Monday, 13 February 2012

Lagi..


Beberapa hal yang sungguh sangat aneh..
Ini sudah terjadi beberapa tahun belakangan..
Tapi baru hari ini gue mulai menyadarinya..
Subuh tadi gue ketiduran, karena kebiasaan aneh ngga bisa tidur kalo belum lewat jam 12 malam..
Menjelang pagi saat gue akan bangun..
Dengan anehnya lu nyelip dalam mimpi gue..
Hal  yang selalu terjadi dikala gue bakalan deketin cewek lain..
Gue nanya, lu lagi apa disini..
Dengan ketusnya menjawab “mau ke wc!!” Cuma itu yang lu bilang..
Dan habis itu berlalu, dalam mimpi itu tiba-tiba gue dapet sms dari elu,

“aku mau ke b.olo
Mau kekampus..”

b. olo? Belakang olo maksud lu?
Gue ngga bales sms itu..
Karena suara berisik tv diruang tengah bikin gue kebangun.. buyar sudah mimpi itu..

Faktanya...
-    -  Gue selalu mimpiin elu disaat gue mau deketin cewek lain..
-    -  Lu selalu nyelip diantara mimpi-mimpi gue menjelang pagi saat gue akan bangun..
-    -  Karakter lu selalu beda dalam mimpi gue..
-    -  Padahal gue sudah berusaha keras ngelupain lu, kenapa masih terbawa mimpi..
-    -  Gue ngerasa ilfeel ama sikap lu, tapi itu sementara..


Huuffftthhhhhh..
Apa-apaan sih ini..?
Kenapa lu mesti ada dalam hidup gue?
Kenapa gue mesti suka sih sama lu?
Sumpah!!! Gue ngga terlalu kenal denga tipikal orang kayak elu yang menurut gue aneh..
Tapi seaneh apapun.. lebih aneh lagu gue yang ngga bisa benci sama elu..
Gue udah banyak banget bikin postingan tentang elu, dan lu harus tau.. elu sumber inspirasi 80% puisi yang gue buat..
Dan entahlah,, apa mungkin lu bakalan baca setiap kata yang gue buat disini..

Apa yang mesti gue lakuin supaya lu itu jadi orang yang biasa aja dihidup gue? Gue sakit BEGOO!!!!!!!!

Saturday, 11 February 2012

beautiful mess


Nyaris dua tahun aku meninggalkan bangku pendidikan, “a beautiful mess”, aku merangkai lagi mimpi-mimpiku yang hancur berantakan, rencana “satu tahun” aku dulu, semakin berlanjut dengan hal yang sama sekali tidak aku inginkan, tapi ini begitu indah, tapi begitu tak sesuai dengan rencanaku, apa karena sudah terlanjur basah, aku harus tetap berendam, meski aku tak sanggup untuk berenang terlalu lama?

3 bulan itu waktu yang sangat singkat, bila dijalani dengan senang hati, mei taun ini kontrakku dengan perusahaan ini akan habis, dan aku berada dalam hutan dilema, jalan mana yang harus aku tempuh untuk menjalani ini lagi, kemaren saat dirumah, besar keinginanku untuk tidak memperpanjang kontrak dan kembali kebangku pendidikan, karena aku sudah ketinggalan 4 semester dari teman-teman seumuranku, dan jikalau harus keluar dan fokus kuliah, apa setelah dua tahun hidup dengan biaya sendiri, harus kembali lagi membebani semua pada orang tua, ibu bilang ibu masih sanggup membiayai, tapi aku tak bisa melepaskan seperti itu saja. Meski ada keinginan untuk bekerja diperusahaan kontraktor lokal,

