Friday, 15 July 2011

Jalani Saja..




Hari ini kamis, aku sengaja tak datang terlalu pagi kekantor, aku ingin pergi kebengkel buat service motor yang udah lama ngga diservice, jam 8 aku berangkat muter-muter kota padang nyari bengkel, awalnya aku datang kebengkel resmi, tapi antriannya panjang banget aku ngga yakin bakalan cepat selesainya, sedangkan aku buru-buru, lumayan jauh aku muter, akhirnya setelah capek muter-muter ketemu deh salah satu bengkel yang lumayan gede, trus sedang sepi lagi, aku langsung aja masuk dan bilang sama yang punya aku mau service motor, tak lama datanglah seseorang, mungkin karyawannya, langsung saja ngutak-atik motorku, lumayan lama aku menunggu, beberapa saat akan selesai, handphone ku berbunyi, saat aku lihat ini nomor baru, yang buat aku penasaran, nomor ini Cuma 11 digit, pasti dari kantor, saat aku angkat, dia menyapaku dan menyebut namaku, sambil terus memperkenalkan dirinya, ini Pak Rusdi, aku kaget ternyata yang nelfon manager keuangan wilayah I, perihal apa yang akan terjadi, sehingga harus manager keuangan yang menelfon, ternyata dia menyampaikan bahwa aku akan ditempatkan diproyek baru, sebenarnya sih proyek ini sudah lama jalan, tapi karena jangka waktunya memang panjang makanya sampai sekarang belum kelar-kelar. Dalam pembicaraan itu aku sudah tau saja dia bakalan bilang apa, karena hari-hari sebelumnya aku sudah punya feeling bakalan dipindahin ke Aceh atau Palembang. Dan jelas disana pak rusdi bilang, aku akan dipindah tugaskan kepalembang.

Setelah selesai menelfon, masih dalam keadaan menunggu, aku mulai berfikir, aku hanya merasa sedikit senang, karena pekerjaanku yang tidak jelas beberapa bulan ini akan segera berakhir, satu lagi, sudah niatku ingin pergi ke negeri orang, ngga hanya muter-muter padang aja, selebihnya belum sempat aku fikirkan, tapi rasanya masih ada yang mengganjal dalam hatiku, tapi apa ya?? Ditengah rasa bingung sambil nunggu tersebut, handphone yang aku pegang, berdering lagi, masih dengan nomor yang sama sekali tidak aku tau, aku coba angkat, dengan cara yang sama seperti tadi, tapi bapak yang ini tidak menyebutkan siapa namanya, sambil menjelaskna padaku, bahwa aku akan dipindahkan kepalembang, dan surat perintah tugasku sudah dikirim kekantor cabang dipadang, aku mengiyakan semua kata bapak itu, dan mengatakan sudah mengetahui, karena tadi sudah ditelfon oleh pak rusdi, sambil aku bertanya, dengan siapa aku berbicara, ternyata orang yang berbicara dibalik telepon genggam itu ialah pak eptu, manager SDM, yaaa, dialah orang yang wajib mengetahui, dimana aku harus ditempatkan.

Selesai pembicaraan aku membayar semua biaya service, tanpa ba bi bu, aku langsung berangkat kekantor karena tadi sebelum berangkat aku sudah persiapkan semuanya, dalam perjalanan aku disms lagi oleh gadis, katanya aku disuruh kekantor oleh pak erlan, “iya aku lagi dijalan!” balasan smsku kepadanya, sms nya yang terakhir sudah tidak ku hiraukan lagi, aku terus jalan, dan berhenti disebuah spbu, disana ada lagi yang menelfon, dan lagi nomor yang sama sekali aku tidak tau itu nomor siapa, saat aku angkat, terdengar sebuah suara yang aku bingung, ini orang masih muda apa udah tua, dia berbicara begitu sangat pelan dan halus, dari cara ngedok nya, jelas ini orang jawa, dia menanyakan kapan keberangkatanku kepalembang, aku bilang secepatnya mas, dan dia bilang hubungi dia, bila sudah mau berangkat kepalembang, habis dari semua percakapan itu aku langsung isi bensin dan kembali menuju kantor, yahh sampai dikantor aku langsung menuju meja gadis, mau mengambil surat tugasku ke palembang, dan melapor kepada kepala cabang.

