, ketika kemaren aku sempat bertemu lagi dengannya, aku punya kesempatan bertemu karena nganter undangan pernikahan uni. Undangan untuk temen-temennya yang masih setia mengenakan almamater kampus, sedangkan uni sendiri, sudah bersiap untuk duduk dipelaminan waktu itu.

Namanya Prima. Dan bukan nama samaran, sumpah waktu itu aku kaget banget ngeliat dia, mungkin udah 2 taunan ngga ketemu sama dia, aku fikir ketika dia keluar dari kosannya, yang keluar itu Mita the virgin, “EEHH buset, Mita kos disini yakk!!” aku nyaris SHOOCKKK!!!, sekarang dia rasanya jauh dari kata cantik, manis dan imut, dulu itu ketika tahun 2008 dia juga pernah datang kerumahku, ketika acara resepsi pernikahan abang aku yang paling gede, rambutnya panjang dikasih poni, cakeepppp banget!, dan sifatnya, sedikit bertolak belakang deh, ngga perlu deh aku ceritain aib orang, pissss kak Prima.

Dan ternyata yang keluar itu Prima bukan Mita, seperti biasa basa-basi nanya kabar dan dia nanya iam, hufft udah 2 tahun juga waktu itu aku sangat jarang ketemu iam, dan iam selalu sibuk dengan perkuliahaannya, dan aku mengerti.

Entah darimana awalnya aku dan Prima sampai pada cerita tentang “Teman dan Sahabat”, dia mulai bercerita tentang teman-teman SMA-nya yang semenjak kuliah jadi rada-rada sombong, prima berfikir mungkin teman-teman yang seperti itu merasa mereka jauh lebih bermartabat dengan teman-temannya yang sekarang dan mungkin merasa jauh lebih intelektual sehingga meninggalkan bahkan melupakan teman-teman lamanya yang sudah jauh hari saling berkenalan. Hal yang sama seperti aku fikirkan, entahlah bagaimana orang lain, yang jelas aku juga merasakan hal yang sama, ketika kita sudah lepas dari lingkaran pergaulan itu dan menemukan lingkaran baru disitu akan sangat terlihat sekali siapa yang teman, dan mana yang sahabat. Jawabannya ketika kita ngga bisa mengartikan pergaulan kita teman atau sahabat, dengan sangat mudah waktu yang akan menjawabnya.

Banyak sekali aku menemukan orang yang semacam itu dalam hidupku, ketika kemarin-kemarin aku mencoba lagi untuk bertemu dan bersilaturrahmi dengan teman-teman lamaku, memang aku memulainya dengan menghubungi satu persatu dengan handphone. Banyak yang langsung kenal, dan ada yang lama mikirnya, dan juga banyak yang sama sekali ngga kenal lagi dengan aku bahkan setelah aku menyebutkan namaku padanya. Entahkah mereka benar-benar lupa, atau memang aku tidak pernah punya arti dalam hidup mereka.

Percakapan aku dengan Prima berhenti karena temen-temen kosnya berteriak dari dalam, ingin membeli beras. Dan aku tersenyum geli serta kagum, ini sudah 4 tahun lebih dia kuliah dan kos ditempat ini, dan selama itu juga dia jualan beras dikosannya, aku bingung sendiri, tampilan visual dia, sikapnya, perilakunya, dan pemikirannya semua bertolak belakang, kadang aku berfikir Prima itu makhluk paling komplit yang pernah aku temui, dan juga susah ditebak.

Aku kembali kekantor malam itu, rasanya Limau manis dan Padang Baru itu jauh banget! Ngga kayak biasa dulu, aku sering kekosannya itu pake F1ZR nya iam, bahkan naik angkot, tapi semua terasa dekat! Sepanjang jalan aku berfikir, barangkali itulah yang jurang pemisah antara TEMAN dan SAHABAT!

Teman itu akan lapuk dan hancur dimakan ruang dan waktu, tapi Sahabat ngga akan pernah terpisah oleh ruang dan waktu!

Sejauh apapun ruang, ngga akan pernah menghapus rindu pada sahabat. Selama apapun waktu, ngga akan pernah menghapus memori-memori yang pernah ada tentang sahabat, tapi kenangan dengan teman akan cepat termakan usia. Karena itu aku mengatakan, waktu bisa menjawab tentang arti teman dan sahabat!

Untuk sahabat aku Sisil, yang setiap saat bertanya. Apa beda antara teman dan sahabat, bagiku inilah jawaban sederhananya, sangat simpel.

to be continuous to Chapter II
*******

sumber gambar : http://putriejrs.blogspot.com/2012/01/makna-7-warna-pelangi.html

Wednesday, 23 January 2013

Sikap


“Ri.. kamu pernah sakit hati ngga sih sama aku?”
“kenapa?”
“aku kan sering kurang ajar sama kamu”
“iya, tapi kamu kan becanda”

Dari mana harusnya kita mengukur tingkat kedewasaan?, entahlah. Beberapa hari ini aku merasa jadi orang asing, pada awalnya memang kita semua orang asing, tapi bukan ditengah-tengah orang yang kita kenal, bukan juga ditengah-tengah orang yang kita benar-benar peduli.