Tapi ada beberapa alasan yang membuatku ingin bertahan diperusahaan ini, jelas pengalaman yang lebih, aku dapat dari pada teman-temanku yang kuliah, beratnya kerja diproyek (aku suka bagian yang ini), statusnya yang BUMN, mencakup keseluruh indonesia, dan perusahaan ini sangatlah besar, meski tergolong BUMN kecil dari perusahaan yang bergerak dibidang yang sama, dan plus. Kekeluargaan yang tinggi, kekeluargaan yang hangat, perusahaan ini seperti sebuah keluarga yang sangat besar, dan aku senang bisa menjadi salah satu dari ruang lingkupnya, ketika aku kemedan, disana ada, dipadang apalagi, aku kepekan baru ada, aku kepalembang ada, dan sulit rasanya untuk memutus itu semua, meski terkadang aku tau, beratnya tekanan dalam bekerja, membuat aku kesal dan jengkel, tapi setidaknya aku bersyukur punya gaji yang sama besarnya dengan abangku yang statusnya PNS, meski terkadang aku merasa gaji itu kecil dibanding apa yang aku kerjakan, tetapi setelah aku pikir, ternyata tidak, itu sudah sangat besar untuk pekerjaan ringan seperti ini, lihat saja teman aku oyong, disetiap akan masuk tahun pelajaran baru, dia harus menarik kayu dari hutan untuk membeli seragam buku dan beberapa peralatan sekolah lainnya, termasuk untuk membayar uang kos serta biaya sekolahnya dulu waktu aku masih MTs.

Di 2011 aku punya rencana untuk masuk perguruan tinggi, terhalang karena aku harus dinas dipedalaman sumatera selatan, dan 2012 ini kontrak aku abis, 2 tahun bekerja, tak ada barang 100 ribu pun yang aku tabung dari semuanya selama 2 tahun, dengan apa aku harus mengakhiri semuanya, sehingga ada niat untuk melanjutkan kontrak 1 tahun lagi dan setelah itu keluar, karena aku ingin menabung dulu, untuk keperluan semuanya, dan nyari pekerjaan sampingan diwaktu kuliah, dalam peta kehidupan yang aku rancang dulu, seharusnya aku sudah tamat kulaih diumur 23 atau 24 tahun, tapi berantakan, peta itu kena air hujan, dan semua tintanya meleleh, aku nyasar meski apa yang aku lalui sangat indah, tetap saja aku nyasar, semoga aku bisa sampai ketujuan dengan selamat, meski Allah memberi jalan yang lain, yang mungkin lebih jauh dan lebih terjal dari apa yang seharusnya aku lalui, Allah memberi kepercayaan padaku untuk menjalani hal yang seperti ini mungkin karena menurut-NYA aku sanggup menjalani hidup seperti ini, takdir memaksa aku untuk mengambil kepercayaan itu, dan aku tak boleh menyianyiakannya.

Aku bingung, harus memilih apa, lanjutkan kontrak, atau kuliah? Ini menyulitkan posisiku, pekerjaan rumah ini takkan selesai dibulan agustus, 

Thursday, 19 January 2012

Yang Pergi,,


“sudahlah, kenapa dirimu masih menunduk sepi dan terus meneteskan air mata?”

suara seorang pemuda yang sedikit agak menggema, dengan nada yang sangat pelan dan mengisyaratkan bahwa hatinya sedang sangat sedih, dibalik rindang dedaunan pemakaman yang tengah berfotosintesis, 


“peduli apa kamu?”

Lantang dan sangat jelas wanita itu layaknya marah, emosi yang sekonyong-konyong tengah labil, ditinggal pendamping hidup sampai dunia kiamat.


“yang pergi lepaskanlah, jangan sampai kau membuatnya begitu sedih, berilah nafas untuk takdir terus berjalan semestinya, ada yang telah mengatur, suatu hari ditempat yang lain, dirimu pasti akan bertemu lagi dengannya, tuhan tidak ingkar janji”

 Wanita itu menatap tajam dengan matanya yang merah berlinang air mata disekujur pipinya, seakan tak terima, karena takkan ada yang mengerti kecamuk yang meronta hebat dihatinya, ini adalah marah, yang paling marah ia rasakan pada pemuda itu.


“teteskanlah air mata, itu sisi lebih yang diberi tuhan untukmu, bahkan tuhan tak beri air mata itu untuk malaikat sekalipun, tapi percayalah, pelangi itu tak pernah datang jikalau tak hujan, masih banyak fase yang mesti dirimu lalui, tuhan maha tahu, tuhan sangat mengerti, tuhan memberi kepercayaan padamu, ini cerita sedih yang telah tuhan selesaikan sebelum dirimu lahir, jadi terimalah kepercayaan itu, jangan pernah kecewakan tuhan, dirimu bukan satu-satunya makhluk yang merasakan hal semacam ini, percayalah”

 Pemuda itu merunduk dan memegang pundak perempuan yang lebih tua dari dia itu, matanya yang tadi tajam berubah sayu, wanita itu berdiri sambil tetap dipegang oleh sang pemuda, teringat puluhan tahun yang lalu saat dahulu, dialah yang mengajarkan pemuda ini untuk berdiri dan berjalan, dan hari itu, pemuda ini yang mengajarkannya untuk tetaplah terus berjalan, adik yang dia cintai...