Hari inipun aku putuskan untuk pulang, yah benar aku kan pergi lumayan jauh dan mungkin dalam waktu yang mungkin jauh lebih panjang, aku ingin bertemu keluarga dulu, sekalian aku ingin nganterin motor, ngga mungkin juga motornya aku bawa kepalembang, sesampai dirumah aku jelaskan semuanya pada orang tuaku, jujur walaupun aku sudah tinggal sendiri, untuk urusan apapun aku selalu menyampaikannya pada orang tua, untuk diriku sendiri, aku masih merasa seperti anak kecil yang masih perlu dijaga, jika aku sedang berada dirumah, disela-sela pembicaraan itu, dengan nada rendah dan terdengar seperti nada kecewa, ibu bertanya, “berarti kamu tidak jadi kuliah taun ini fi?” aku kesetrum entah energi apa yang menyetrumku mendengar ucapan ibu, aku ingat lagi suasana dibengkel tadi, ini yang tadinya tak sempat terfikirkan olehku, sudah dari akhir 2010 aku punya planing bakalan kuliah taun ini, meski harus kuliah ditempat swasta dan berbagi waktu dengan pekerjaan, aku ladenin deh buat planning aku agar berjalan lancar sampai aku berumur 25 tahun, bahkan aku juga sudah punya planning penuh sampai aku berumur 32 tahun, saat aku bercerita akan hal ini pada teman-temanku, “jauah pangana ang lai” selalu saja kata-kata itu yang aku dapat, artinya pikiran kamu kejauhan sampe mikirin kesitu, terserahlah menilainya bagaimana, tapi kayaknya pecahan pertama yang akan aku susun sudah mulai berantakan dari sini, yang jelas jika taun ini aku tidak kuliah, otomatis aku tidak bisa menyelesaikan kuliahku diumur 24 tahun, sedangkan hal lain masih banyak yang ingin aku lakukan, sore saat aku sudah sampai dirumah itu, ada sedikit yang aku sesalkan, langkah pertamaku yang ingin aku injakan ditimur, malah terarah keselatan, dalam fikirku setelah shalat ashar, aku diberi jalan, aku teringat akan kata-kataku sendiri pada iam, yahh dalam hal ini aku tak berhak memilih, disini aku Cuma punya kewajiban untuk menjalani, dan dibalik sesalku yang sedikit itu, pasti ada hikmah yang besar, hati kecilku berkata saat itu “Jalani saja dahulu” terimakaasih ya Allah, telah beri aku petunjuk,

“mau gimana lagi bu, ini udah jalannya” jawabku sama ibu, saat itu ibu masih memberi beberapa solusi, tapi aku rasa itu tidak mungkin, jadi ibu hanya diam, sepertinya ibu sudah melepasku untuk mengambil keputusan sendiri, dia mikir hanafi kecilnya sudah dewasa, aku serasa ingin menangis, saat aku berbicara ibu sedang sibuk menyiapkan bumbu masak dan ayah ikut ada disitu sambil duduk dimeja makan, memang suasananya sedikit agak muram, terbukti selama ini aku bisa pulang kerumah kapanpun aku mau, dan besok waktu pulang ku sudah terbatas, kemungkinan aku pulang lebaran akhir agustus depan. Sepertinya aku akan mengidap penyakit rindu dengan stadium yang lebih tinggi. Mau bagaimana lagi, jalani saja...