Mungkin tingkat kedewasaan itu ngga bisa diukur sama sekali, siapa orang yang bener-bener bisa menyatakan dirinya dewasa?.  Setelah aku sadar didesakkan pada kata dewasa, aku sama sekali ngga pernah berharap jadi dewasa.

Mungkin diam adalah pilihan paling tepat, diam adalah pilihan paling dewasa ketika ada orang yang secara gamblang menyatakan dirinya sakit hati pada kita. Tulisan ini memang sangat abstrak, aku orangnya memang sangat sangat sangat sensitif, jangankan masalah besar, masalah kecil aja bisa membuat aku kacau, dan menulis seperti ini bisa mengurangi sesak itu, MENULIS ABSTRAK.

Jujur saja, dimanapun aku berada ketika aku sudah mulai bisa beradaptasi dalam suatu lingkungan dan dekat dengan komunitas yang ada didalamnya. Sifat aku yang sebenernya bakalan keluar, aku ngga pernah mau mengakuinya, tapi aku adalah seorang trouble maker. Meribut dimanapun, didalam kelas, ketika diluar bersama teman-teman, bahkan diperusahaan tempat aku bekerja ini, orang-orang yang pernah satu tim denganku diproyek diseluruh sumatera ini, tau betapa trouble maker-nya aku.

Dan satu lagi, dalam hal caci mencaci sejauh ini Cuma beberapa orang saja yang bisa mengungguli aku. Dan ngga lain tujuan aku sebenernya Cuma buat becandaan doang kok, buat ketawa-ketawa sama-sama. Tapi dibalik itu semua, aku tau akan satu hal. Aku juga orang yang sering ngomongin orang. Ngomongin temen sekantor, ngomongin siapa aja.

Yaa namanya ngomongin orang, kita ngomongin tentang baiknya orangpun tetep aja dilarang dan dosa, yang penting namanya ngomongin orang. Nah semua didunia ini pasti ada timbal baliknya, ketika kita ngomongin orang, diluar sana pasti juga banyak banget orang yang juga ngomongin kita, itu pasti. Dan tentang itu juga, dari sifat dan cara kita bersikap pasti banyak yang suka dan banyak yang ngga suka bahkan benci. Barangkali sakit hati karena mereka bukan tipikal orang yang bisa dibecandain.

Mungkin sifat tak perlu kita ubah, sekarang bagaimana caranya bersikap yang perlu diperhatikan. Tentang becandaan seperti apa yang seharusnya kita tunjukkan pada orang-orang tertentu. Namun, kalo memang secara sadar kita paham sifat kita memang kelewatan dan banyak yang kontra, ngga ada salahnya untuk merubah sifat kita, meski kita ngga comfort merubah sifat kita sendiri, ngga dosa kok, mau berubah jadi lebih baik, aku sih berfikir salah banget, orang yang merasa nyaman dengan semua sifat buruknya. Bukan kita kok yang menilai diri kita sendiri, tapi orang lain. Percuma kita berkoar kita yang paling hebat, ketika hidup kita biasa saja, orang ngga akan pernah percaya kalo kita hebat.

Eh, kok aku jadi nyeramahin orang gini sih?, kan yang dalam masalah ini sekarang kan aku.

Makasih banget deh buat Ari, dari kata-katanya yang sederhana, membuat aku bisa jadi sedikit paham dalam mengambil sikap. Dari sini aku heran bagaimana caranya mengukur tingkat kedewasaan. Sebelumnya lebih baik aku luruskan dulu, percakapan diatas adalah percakapan aku dan Ari ketika aku mengantarnya pulang ke kosannya yang ada didekat kampus, gerimis menemani percakapan itu sepulang dari rumah seorang dosen yang memberikan kami tugas matematika, dan percaya ngga percaya walaupun namanya Ari, tapi katanya dia Perempuan, katanya sih. Ya, setelah ditanya walau aku ngga tau dia jujur apa ngga, katanya dia seneng kok temenan sama orang seperti aku, karena dia ngomong gitu, dengan senang hati, akupun mulai percaya kalau dia itu perempuan, yapp Perempuan yang manis dengan caranya sendiri.

