Sunday, 19 February 2012

Pagi yang Sendu Hatinya


Ketika musim hujan datang,
Sendu merundung pagi,
Yang terbiasa tetes embun,
Diganti gerimis langsung dari langit,

Pagi yang sendu hatinya,
Ku persembahkan secangkir kopi,
Untuk pagi yang sendu hatinya,
Tertawa melewati malam,

Dan jikalau harus memilih,
Dari pada mencintaimu,
Aku lebih memilih,
Secangkir kopi hangat,
Dipagi yang sendu hatinya

Friday, 17 February 2012

Monoton



Banyak aku mendengar akan keluhan setiap orang, 80% dari keluhannya itu ialah, merasa kehidupannya monoton, ada lagu yang bilang terjerat dalam sistem industri, hanya terlahir, sekolah, bekerja dan akhirnya mati. Terfikir olehku kehidupan yang bagaimana sih? Yang selalu mereka anggap monoton. Pernah ada yang bercerita sih, kalo kerjaannya setiap hari, saat mentari terbit, dia bersiap berangkat kekantor, melakukan aktifitas seperti biasa, sebagaimana pekerjaannya setiap hari, hingga sore seluruh target kerjanya seharian selesai, sudah waktunya untuk pulang, dan hal yang sama berulang kali ia lakukan setiap hari, sampai akhirnya sampai pada sebuah titik limitnya, dan apa saat berada dititik itukah yang monoton? Entahlah aku tak tau, terkadang disaat aku jenuh akan semua pekerjaanku, aku juga mengatakan hal yang sama “betapa monotonnya hidupku ini” terlahir, diperbudak perindustrian, diinjak, bahkan bekerja melebihi waktu jam kerja, tentu semua ada batasnya, apa disaat berada dibatas itu yang dinamakan monoton??

Aku rasa tidak, nyaris 5 bulan aku tak bekerja sama sekali, menghabiskan waktuku sia-sia, aku hanya datang kekantor tanpa melakukan apa-apa, malah terkesan hanya merepotkan orang-orang dikantor,dan disaat seperti itu, meski banyak libur yang aku rasa, aku juga jenuh dan merasa bosan, ingin sekali rasanya balik keproyek dan memulai kesibukan dengan bekerja seperti biasanya, apa itu juga termasuk hal yang monoton, tidak melakukan apa-apa, dan yang mana yang benar?

Bagiku, monoton itu kehidupan seseorang yang masih bergantung hidup pada orang lain, tanpa melakukan apa-apa, bisa dibilang secara kasar pengangguran yang tidak mau berusaha, dan malas, bagiku itu yang monoton, setidaknya orang yang lelah bekerja itu, selalu punya pemikiran bahwasanya betapa lebih lelahnya menjadi seorang pengangguran, benar terkadang dia hanya bertanggung jawab akan dirinya sendiri, beban pikirannya jauh lebih berat dibanding orang yang bekerja, suatu saat jika seseorang telah kehilangan pekerjaannya, disaat itulah dia sadar hal yang mereka anggap monoton, sebenarnya adalah hal yang sangat baik yang pernah ia lakukan.

Aku ingin berandai-andai,
Seandainya petani yang bekerja disawah punya suatu pemikiran bahwa pekerjaannya monoton, bayangkan saja, pagi buta ia sudah bangun, mempersiapkan peralatan sawahnya, bahkan sebelum matahari terbit terkadang dia sudah berada diantara jalan setapak yang menuju sawahnya, membajak sawah, menanam padi, dan mengurus semuanya, mulai dari merawat padi selama enam bulan, harus menjaga padi sepanjang hari dari ribuan burung pipit yang selalu mencuri kesempatan untuk bertengger diatas rumpun padi, dan itu ia lakukan setiap hari sepanjang tahun dalam usianya,
Jika andaikan 50 % dari petani yang bekerja seperti itu sudah berfikir dan menganggap dirinya monoton, sudahlah, harga beras akan melambung sangat tinggi dan menjadi langka, lalu yang berprofesi tidak menjadi petani, mau makan apa? Seperti itulah hasil dan jasa dari kerja petani yang terkadang setiap orang berfikiran, hidupnya monoton, hanya berputar-putar disitu saja, tapi hal monoton yang dia lakukan itu, membawa manfaat yang sangat besar bagi orang banyak.

Dan disaat seseorang bekerja 5 hari dalam seminggu, melakukan hal yang sama dalam pekerjaannya setiap hari, terkadang masih saja merasa hidupnya sangatlah monoton, dengan alasan, hal itulah yang berulang kali dia lakukan tiap minggu sepanjang tahun, tapi kalo difikir kembali, apa sebenarnya yang dia inginkan? Disaat diberi pekerjaan bagus, dengan hitungan Cuma 5 hari dalam seminggu, diawal dia akan merasa sangat bersyukur dengan apa yang telah ia dapat, tapi beberapa bulan kedepan, dia mulai jenuh, dan berkata hidupnya sangat monoton, lalu kemana rasa syukur yang dulu?, lantas apa keinginan dia yang sebenarnya. Apa itu yang monoton? Itulah kewajiban, dia digaji untuk pekerjaan monoton tersebut, toh disetiap hari libur, dia bisa bersenang-senang dengan apa yang dia punya, hasil dari pekerjaan monotonnya, dan bagiku, ketika aku mulai merasa hidupku monoton, disaat itulah aku ditampar oleh diriku sendiri, kemana rasa syukurku sebanyak air yang ada disamudera dulu?.