Selesai shalat maghrib, kita sekeluarga makan bersama, hanya ada 4 disitu, berarti kurang 2 lagi, ada ayah, ibu, aku dan adikku siska, selepas dari makan aku langsung ngambil kunci motor dan langsung menuju rumah abangku yang paling gede didaerah simpang tiga, keinginan terbesarku kesana bukanlah mengunjungi dia, aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku, iky, disepanjang jalan aku mikirin gimana nanti becanda-becanda sama dia, ketawa-ketawa sama dia, tak lama aku sampai didepan rumahnya, kulihat tidak ada motor abangku disitu, kelihatannya sekitaran disitu juga lagi sepi, setelah selesai ku parkir motor, aku langsung menuju pintu, pintu rumah itu terbuka lebar, saat sampai didepan pintu, aku melihat uni mila, kakak iparku sedang menonton oscar oasis yang ada di tv-tv itu, aku tidak tau apa itu kadal atau cicak, yang jelas itu reptil,didepan ni mila duduk ada ayunan, dan sepertinya didalam ayunan yang dibuat dari kain itu ada yang tidur didalamnya, melihat itu aku sudah sedikit kecewa, saat kulihat kedalam, ternyata benar, iky udah tidur, yahhhhhhhhhh aku ngga bisa becanda-becanda sama dia, Cuma bisa nyium keningnya, sambil aku hanya berbisik fiuhh,, kita ngga bisa ketemu sekali tiga minggu lagi, buat beberapa bulan kedepan. Kutanya pada uni mila dimana abangku, tepatnya suami dia, ternyata sedang lembur dikantor, sepertinya tak mungkin juga aku bertemu dengannya, Cuma sebentar aku disana aku langsung balik, buat ngumpul lagi dengan keluarga.

satu hal dalam benakku malam itu, "Jalan Masih Panjang Hanafi" memang waktu ini tak pasti, entahkah besok aku masih sempat atau tidak melihat matahari pagi, yang jelas, malam ini harus dilalui, dan hidupku harus tetap dijalan, semoga jalan semua yang aku pilih ini benar!!

Wednesday, 6 July 2011

iam & ami


“Bila ada didekatmu, detak dadaku mengencang
Pesona indah didirimu, buat ku mabuk kepayang
Jalan panjang yang kita lalui, bukanlah sebatas mimpi
Baru kini ku merasakan jatuh cinta sesungguhnya

Original Sountrack yang tepat banget buat melambangkan kisah cinta sahabatku disaat seperti ini, yah akhir juni ini dia bilang sudah bulan keempat dia menjalani hubungan, dalam kata lain pacaran dengan kekasihnya ini, ngga ada yang spesial sebenarnya kalau dia berpacaran, Cuma dalam waktu yang lumayan singkat, dia bisa berubah dengan sangat signifikan, ngga bisa disangkal aku merasa dia berubah seperti angga berubah.

Beberapa minggu yang lalu aku memang bertemu dengannya, dia mengajakku pergi kesebuah studio band yang bisa dibilang sudah familiar lah dikalangan kami, mungkin karena keseringan mereka ng-band disitu, namun aku masih belum merasakan perubahan itu, i’am seperti biasa ku sebut namanya, masih iam seperti yang biasa kurasakan saat itu, karena waktu itu kita berdua tidak sempat berbagi banyak cerita setelah lama tidak bertemu, biasanya kalau dulu seminggu saja liburan sekolah, saat aku balik kepadang lagi, bener-bener seubrek cerita yang dia sampaikan kepadaku, semua temanku pasti tau, bagaimana menggebunya iam bercerita tentang kisah hidup dan cerita cintanya, tak salah sebenarnya erith memberi gelar “kereta api” kepadanya, aku juga tidak tau apakah dia memakai tanda baca koma dalam tatanan bahasa di hidupnya, entahlah, dia yang tau.

Kembali ketanggal 27 juni penghujung bulan juni kemaren, setelah mengantar ibu keloket mobil yang menuju pasaman barat, aku kembali ke mess tempat aku tinggal sekarang, disalah satu rumah, dikawasan belanti, sudah nyaris sore aku masih tak melakukan apa-apa dirumah itu, aku mengambil laptop ingin mengetikkan sesuatu, tapi masih belum tau apa yang akan aku ceritakan, entah kenapa aku ingat iam, yang katanya sudah pindah rumah dari siteba ke aia pacah, aku langsung sms dia, menanyakan posisinya dimana, didalam sms itu aku bilang, aku ingin tau dimana rumahnya dan aku juga kangen dengan keluarganya, memang sejak aku bersahabat dan mulai dekat dengan iam, akupun mulai dekat dengan keluarganya, bahkan sampe kakak mama iam pun aku kenal, biasa aku panggil ibu ke kakak mama nya iam, dan panggil mama ke mama iam itu sendiri.