Diluar masih hujan ketika aku selesai mengetikkan semua kata-kata yang bisa membuat aku sedikit tenang ini. Pada akhirnya aku akan menyadari sedikit. Kita mungkin takkan pernah bisa jadi yang terbaik, tapi ngga ada salahnya buat mencoba melakukan hal baik dengan cara yang terbaik. Aku akan terus memperhatikannya, ketika ada sifat dan sikapku yang salah, sekerasnya aku akan merubahnya. Aku senang bisa jadi diriku sendiri, dan diletakkan ditengah-tengah orang yang bisa sedikit mengerti aku, walau hanya sedikit dan itu sangat patut untuk disukuri.


Note :
Hufftt yang membuat aku sedikit bermuram durja lagi, ini khusus buat KAMU!. ngga kerasa yah, ini udah masuk tahun keenam ketika dulu kamu menghancurkan semuanya. Tapi aku patut berbangga hati, waktu yang cukup panjang untuk aku membangun kembali semangat-semangat yang pernah kamu hancurkan, sampai saat ini tak ada dendam, dan melihat apa yang terjadi sekarang, memang tidak ada harapan lagi untuk bisa mendapatkan kamu kembali. Tapi yang tersisa dihatiku hanya harapan kosong, bukan lagi memprioritaskan kamu, enam tahun ini aku sudah terbiasa dengan hari-hari yang kamu buat kelam, tapi kamu ngga akan pernah tau. Dibalik kelam yang kamu tanam. Ada ribuan cahaya terang yang melebihi cahaya matahari menemani langkahku 6 tahun ini. Silih berganti cahaya itu datang dan pergi, tapi tak ada yang menanam kelam. Aku hanya akan menyadari RASAKU YANG DULU ITU HANYA OBSESI, meski aku selalu mengingat kamu, kamu bukan lagi mimpi indah, kamu bukan lagi tujuanku. Dan aku sangat yakin, bukan kamu tulang rusukku yang hilang!
Terimakasih waktu, lambat laun kamu membuatku sadar, aku terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengingat kamu dan mengingat rasa sakit yang dulu itu. Hari ini aku bahagia bisa jadi diriku sendiri TANPA BAYANG-BAYANG KAMU!!

Gambarnya ngga nyambung

Friday, 18 January 2013

Tentang Uni dan Perihal Baju Dinas


Kata-katanya sederhana. Tapi juga menusuk aku yang sebenarnya bukanlah objek sindiran Ayah pagi itu. Pagi yang berbeda ketika Ika adikku paling kecil sedang tidak dirumah, yang ada hanya aku dan Uni.

“baa ka bangga wak ko haa.. pagi-pagi anak wak lah pakai baju dinas sadoalah e.. baju dinas ayah ma?”

Mungkin yang mendengar hanya akan merasakan sedikit rasa bangga, tapi dari tiap penekanan disetiap katanya. Aku tau ayah sangat merasa bangga punya anak yang punya pakaian dinas. Aku memang tak pernah merasa apa yang aku raih aku dapatkan sendiri dengan kemampuanku, aku sangat sadar, ada bayang-bayang ayah yang selalu sedari dulu menopang aku yang rapuh, Ayah yang mengangkat aku tinggi-tinggi hingga aku dapat menjangkau semua mimpi yang ada dalam anganku.

Aku hanya tersenyum sedikit getir mendengar hal itu, disatu sisi aku sangat merasa bahagia, sempat melambungkan Ayah dalam sebuah rasa yang mungkin suatu hari dulu pernah ia impikan, ketika aku didekap dalam pangkuannya, mungkin ayah menatapku dalam ketidak tahuanku dulu, berharap aku menjadi seorang berguna, meski hanya untuk orang-orang yang berada disekelilingku.

Disisi lainnya itu hanyalah sindiran Ayah untuk uni, pagi itu baju dinas paginya masih tergantung rapi disalah satu paku yang menancap kedinding, baju itu berwarna biru, seragam Bank milik negara dan bisa dikatakan selalu berada digaris depan antara Bank besar lainnya.

Aku rasa sangat besar perjuangan uni untuk bisa mendaftarkan namanya disalah satu daftar absen pegawai di Bank itu. Dan bagaimanapun, tanpa sepenuhnya dia tahu, ada Ayah yang punya harapan besar ketika uni menjalani semua test dan berhasil menjadi salah satu yang terbaik. Uni selalu beruntung, dari dulu selalu berada dikalangan orang-orang terbaik.

Mungkin rasanya sangat menjengkelkan, ketika kita mulai merasa, ada tangan lain yang membantu setiap sukses yang kita rasa, tapi itu lumrahnya, tak ada orang yang sukses tanpa orang lain.

Maksud Ayah menyindir, hanya karena dia sedikit  kecewa dengan jalan yang telah dipilih uni. Jika berjalan lancar, usai pernikahannya nanti, uni ingin ikut calon suaminya yang bekerja di jakarta. Tapi jalan yang dipilih uni masih sangat lumrah, hal yang sangat wajar sekali untuk seorang wanita untuk ikut suaminya kemanapun suaminya akan pergi.