 Untuk semua yang pergi,
Entahlah,
Hatiku berkecamuk,
 Ikhlas yang terucap dimulut itu rasanya sangat jauh dari hati.
Aku juga akan sama rasakan, dan meninggalkan buram, Yang begitu muram, ketempat yang suram, Berteman nisan yang sepi,
Tapi aku hanya berusaha mensyukuri apa yang telah aku punya,
Dan sekerasnya, Aku berusaha mengikhlaskan segala apa yang telah pergi,


 Hujan masih belum berhenti,,

Sunday, 8 January 2012

Muterin Sumatera Barat

Taukan? Provinsi Sumatera Barat? Hehehe, kampung halaman dimana aku dibesarkan, meski tak dilahirkan dikampung halaman sendiri, sungguh sangat menggerahkan, tiga bulan kerja rodi tanpa berhenti, sehingga tulisan blog inipun terbengkalai dengan sedemikian rupa, ini postingan pertama ditahun 2012, cerita punya cerita, akhir taun kemaren dapat juga cuti tiga bulanan yang dari dulu memang jarang aku lakukan, mungkin karena terlalu jauh, aku sangat inigin menikmati perjalanannya, dengan prosedur yang sangat lumayan rumit, akhirnya dapat ijin pulang tanggal 26 desember 2011, meski akhirnya berangkat tanggal 28 karena terlambat dapat travel dari palembang kepadang, banyak yang mudik juga ternyata akhir taun, dan akhirnya tanggal 30 baru nyampe dirumah, planning taun baruan bersama teman-temanpun batal sebatal-batalnya, karena nggak mungkin sehari dirumah alias pasaman barat yang kira-kira masih 200 km lagi dari kota padang, harus kembali kekota padang berkumpul dengan teman-teman yang disana, dan hasilnya, taun baruan bakar ikan bersama abang-abang sekeluarga dan keponakan-keponakan. Tapi asik juga, :)
Karena nggak ada kerjaan dirumah, akupun berencana pergi main kekota padang ketemu teman-teman satu stm dulu, tanggal 2 pun aku berangkat, aku pergi bersama kakak perempuanku, aku harus mengantarnya dulu kekota bukittinggi, dengan motor pastinya, dia punya “acara” apaaa gitu disana, tapi aku senang juga mengantarnya kebukittinggi, sekalian aku bisa main-main juga disana, melihat jam gadang, yang kayak itu mulu dari dulu..


Nah.. apa hubungannya dengan sumatera barat? Setelah dikipir-kipir, wisata alam sumatera barat lumayan banyak juga, meski aku tak sempat mengabadikan semuanya dalam kamera ponsel, karena aku Cuma lewat dijalur yang tertera digambar ini nihh...




Ada 4 lokasi yang aku mau perkenalkan, meskipun kalo orang sumatera barat sendiri udah tau, ngga apa-apa yang penting bulan ini aku bikin postingan, mudah-mudahan aja bermanfaat, ohh ya catatannya, ini perjalanan aku sendiri, dan foto-fotonya aku yang motret sendiri,

Dimulai perjalanan aku dari rumah meninggalkan kabupaten pasaman barat, memasuki kabupaten agam, dimana dikabupaten ini ada sebuah danau besar yang bisa dikatakan terbesar disumatera barat, disini juga ada sebuah PLTA yang memanfaatkan air dari danau tersebut dan nama danaunya, DANAU MANINJAU, hawa yang sejuk, bahkan tergolong dingin dan aku tak tau berapakah ketinggiannya dimuka laut, yang pasti dingin sekali didaerah ini, adem dan tidak terlalu banyak penduduk, masyarakatnya rata-rata bekerja sebagai peternak ikan air tawar, yang memanfaatkan danau yang luas itu, dan juga banyak yang bekerja sebagai petani mengelola sawah yang lumayan luas, dan daerah ini seperti dikelilingi bukit bukit yang menjulang tinggi, sampai keawan malah, hehehe.