Jika aku melakukan suatu hal berulang-ulang setiap harinya, tapi aku tidak mendapatkan hasil dari kerja kerasku itu, disaat itulah aku merasa hal monoton,
Tetapi ketika aku bekerja, melakukan hal yang sama berulang-ulang, setiap hari sepanjang hidupku, dan aku bisa membahagiakan orang disekelilingku atas kerja kerasku, dan lagi aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan hasil dari pekerjaan yang berulang-ulang itu, menurutku itu bukanlah monoton, itu hanya rasa jenuh, yang memang harus dihilangkan, dengan refreshing berlibur dengan waktu tertentu, dan menyisakan waktu untuk tertawa bersama teman-teman, karena monoton itu adalah nol, monoton itu tidak mempunyai nilai, jika masih ada yang merasa hidupnya monoton, berfikiranlah, bahwa monoton itu yang membayarmu, untuk mendapatkan apapun.

Itulah tuntutan hidup yang harus dijalani,  “terlahir, sekolah, bekerja, mati” tergantung individu kita, membuat skenario dengan rencana sebaik mungkin untuk melewati semua fase itu, meski takdir itu sudah ditentukan. Tidak ada salahnya untuk mencoba, karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau bukan kaum itu sendiri yang mulai merubahnya. Jadi manusia diberi pilihan, membuat jalan hidup yang indah, dengan fikiran positif, atau membuat jalan hidup yang berantakan karena selalu berfikiran buruk tentang segala hal sesuatunya.

Makna sebenarnya, diri sendirilah, yang membuat kita merasa hidup monoton, padahal, hal yang monoton itu sebenarnya tidak ada. Monoton itu ada ketika kita tidak melakukan hal yang berguna untuk kita dan orang lain, jadi.. monoton sama saja dengan tidak bersyukur, hehehe.

Tuesday, 14 February 2012

Serumpun Rumput Laut


Aku bukan rumput laut,
Berayun mengikuti gelombang tak berarah,
Tempat bersembunyi setiap kesalahan,
Aku awan bergulung yang gelap,
Terkadang tak diinginkan,
Tetapi sesekali ditunggu karna patah arang,
Tak kuasa menahan sengat kehidupan,

Hatiku pohon beringin,
Mengikat erat sulit tuk dilepaskan,
Lebih keras dari batu yang aku lihat ditepian sungai,
 Lebih gelap dari seperempat waktu malam,

Engkau satu yang mampu menerangi,
Saat aku mulai melihat jejak pagi yang akan datang,
Tak berhati kau lepas genggam eratku,
Kau lari, aku tertinggal tak lagi melihat,
Terpaksa ku tunggu matahari,

Aku mencarimu sepanjang hari,
Saat warna jingga senja membalut hatiku,
Aku menemukanmu, kututupi kesalahanmu,
Aku menjadi rumput laut,aku melupakan janjiku,
Tapi yang aku lihat, kau telah genggam tangan yang lain,
Dan aku tau, itu bukanlah tangan kananku.


puisi ini pernah aku kirimin ke salah satu surat kabar lokal,
yahhh tapi ngga dimuat,,
yasudah masukin blog ajaa,,


Monday, 13 February 2012

Lagi..


Beberapa hal yang sungguh sangat aneh..
Ini sudah terjadi beberapa tahun belakangan..
Tapi baru hari ini gue mulai menyadarinya..
Subuh tadi gue ketiduran, karena kebiasaan aneh ngga bisa tidur kalo belum lewat jam 12 malam..
Menjelang pagi saat gue akan bangun..
Dengan anehnya lu nyelip dalam mimpi gue..
Hal  yang selalu terjadi dikala gue bakalan deketin cewek lain..
Gue nanya, lu lagi apa disini..
Dengan ketusnya menjawab “mau ke wc!!” Cuma itu yang lu bilang..
Dan habis itu berlalu, dalam mimpi itu tiba-tiba gue dapet sms dari elu,

“aku mau ke b.olo
Mau kekampus..”

b. olo? Belakang olo maksud lu?
Gue ngga bales sms itu..
Karena suara berisik tv diruang tengah bikin gue kebangun.. buyar sudah mimpi itu..

Faktanya...
-    -  Gue selalu mimpiin elu disaat gue mau deketin cewek lain..
-    -  Lu selalu nyelip diantara mimpi-mimpi gue menjelang pagi saat gue akan bangun..
-    -  Karakter lu selalu beda dalam mimpi gue..
-    -  Padahal gue sudah berusaha keras ngelupain lu, kenapa masih terbawa mimpi..
-    -  Gue ngerasa ilfeel ama sikap lu, tapi itu sementara..