Tak cukup lama, sms akupun dibalas, dalam sms itu ia menjelaskan bahwasanya sekarang dia lagi di kos-kosan ami, yapp ami inilah yang menjadi pacar atau kekasih atau apalah namanya, untuk saat ini yang aku tau, dalam sms ia menjelaskan akan menjemput lila adiknya yang baru aja lulus TK kerumah ibu, kakak mamanya iam, dikawasan kalawi, dan katanya kalau mau ikut kerumah barunya, aku disuruh kerumah ibu buat ketemu dan pulang bareng kerumahnya, katanya dia akan sms aku lagi kalau dia sudah sampai dirumah ibu, aku mengiyakan smsnya, cukup lama aku menunggu sampai-sampai aku ketiduran, tapi sms dia yang malah bangunin aku dari tidur itu, katanya dia sudah sampai dirumah ibu, akupun balas sms dia mengatakan “iya tunggu sebentar” rasanya males banget pergi, karena aku baru aja tidur sebentar, tapi aku yang bikin janji mau ngga mau harus ditepati, dengan langkah gontai aku pergi kekamar mandi, ingat belum shalat ashar, aku langsung whudu dulu dan shalat sebelum berangkat.

Sampai disana aku lihat sih ada motornya, tapi aku ngga liat penampakan dia, aku lihat rumah ibu pintunya kebuka, aku langsung aja menuju pintu sambil ngucapin assalamualaikum, ibupun keluar, sudah lama aku tidak ketemu dengan ibu, mungkin dia agak lupa denganku, ditambah lagi rambutku yang lumayan panjang, dan tak seperti biasanya. Saat dia keluar dia sih lumayan agak kaget aku langsung aja salaman dan nanya dimana iam, dan ternyata iam lagi tidur dikamar belakang, huffttttt. Aku disuruh bangunin iam sama ibu, aku bangunin, malah iam, ikut-ikutan kaget dibangunin, aku bilang aja yaudah langsung berangkat aja, Cuma sebentar akupun berangkat aku memakai motorku sendiri, dan dia berdua dengan lila dengan motornya sendiri, tak tau mengapa setiap saat yang genting kalo aku lagi berdua dengan iam pake motor, pasti aja ada masalah, banyak banget pengalaman kita berdua, tentang motor yang mogok lah, atau abis minyak lah padahal spbu masih jauh dan yang jual getengan juga ngga ada, dan masalah motor saat itu ialah, saat sampai dibalai baru, motorku rantainya putus, padahal iam sudah sangat jauh didepan, sial banget deh waktu itu.

Singkat cerita sampailah dirumah iam, nyaris maghrib, dan ternyata dirumahnya lagi ada banyak temen-temen ira, kakaknya iam, yang kuliah disalah satu perguruan tinggi ilmu kesehatan dikota padang, ada juga shanti disitu yang sekampung dengan aku, tak banyak yang kita ceritain dirumahnya itu, jam setengah sembilanpun kita berdua keluar lagi dari rumah, tak ada tujuan saat itu yang jelas hanya pergi keluar, sampai disiteba, rintik hujan mulai turun, makin lama semakin kenceng tuh hujan, akupun ngusulin buat singgah disebuah tempat yang bisa dibilang cafe lah, tempat aku dan teman-teman ngemil abis bubar bulan puasa taun kemaren, yang aku bingung tuh hujan ngga berhenti-henti sampai jam satu malam, yahh ditempat itulah ia mulai menceritakan semuanya, apa yang ia alami selama kuliah, dan apa yang berubah darinya setelah bertemu dan menjalin sebuah hubungan dengan ami.