Sebelum memasuki area danau dari arah kota lubuk basung, kakakku mengatakan bahwa ada sebuah objek wisata sebuah kolam dengan air yang mempunyai 3 rasa, awalnya aku sama sekali tak berminat, karena dia suruh berhenti , yah aku turuti, untuk mengobati rasa penasaranku sedikit, aku pengen coba rasa airnya, masa dalam satu kolam airnya ada 3 rasa, dan aku dan kakakku pun berhenti didepan gapura yang bertuliskan “AIA TIGO RASO” dalam bahasa indonesia air tiga rasa, aku masuk kedalam tempatnya agak sedikit menurun, sampai disebuah kolam kecil berukuran 1,5 x 1 meter, yang sudah dibentuk seperti bak mandi oleh orang-orang disana, didalam kolam tersebut, ada tiga tempat yang mengeluarkan gelembung, seolah olah ada 3 mata air dibawahnya dengan jarak yang lumayan teratur, awalnya kakakku yang mencoba, akupun penasaran dan mencoba, dari tempat pertama bagian kiri kolam airnya terasa hangat dan sedikit agak asin, dan tempat kedua bagian tengah airnya terasa hambar dan dingin, dan ditempat ketiga bagian kanan kolam aku bingung harus bilang apa dengan rasa air itu, rasanya aneh dan aku bingung bilang harus bilang itu seperti rasa apa, dan ternyata benar, air itu mempunyai tiga rasa dalam satu kolam, padahal aku sering lewat daerah situ, tapi kenapa aku baru tau?.



Perjalanan berlanjut menyusuri pinggiran danau maninjau, dan sampai lah dikelok 44 atau dalam bahasa minang “kelok apek puluah ampek” ada 44 tikungan tajam bener-bener tajam menaiki gunung yang mengelilingi danau agar sampai dibukittinggi, tapi menaiki gunung itu ngga bakalan begitu terasa, melihat pemandangan danau maninjau dari atas sana, berikut beberapa potret danau maninjau, dari bawah dan dari kelok yang berjumlah 44.






Dan sampailah ditempat kedua, kota bukittinggi, digerbangnya bertulis, “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” karena aku statusnya Cuma mengantar, aku tak bisa bermain lebih lama dikota ini, padahal objek wisata ngarai sianok dikota ini bener, tapi tetap ngga sempat motret, mungkin lain kali, disini aku mengantar kakakku sampai dijam gadang, dan inilah beberapa potret, jam gadang dibalik lensa ponsel yang aku punya.




Perjalananku berlanjut menuju kota padang, melalui jalur padang panjang, ini yang paling aku suka, jalan turunan dari kota padang panjang sampai ke kabupaten padang pariaman, aku suka sekali dengan kota padang panjang, ini selintas terlihat asri dan sangat sejuk, atau juga bisa dibilang daerah yang dingin, ingin rasanya aku punya satu rumah disitu, dikota kecil yang orang-orang yang mendiami nya terlihat begitu bahagia, tapi aku tak punya potret fotonya,
Dan sampailah didaerah ketiga yang terlihat dipeta, itu adalah lokasi objek wisata lembah anai, yaitu terletak didaerah yang berlembah, dengan air terjun yang besar, persis terletak dipinggirian jalan raya, dan ini beberapa potret situasi dan pemandangan jalan disana dan aku Cuma dapat satu potret air terjunnya.






Dan akhirnya aku sampai dipadang alhamdulillah dengan selamat, bertemu dengan beberapa orang teman, ngumpul, ngalor ngidul, dan makan-makan, serta shoping hehehe, dan memperbaiki motor, nyaris tiga hari akupun pulang kerumah alias pasaman barat, melalui jalur yang berbeda ketika aku dalam perjalanan kepadang tadi, aku melewati jalur barat, bisa dibilang begitu, melewati pinggiran pantai puluhan km, mulai dari bandara internasional minangkabau sampai ke tiku, yang sudah masuk kabupaten agam lagi, dan aku lewat dipantai pariaman persis ketika matahari sudah mulai condong sedikit kearah barat, berikut potret-potret yang aku dapat sepanjang pantai.








Alhamdulillah aku selamat sampai dirumah kira-kira 3,5 jam perjalanan dari padang sampai rumah, Cuma segitulah yang bisa aku sharing untuk saat ini, dan sebenarnya masih banyak objek wisata lain disumbar yang belum aku sebutkan, walaupun aku sudah pernah mendatanginya, aku masih belum bisa ngshare nya, seperti dikampung aku sendiri, ada pantai sasak dengan pasirnya yang berwarna putih, ada lobang jepang, yang juga ada dibukittinggi, ada pemandian air panas dirimbo panti, ada lembah harau dipayakumbuh, dipainan ada puncak langkisau yang luar biasa banget view nya, ada jembatan akar juga disana, ada danau singkarak, danau kembar, atau yang biasa disebut juga danau atas danau bawah dialahan panjang, pantai padang juga ada, pantai air manis tempat dimana ada batu malin kundang, dan masih banyak lagi yang lainnya, mungkin dilain kesempatan aku bisa share.