Beberapa bulan belakangan aku memang lebih banyak memilih diam, aku sudah terlalu masuk jauh dalam kehidupan uni, aku terlalu banyak mengaturnya, mungkin dia juga jengah. Mendengar cerca dari aku adiknya yang seharusnya tidak mengeluarkan kata-kata yang membuatnya sakit hati.

Siapa aku? Apa aku lebih mengerti dari dia?. Grade aku mungkin masih sangat jauh dibawahnya, apa yang aku katakan selama ini mungkin saja hanya sok tau agar terlihat hebat olehnya.

Yah aku hanya akan diam sampai semuanya benar-benar indah pada akhirnya, aku tau uni punya alasan yang kuat untuk memilih jalan yang bahkan ayah dan ibupun sedikit ada rasa kecewa dengan pilihan uni tersebut, mungkin memang berat bagi uni atas semua pilihan-pilihan yang mengelilingi uni bulan-bulan yang lalu, uni punya rasa cinta, uni punya lelaki yang benar-benar dia cintai, dan aku juga sangat yakin tak sedikitpun terniat dihati uni untuk mengecewakan ayah dan ibu, aku bisa lihat, ketika aku dan uni jauh dari rumah, setiap perpisahan dengan rumah bahkan hanya beberapa detik aku bisa lihat tatapannya yang rindu pada ibu, hatinya yang benar-benar mencintai ibu, aku bisa lihat itu.

Tapi hanya untuk disekedar diketahui, ayah ibu adalah orang paling demokratis didunia, selama itu masih benar-benar logis dalam fikirannya ayah dan ibu ngga akan pernah melarang apa yang anak-anaknya mau, kami dibiarkan saja berkembang sendiri tapi tetap dalam pengawasan dan bimbingannya yang sangat tegas, mungkin itu yang membentuk pribadi kami yang benar-benar dijadikan “orang” oleh ayah dan ibu.

Hari ini sudah nyaris sebulan setelah ayah resmi menikahkan uni dengan orang yang benar-benar telah sah menjadi suami uni dan kakak iparku. Dan lagi, rumah ayah dan ibu sepi lagi, perihal baju dinas, aku masih memakainya, dan senyum ayah selalu berbeda ketika aku mengenakan pakaian dinas itu, aku senang melihat senyuman itu, pakaian dinas uni, sudah dipensiunkan kedalam lemari.

Hari ini uni sudah dijakarta tinggal bersama suaminya, fase baru dihidupnya telah dimulai, waktu akan berangkat kejakarta kemaren ibu ikut mengantar uni kejakarta, dan aku sangat yakin. Dibandara ketika ibu akan pulang kembali kerumah, uni pasti nangis abis-abisan saat ibu sudah masuk kebandara. Uni masih cengeng dalam hal-hal seperti ini.

Selamat menempuh kehidupan yang baru ya uni, bersama pria beruntung yang telah uni pilih, semoga semuanya baik-baik saja, aku sama sekali ngga mau lagi nge-judge uni, aku punya pesan sederhana. Sangat sederhana untuk uni satu-satunya didunia, uni yang juga tempramen seperti ayah, uni yang suka menindas aku ketika masih kecil, uni yang berlagak bos ketika waktu kecil kita main bersama, uni yang juga sama keras kepalanya dengan ayah, dan ketika jauh dari rumah, ketika kita sama-sama kos dikota padang, uni juga sangat lembut seperti ibu, tapi tetap aku sangat tidak suka dipanggil “dik sayang..” -_- aku benci panggilan itu.

Uni tau kan? Apa yang terjadi dibulan-bulan sebelum pernikahan uni, mungkin tak perlu han jelaskan lagi apa yang terjadi, berkat kesabaran dan ketegaran uni semuanya alhamdulillah jadi lancar, memang ada sedikit kecewa dari orang-orang terdekat.

Jadi pesan sederhana han ialah. Jika banyak yang kecewa dengan jalan yang uni pilih, bahkan ayah dan ibu juga menyayangkan uni harus meninggalkan pekerjaan uni yang lumayan menjanjikan. Mulailah berfikir melingkar.

Sederhananya begini “Bahagiakan Ayah dan Ibu dengan jalan yang telah uni Pilih”.
Buktikan jalan yang uni pilih adalah jalan yang paling tepat untuk semuanya, untuk uni, suami uni, Ayah, Ibu dan semuanya. Jika hari ini mereka kecewa, buktikan suatu hari nanti mereka akan merasa lebih kecewa jika uni tidak memilih jalan yang telah uni pilih.

Sederhana ‘kan?
Ingat ini terus yah uni, bagaimanapun..
Han meminta pada uni,

BAHAGIAKAN AYAH DAN IBU DENGAN JALAN YANG TELAH UNI PILIH..