Awalnya dia hanya bercerita tentang,software-software yang dipakai dikalangan teknik sipil, gimana ribetnya awal-awal kuliah, ngeladenin senior yang katanya super ngeselin, setahun ini sudah dua semester yang dia lalui, katanya super ribet dengan yang namanya assisten dosen. bayangin aja, gambar yang susah-susah diprint dengan kertas A1 dan harus mengeluarkan dana 20.000 rupiah untuk satu lembarnya, tuh dosen seenak dengkulnya doang nyoret-nyoret tuh gambar terkadang hanya karena kesalahan ketebalan garis, behhh aku mah ikut-ikutan kesal dengerin ceritanya, tapi wajar juga sih sebenarnya, yang salah ya tetap aja salah.

Tidak tau dari mana datangnya, ditengah hujan-hujan yang masih saja belum reda, diapun mulai menceritakan tentang ami, tak banyak yang aku tanya, tapi dia yang banyak bercerita, begitulah dia orangnya, hal penting sampai ngga penting sekalipun diceritakan semuanya. Dia bercerita diawal pertama kenal dengan ami itu, dia punya perasaan yang sangat biasa-biasa saja, yaa mungkin nganggap sebagai teman gitu, beda dengan satu teman yang benar-benar ia suka sewaktu masuk kuliah itu aku lupa namanya tapi masih satu fakultas dengannya, dia bercerita kalau dia suka pada wanita itu seperti dia suka pada chicha dulu, chicha temen les nya, yang dia lakukan hanya bisa diam didepan chicha, bahkan berubah kepribadian yang aku tau dia itu cerewet dan banyak omong dan lumayan hangat , kalo didepan chicha itu malah berubah jadi iam yang aneh, kalem ngga jelas dan sangat dingin, gimana orang mau bisa suka, kalau dia hanya memendam sendiri, dan seperti itulah ia menyukai wanita yang satu ini, wanita itu bukan ami, tapi orang lain.

Aku tidak bisa menceritakan gimana ia mulai bisa dekat dengan ami, ntar ganggu privasi iam, cerita-ceritanya dimulai setelah mereka berpacaran, pernah suatu saat ami bilang kepadanya, “kamu itu tipe orang yang kalau menurut kamu hal itu ngga penting buat kamu, dan ngga membawa manfaat buat kamu, kamu ngga bakalan ngelakuin, walaupun kamu tau itu bakalan bermanfaat banyak buat orang lain”, hmmm mungkin perkataan ami benar, akupun ngerasa seperti itu, dan tau tidak? Iam sudah sangat jauh berubah, setelah beberapa bulan pacaran dengan ami, dia menjadi rela berkorban, dan satu lagi, dia menjadi orang yang punya pola pemikiran yang semakin jauh tentang apa yang orang-orang katakan tentangnya, dalam artian dia semakin dewasa dalam menyikapi ucapan orang, tak seperti dulu yang selalu bodo dengan ucapan orang, bayangin aja dia rela ujan-ujanan demi nganterin baju putih kekosan ami dikarenakan ami butuh baju itu untuk mengikuti ujian, hmmm bagiku itu bukanlah iam yang mau berbuat seperti itu, terlebih saat ami mengatakan kepadanya, “Cuma kamu yang aku punya dikota ini” beuuhhhh romantis cuy, setelah ami mengatakan itu kepadanya, setiap kali berantem dengan ami, iam yang selalu meminta maaf, what??? Percaya atau tidak begitulah, tak pernah aku melihat ia meminta maaf kepada cewek hanya karena berantem-beranteman kayak gitu, yang aku aku tau dia bakalan ngerasa gengsi banget kalu harus berbuat seperti itu, tapi itulah perubahannya, dan yang aku dapat dari pembicaraan malam itu, dari setiap ucapannya aku merasa, dia jauh lebih bijak dalam menggunakan kata-kata, seperti dia sudah mencerna matang-matang kata apa yang akan diucapkannya, tak seperti iam yang biasa, ceplas ceplos tak menentu, malah terkesan kemana-mana, dari sana aku tau dia sudah sangat jauh berubah, dari apa yang aku fikirkan sebelumnya, terakhir bercerita tentang ami, ia mengatakan padaku, “aku jadi ingat perkataan kamu yang dulu naf” katanya, aku heran memang apa yang dulu aku katakan padanya, ternyata
“kamu memang seharusnya memilih, tapi ketika kamu dihadapkan kepada sesuatu yang tidak kamu pilih, kamu harus tetap menjalaninya, karena dibalik apa yang tidak kamu suka itu, Allah sudah menyiapkan sesuatu yang sangat besar, karena yang tidak kamu pilih itulah menurut Allah yang terbaik, dan suatu saat kamu pasti akan mengatakan “”untung dulu aku seperti ini, andaikan tidak mungkin aku tidak sebahagia ini””.”
Kata-kata itulah yang dulu aku katakan padanya, yang aku sendiripun lupa, kalau aku pernah mengatakan itu kepadanya emang iya ya aku sebijak itu?, hahahahaha tapi kalau ngga salah iya, aku mengatakan itu padanya ketika dia hanya bisa lulus berkuliah di Non Reguler, dan dia sangat tidak suka degan hal itu.
Lantas aku tanya balik ke iam, “apa hubungannya dengan yang kamu ceritakan sekarang?” dia bilang padahal aku dulu sama sekali tidak suka dengan ami, bisa dibilang biasa saja, aku dulukan sukanya sama wanita itu, aku lupa nama wanitanya siapa yang jelas teman sekelasnya, dia melanjutkan ucapannya, andaikan dulu aku jadian dengan wanita itu, mungkin aku takkan sebahagia ini dengan ami, katanya.