Friday, 30 September 2011

Kisah sedih penghujung september.

Siapa kira-kira yang masih ingat dengan kejadian 30 september 2009, september paling suram yang pernah terjadi dikota padang, sebagian jantung kota remuk redam, malam paling dingin yang pernah aku rasa dikota padang, saat harus tidur dalam garasi yang tak berdinding, karena kos-kosan aku sudah tak layak lagi untuk dihuni, ketika dulu aku hanya melihat sebuah musibah hanya dalam tayangan televisi, hari itu aku merasakan sendiri, gempa besar yang terjadi, rumah dan gedung-gedung yang runtuh hanya dalam hitungan detik, jalanan retak, semua benar-benar kacau, orang-orang berlarian dengan tujuan yang tidak jelas, teriakan, tangisan, melihat secara langsung orang terjepit reruntuhan bangunan, kabel listrik yang putus dan berserakan ditengah jalan, sudah tak ada lagi sinyal handphone. 30 september 2009 16:00 Seperti biasa, aku dan semua anak-anak kos selalu ngalor ngidul ngga jelas didepan kos, ketawa-ketawa dengan jokes yang ngga jelas juga, ade adik kelasku yang biasa membuat canda tawa itu terasa hangat, karena dia sosok yang lumayan lucu, sore itu aku memotong kuku ku sambil terus ngobrol dengan anak-anak kos yang lain, sampai akhirnya aku berfikiran untuk pergi membeli gelang kedaerah permindo, terletak tepat dipusat kota, aku mengajak adik kelasku yang biasa aku panggil ucup, dia sudah aku anggap adikku sendiri, setiap tingkah polahnya, nyaris mirip denganku, sampai selera musik, film dan sebagainya sama semua, bisa dikatakan apa yang aku suka, dia pasti suka, dan apa yg dia suka aku juga akan suka. Tak ada kata penolakan darinya, entah angin apa yg membuat itu semua berjalan, hanya aku dan dia saja yg punya keinginan besar untuk pergi kepusat kota, untuk membeli sesuatu yang sama sekali benar-benar tidak penting, tanpa basa-basi kita siap-siap dan berangkat, naik angkot beberapa belas menit, dari pasar raya padang, jalan lagi beberapa ratus meter kepermindo tempat dimana semuanya assesoris ngga jelas itu ada, tak berapa lama sampailah didepan sebuah toko busana, didepannya tersebut ada sebuah lapak pedagang kaki lima dengan segala macam assesorisnya yang digantung-gantung ngga jelas, aku dan ucup pun mendekat kearah itu, karena dagangan orang itu sangat rame, beberapa saat melihat, ada yang menarik perhatianku, dan aku ingin memegang gelang yang itu, belum sempat gelang itu tersentuh olehku, kakiku gemetar, serasa beton yang aku injak ingin retak dan naik keatas. Aku sadar ini gempa, gempa yang beberapa kali belakangan ini terjadi, tapi ada yang aneh dengan gempa ini gerakan vertikal dengan sangat kencang, aku melihat keatas takut ada sesuatu menimpa kepalaku, ucup langsung memegang tanganku dan menarikku ketengah jalan raya, semua mulai panik, gempa yang awalnya bergerak vertikal menjadi horizontal, semakin lama semakin kencang, semua orang yang ada ditempat itu panik berlarian tanpa ada tujuan yang jelas, teriakan, tangisan, ratapan, dan air mata bercampur dalam rasa panik dan ketakutan, semua kacau balau, hal yang selama ini terkadang hanya bisa aku lihat dari sebuah film, kini nyata dihadapanku, sebuah hotel plaza yang tepat berada dipinggiran jalan itu, bergetar, dan menjatuhkan beberapa runtuhan, aku melihat sendiri beberapa pegawainya yang lari keluar terlihat panik dan ada yang kepalanya mengeluarkan darah tertimpa reruntuhan beton, tiang listrik terombang ambing kekeri dan kanan, kabelnya putus dan berserakan ditengah jalan, travo-travo besar diatas tiang listrik berjatuhan menimpa mobil-mobil yang sedang parkir dbawahnya, beberapa jalanan retak, rasanya aku sudah tak kuat lagi berdiri, kepalaku pusing aku ingin duduk, tapi