Huuffftthhhhhh..
Apa-apaan sih ini..?
Kenapa lu mesti ada dalam hidup gue?
Kenapa gue mesti suka sih sama lu?
Sumpah!!! Gue ngga terlalu kenal denga tipikal orang kayak elu yang menurut gue aneh..
Tapi seaneh apapun.. lebih aneh lagu gue yang ngga bisa benci sama elu..
Gue udah banyak banget bikin postingan tentang elu, dan lu harus tau.. elu sumber inspirasi 80% puisi yang gue buat..
Dan entahlah,, apa mungkin lu bakalan baca setiap kata yang gue buat disini..

Apa yang mesti gue lakuin supaya lu itu jadi orang yang biasa aja dihidup gue? Gue sakit BEGOO!!!!!!!!

Saturday, 11 February 2012

beautiful mess


Nyaris dua tahun aku meninggalkan bangku pendidikan, “a beautiful mess”, aku merangkai lagi mimpi-mimpiku yang hancur berantakan, rencana “satu tahun” aku dulu, semakin berlanjut dengan hal yang sama sekali tidak aku inginkan, tapi ini begitu indah, tapi begitu tak sesuai dengan rencanaku, apa karena sudah terlanjur basah, aku harus tetap berendam, meski aku tak sanggup untuk berenang terlalu lama?

3 bulan itu waktu yang sangat singkat, bila dijalani dengan senang hati, mei taun ini kontrakku dengan perusahaan ini akan habis, dan aku berada dalam hutan dilema, jalan mana yang harus aku tempuh untuk menjalani ini lagi, kemaren saat dirumah, besar keinginanku untuk tidak memperpanjang kontrak dan kembali kebangku pendidikan, karena aku sudah ketinggalan 4 semester dari teman-teman seumuranku, dan jikalau harus keluar dan fokus kuliah, apa setelah dua tahun hidup dengan biaya sendiri, harus kembali lagi membebani semua pada orang tua, ibu bilang ibu masih sanggup membiayai, tapi aku tak bisa melepaskan seperti itu saja. Meski ada keinginan untuk bekerja diperusahaan kontraktor lokal,

Tapi ada beberapa alasan yang membuatku ingin bertahan diperusahaan ini, jelas pengalaman yang lebih, aku dapat dari pada teman-temanku yang kuliah, beratnya kerja diproyek (aku suka bagian yang ini), statusnya yang BUMN, mencakup keseluruh indonesia, dan perusahaan ini sangatlah besar, meski tergolong BUMN kecil dari perusahaan yang bergerak dibidang yang sama, dan plus. Kekeluargaan yang tinggi, kekeluargaan yang hangat, perusahaan ini seperti sebuah keluarga yang sangat besar, dan aku senang bisa menjadi salah satu dari ruang lingkupnya, ketika aku kemedan, disana ada, dipadang apalagi, aku kepekan baru ada, aku kepalembang ada, dan sulit rasanya untuk memutus itu semua, meski terkadang aku tau, beratnya tekanan dalam bekerja, membuat aku kesal dan jengkel, tapi setidaknya aku bersyukur punya gaji yang sama besarnya dengan abangku yang statusnya PNS, meski terkadang aku merasa gaji itu kecil dibanding apa yang aku kerjakan, tetapi setelah aku pikir, ternyata tidak, itu sudah sangat besar untuk pekerjaan ringan seperti ini, lihat saja teman aku oyong, disetiap akan masuk tahun pelajaran baru, dia harus menarik kayu dari hutan untuk membeli seragam buku dan beberapa peralatan sekolah lainnya, termasuk untuk membayar uang kos serta biaya sekolahnya dulu waktu aku masih MTs.

Di 2011 aku punya rencana untuk masuk perguruan tinggi, terhalang karena aku harus dinas dipedalaman sumatera selatan, dan 2012 ini kontrak aku abis, 2 tahun bekerja, tak ada barang 100 ribu pun yang aku tabung dari semuanya selama 2 tahun, dengan apa aku harus mengakhiri semuanya, sehingga ada niat untuk melanjutkan kontrak 1 tahun lagi dan setelah itu keluar, karena aku ingin menabung dulu, untuk keperluan semuanya, dan nyari pekerjaan sampingan diwaktu kuliah, dalam peta kehidupan yang aku rancang dulu, seharusnya aku sudah tamat kulaih diumur 23 atau 24 tahun, tapi berantakan, peta itu kena air hujan, dan semua tintanya meleleh, aku nyasar meski apa yang aku lalui sangat indah, tetap saja aku nyasar, semoga aku bisa sampai ketujuan dengan selamat, meski Allah memberi jalan yang lain, yang mungkin lebih jauh dan lebih terjal dari apa yang seharusnya aku lalui, Allah memberi kepercayaan padaku untuk menjalani hal yang seperti ini mungkin karena menurut-NYA aku sanggup menjalani hidup seperti ini, takdir memaksa aku untuk mengambil kepercayaan itu, dan aku tak boleh menyianyiakannya.

Aku bingung, harus memilih apa, lanjutkan kontrak, atau kuliah? Ini menyulitkan posisiku, pekerjaan rumah ini takkan selesai dibulan agustus,