Setahun berpisah banyak yang berubah dari iam, yang ingin aku sampaikan hanyalah, terimakasih buat ami, yang sengaja atau tidak sengaja telah merubah sahabatku menjadi seorang yang jauh lebih dewasa, banyak berubah kearah yang positif, malah nyaris semua sikap jeleknya mulai berubah, Cuma ketawanya yang kayak orang ayan yang tidak berubah, hahaha aku jadi malu malam itu saat bercerita, orang sangat banyak dicafe itu, dia malah ketawa kayak gitu, apa dia ngga sadar ya?? Banyak yang merhatiin, ya sudahlah, semua orang juga tau, kalau aku sedang berdua dengannya suasana pasti jadi hangat, dan ribut serta berisik.

IAM dan AMI, satu huruf konsonan dua huruf vokal dan tiga huruf yang sama, hmmm PERFECT , ada “A”, “I”, dan “M”.
Semoga kalian langgeng deh, tak pernah aku melihat iam menyayangi wanita seperti itu, satu lagi aku dapat arti cinta, dapat arti cinta dari kisah kalian berdua, cinta itu belajar, seperti iam yang belajar merubah hidupnya, karena rasa sayang nya pada seorang wanita. Tak menyangka aku, iam bakalan seperti saat ini. Dan tak pernah juga aku melihat iam berpacaran seperti ini, dari yang pernah aku tau!! Tapi aku tau semua tentangnya, hahahaha, selamat mencintai ya iam, semoga ngga ada masalah yang rumit buat kalian berdua, buat ami, jaga iam baik-baik ya ;), sekali lagi, semoga kalian berdua tetap langgeng. Amin..

Tuesday, 21 June 2011

a letter from mom and dad

"Sebuah Surat dari Ayah dan Ibu"

Anaku, Ketika kami tumbuh tua
kami harap kamu bersabar dan mengerti terhadap kami

kalau misalnya kami memecahkan piring,
atau menghamburkan sup diatas meja
karena kami kehilangan sisi penglihatan,
Kami harap kamu tidak meneriaki kami.

orang tua sangat sensitif
sangat tersinggung ketika kamu meneriaki kami

Ketika Pendengaran kami mulai terganggu
dan kami tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan
kami harap kamu tidak mengatakan kami "Tuli"
Harap ulangi yang kamu katakan atau tulis dalam secarik kertas

Maafkan kami Anakku
Kami bertambah Tua

Ketika kaki ku bertambah lemah
kami harap kamu tetap bersabar untuk membantu membangunkan
Seperti sama saat kamu kecil dulu, kami membantu kamu untuk belajar berjalan pertama kalinya

Tolong dengarkan kami
ketika kami terus mengulang menceritakan tentang diri kami, seperti sebuah rekaman rusak.
Kami harap kamu tetap mendengarkan kami

Tolong jangan tertawakan kami atau lelah mendengarkan kami

apakah kamu ingat ketika waktu kecil kamu menginginkan sebuah balon ?
kamu mengulang terus apa yang kamu minta sampai kamu mendapatkannya

maafkan aroma kami...
aroma kami seperti aroma orang tua
Tolong jangan paksa kami untuk mandi..karena tubuh kami lemah
orang tua cepat sakit ketika mereka kedinginan, kami harap kami tidak membuat kamu merasa kami ini jorok karena hal tersebut.