ucup memegang tanganku sangat erat, hingga aku tak bisa apa-apa. Beberapa detik kemudian, gempa berhenti, aku bilang kepada ucup untuk lari kearah jati, karena posisi aku dan ucup saat itu, sangatlah dekat dengan pantai, aku takut beberapa menit kemudian akan terjadi tsunami, aku dan ucup berlari kearah jati, melewati jalan ratulangi. Dalam perjalanan itu aku menyaksikan dengan mataku sendiri, dipusat kota, banyak sekali toko, luluh lantak hanya dalam hitungan detik, aku sudah tidak tau lagi berkata apa, Aku melihat ada 1 keluarga didalam sebuah mobil mini bus, terjepit beton rumahnya sendiri, dan klakson mobil itu terus saja berbunyi, aku bingung melihat semua kejadian itu, apa yang semestinya aku lakukan, Juga terlihat jelas beberapa monumen disetiap simpang jalan berjatuhan, seorang bapak tua penjual buah-buahan memungut, dagangannya yang berserakan dipinggiran jalan, rumah sakit M.djamil yang ada dijati, dipenuhi mungkin nyaris ribuan orang, beberapa perawat aku lihat sibuk menyelamatkan pasien yang ada didalam gedung yang runtuh, banyak lagi yang datang kesana aku lihat akibat gempa, macet luar biasa dijalan yang sungguh sangat sempit itu, Yang aku fikir, sungguh besar jasa perawat itu, ia melakukan pekerjaannya, walau sama sekali dia tidak tau, bagaimana kabar keluarganya dirumah. Aku dan ucup pulang kekosan dengan berjalan kaki, sejauh 4km, karena sudah tak ada angkot lagi, hanya reruntuhan yang aku lihat sepanjang jalan, semua berantakan, semua sudah tak beraturan lagi, semua terasa sepi, tak ada yang berjualan lagi, semuanya benar-benar terasa seperti kota mati, Sesampai dikos semua anak-anak kos langsung bersorak mengucap syukur, karena mereka lega, tau kalau aku dan ucup selamat. Aku langsung masuk kedalam, semuanya benar-benar hancur berantakan, dinding dan lantai retak tak karuan, lantainya juga sudah tidak rata lagi, galon berserakan dimana-mana, begitu juga dengan rumah ibuk kos ku, rumah yang biasanya kami anak kos dimarahi bila masuk memakai sendal, untuk malam itu ibuk kos menyuruh memakai sendal untuk masuk dalam rumahnya, karena lemari kacanya yang besar jatuh dan pecah, begitu juga dengan pajangan-pajangan yang terbuat dari keramik, benar-benar tak karuan. Malam berlanjut, cuaca yang tadinya gerimis mulai hujan, membasuh luka kota padang, menghanyutkan darah-darah korban dari gempa tersebut, malam itu sangat dingin, hujan semakin lama semakin lebat, disertai angin kencang yang tak karuan, dan beberapa gempa susulan kecil yang terus saja mengusik tidur kami yang dalam ketakutan, yang aku ingat hanyalah, ibu sudah pasti tak karuan dirumah, jikalau sudah tau dari televisi bagaimana keadaan kota padang malam ini, tapi perasaanku bilang, semuanya baik-baik saja. Malam kelam itu terlewati juga, pagi yang sangat sunyi datang membawa sedikit harapan, meski awan masih gelap dan menitikkan air hujan, perut kami semua mulai keroncongan, sudah tak ada lagi yang bisa dimakan, orang berjualanpun sudah tak ada, lebih baik mereka menyelamatkan diri dan berkumpul dengan keluarga dari pada berjualan, nyaris 1km kami berjalan kaki mencari makanan, tetap kota padang seperti kota mati, entah ada angin apa tiba-tiba sebuah bus jurusan kekampungku lewat dihadapan kami, kami yang rata-rata jalur rumahnya searah, langsung naik kemobil itu, yang ternyata masih kosong, tanpa menunggu kesempatan kami langsung naik, kami sudah ingat pulang, sepertinya rasa ingin pulang ini mengalahkan rasa lapar kami. Sepanjang jalan, hanya reruntuhan bangunan yang terlihat, jalanan retak, untung saja tidak ada jembatan yang runtuh, sampai akhirnya tiba disebuah tempat yang masih 40km lagi dari rumahku, disana terjadi longsor, hingga terjadi kemacetan panjang dan sangat tidak mungkin untuk bus sebesar itu melanjutkan perjalanan, hingga ia memutuskan untuk menurunkan semua penumpang ditempat itu dan mencari mobil lain untuk pulang. Sejauh itu hanya tinggal aku berdua dengan eby adik kelasku, kebetulan kita berdua satu kabupaten, namun beda kecamatan, aku melanjutkan perjalanan dengannya dengan berjalan kaki beberapa kilo, hingga sampai disimpang padang sawah, disana kita menunggu tumpangan untuk pulang, tak ada yang bisa memberi tumpangan, akhirnya aku dan eby mendapat tumpangan dari sebuah mobil pick up, distributor telur, mobilnya penuh dengan telur ayam, diapun bersedia memberikan kami tumpangan, namun hanya sampai kesimpang tiga, dari sana masih 10 km lagi kerumahku, akupun langsung menuju rumah abangku yang beristri orang sana, sesampainya disitu, istri abangku bilang, kalo abangku pergi kepadang pakai motor, memastikan aku dan uni meri baik-baik saja, namun aku sudah sampai dipasaman, akupun meminta agar seseorang mengantarku pulang dirumah, ada seorang sepupu istri abangku itu yang mengantarku pulang kerumah memakai motor. Sesampainya didepan rumah, aku melihat ayah sedang berjalan keluar dari rumah, sambil melipat lengan kemeja panjangnya, dia menatapku, wajahnya yang terlihat khawatir tampak lega melihatku, dia berteriak memanggil ibu, seraya berlari kecil mengejarku, kepinggir jalan raya, sesampainya didekatku, dia langsung memegang tanganku, hal yang sangat berbeda yang dia lakukan ketika aku pulang, aku sangat terharu, dia bilang "alhamdulillah kamu selamat, uni mana?" Tanya nya padaku, aku memang tak sempat memastikan keadaan uni ku, karena dipadang jaringa telfon maupun sinyal handphone sudah tak ada, tapi ayah bilang uni sudah menelfon, melalui telfon rumah, karena sepertinya jaringan telfon rumah tidak terganggu. September 2011 Bulan september 2011 ini mungkin akan segera berakhir, bulan yang aku rasa jauh lebih berat dibanding september 2 tahun yang lalu, Diawali dengan merusak acara wisuda uni ku tanggal 10 yang lalu, aku tak ingin membahasnya, tapi aku ingin meminta maaf pada uni, dihari yang hanya akan ia rasakan sekali seumur hidupnya, aku membuat ulah dan membuat ia meneteskan air mata dihari yang harusnya dia dijadikan ratu, dan membuat senyum diwajahnya, tapi aku memang keras kepala, sifat yang aku dapat dari ayah, kenapa aku harus dapat sifat buruknya, kenapa aku tidak dapat sikapnya yang pantang menyerah dalam bekerja, entahlah. Hari itu aku bertengkar hebat dengan ayah, disela-sela acara yang harusnya penuh dengan canda tawa. Maaf uni aku merusak segalanya. Tapi aku ingin menangis melihat apa yang telah dikorbankan ibu beberapa bulan sebelum acara ini dimulai. Dan ayah tetap saja bersikukuh dengan sikap keras kepalanya itu. Bahkan aku membuat tidak ada foto kelurga dihari itu. Aku hanya mencoreng wajah uni dimuka teman-temannya, rasa malu yang mungkin tak tertanggung lagi, tapi aku keras kepala seperti ayah, dan aku tetap pada pendirianku. Beberapa hari sebelum hari wisuda itu, pamanku meninggal dunia, aku memang jarang berinteraksi dengannya, aku hanya bertemu dengannya ketika shalat jum'at dan wirid pengajian dikampungku, serta sesekali bertemu ketika aku kebetulan lewat didepan rumahnya, tapi aku selalu bersalaman dengannya, senyumnya yang sangat lugu, jalannya, dan tutur katanya, sangat melekat jelas dalam benakku, masih teringat jelas diotakku september 2 tahun lalu, ketika aku sedang bercerita dengan ayah, apa yang terjadi dikota padang, persis sehari setelah gempa, sore ketika aku sudah berada dirumah, paman berjalan kaki bersama bibi, karena mereka tidak punya kendaraan, dari kejauhan terlihat sangat tergesa, dengan mimik wajah sangat panik, sesampai didepan warung milik ayahku, dia langsung memegangku dengan mata berbinar ingin mengeluarkan air mata dan menciumku, dia khawatir terjadi apa-apa denganku, diwajahnya terlihat agak tenang setelah tau kalau aku selamat dari musibah itu. Dan september tahun ini, dia, pamanku, pergi meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya. Aku sangat sedih. Beberapa hari setelah itu, aku berangkat kepalembang, melanjutkan pekerjaanku didaerah martapura, selang hanya beberapa hari disini, aku dapat sms dari siska adikku, kalu mak uwo, begitu kami biasa memanggilnya, guru mengajiku, sudah meninggal dunia, bulan september, aku sangat merasa sedih, dialah sosok yang bisa membuatku fasih membaca alquran lengkap dengan segala macam tajwidnya, didikannya memang keras, tapi semua itu terbukti, rombongannya yang ikut MTQ sangat ditakuti, bahkan beberapa muridnya selalu menang ditingkat provinsi. Mak uwo pulalah yang membuat aku bisa belajar tilawah, dan tartil, bahkan aku sempat ikut MTQ tingkat kecamatan meski hanya mendapat juara harapan 1, tapi itu sangat memuaskan aku. Dibenakku masih sangat jelas, saat aku mengisi malamku diwaktu masih sd dimushalla yang ia bangun sendiri, belajar mengaji dengan teman-teman lainnya, membayar dengan bayaran yang sangat-sangat murah, hanya 2500 perminggu dan perkeluarga, adapun 7 orang ngaji disitu, tapi semua kakak adik, tetap bayarnya hanya 2500 saja, dengan uang segitu bisa dapat ilmu yang sangat-sangat bermanfaat, malam minggu anak lelaki tidur dimushalla dan subuh nya ada acara didikan subuh, sampai pagi menjelang, dilanjutkan dengan acara goro membersihkan mushalla, masa kecilku yang indah, tiap malam belajar bersamanya, dan september ini, dia pun pergi meninggalkan semua muridnya untuk selama-lamanya. Bahkan tak sampai 2 hari setelahnya uni ku menelfon, dia mengabari aku, bahwa temannya satu kos, dan sama satu universitas meninggal dunia, dalam sebuah kecelakaan motor dengan kekasihnya, salah satu temannya bilang mereka memang pasangan terbaik, tuhan ngga ingin memisahkan orang itu berdua, sehingga tuhan memanggil mereka berdua berbarengan, aku tak tau bagaimana kejadian sebenarnya, tapi yang aku dengar seperti itu, dia hidup, dibesarkan orang tuanya, sekolah, dan kemudian menyelesaikan kuliahnya, wisuda dan dia pergi selamanya.. Uni bilang, kemaren, masih teringat jelas olehnya ketika dia memanggil uni ku "jeng mer".. Aku memang tak terlalu kenal siapa dia, tapi kenapa kisah sedih yang selalu diperdengarkan padaku september tahun ini? Ini lebih berat dari februari dan bulan mei yang lalu, jauh lebih berat.. Dan masih banyak lagi cerita suram september ini, mungkin ini hanya sebagian kecilnya, sebagian kecil yang aku ceritakan dipenghujung september.. Wake me up when september ends. Beberapa hari yang lalu aku menelfon ibu, disaat aku sangat galau tak karu-karuan, mendengar suara, cerita dan pesan ibu, membuat aku sangat tenang, sungguh sangat tenang, September yang galau, Jangan ceritakan lagi kisah sedih, Tulangku terasa remuk Mendengar nyanyianmu, Cepatlah berlalu bawa semua gundahmu, Kelak juga kau akan datang lagi, Mesti takkan pernah aku pastikan kita akan bertemu, Terimakasih untuk air matanya Terimakasih membuat aku tegar, Terimakasih mengajari aku untuk kuat, Terimakasih mengingatkan aku akan kematian, Selamat jalan semua yang tertinggal dibulan september, Semoga semua dapat tempat yang indah, lebih baik dari dunia, Aku mencintai Mencintai kalian yang tertinggal dibulan september, September ini.. September yang akan selalu aku kenang. September mengagumkan..... :'(