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil ? Kami selalu mengejarmu berlarian karena kamu tidak mau mandi. Kami harap kamu juga bisa bersebar ketika orang tua menjadi seperti anak kecil. itu semua bagian dari semua orang tua yang akan kamu mengerti nanti ketika kamu Tua seperti kami.

dan jika kamu punya waktu, kami harap kita bisa berbincang, walaupun hanya beberapa menit, kami selalu merasa kesendirian di masa-masa tua kami dan tidak punya seseorang untuk berbicara

Kami tau kamu sibuk dengan pekerjaan, biarpun kamu tidak tertarik dengan cerita kami, tolong luangkan waktu sedikit untuk kami
Apakah kamu ingat ketika masih kecil ? kami selalu mendengarkan ceritamu tentang mainanmu

Dan ketika saatnya tiba..
kami harus sakit dan terbaring, kami harap kamu tetap bersabar untuk merawat kami

Kami minta maaf jika secara tidak sengaja mengompol atau membuat berantakan di kasur.Kami harap kamu masih tetap bersabar dimasa-masa saat terakhir kami didunia, kami tidak akan lama lagi...

Ketika waktu nya datang, Kami harap kamu memegang tangan kami untuk menghadapi kematian
Dan jangan khawatir, ketika kami bertemu Sang Pencipta, Kami akan membisikan di telinganya untuk memberkati anakku.

karena anakku mencintai Ayah dan Ibunya
terimah kasih banyak atas perhatian mu, Kami mencintai mu

dengan semua cinta.... Ayah & Ibu



beberapa waktu yang lalu aku menemukan surat itu terselip diantara jutaan thread dalam sebuah forum terbesar diindonesia, aku sudah minta izin kepada yang punya thread untuk share surat tersebut diblog aku ini, aku tidak tau apakah dia mengizinkan atau tidak, yang pasti aku sangat tersentuh dan ingin menangis membaca thread yang seperti ini.

Aku Cuma mau ng-share sama temen-temen semua aja, aku ngga punya komentar apa-apa tentang surat ini, cukup aku saja yang tau, bagaimana perasaan aku setelah membacanya,

Aku Cuma bisa bilang, aku mencintai ayah dan ibu, sangat mencintai,

Gimana perasaan temen-temen setelah baca surat ini??

Wednesday, 15 June 2011

Awalan "A" dengan akhiran "A" yang jauh lebih baik

Enam bulan sudah aku bersekolah dikota padang, kota yang sama sekali tak ada saudaraku disini, Cuma ada uni meri yang juga ngekos disini, tapi tempat kosannya sangat jauh dari kos aku, nyaris tiga bulan aku dikamar paling pojok didekat kamar mandi sendirian, memang sih bulan yang lalu aku dapet temen sekamar dari jurusan listrik, pinter banget main gitarnya, tapi ya aku ngga seneng sekamar sama dia, entah kenapa, tapi juga aku tak tau kenapa kok hanya sebentar saja dia kos disini abis itu pindah, dan setelah ia pindah aku sendiri lagi dikamar itu, kamar paling pojok didekat kamar mandi kos surian no, 04.

Semester satu berakhir, setelah selesai ujian akupun terima rapor, ada suatu kebanggaan disaat pulang, aku dapet juara 2 dari entah berapa orang siswa, hahaha dari dua orang siswa kali.

Semua aku lalui bahkan kenal dengan angga, awalnya ia sudah bertanya-tanya dipenghujung semester dua, ia akan pindah kos dari tempat lama dia yang dikontrak satu tahun, berarti sebentar lagi kontrakannnya bakal abis, katanya dia nyari kos, dan diapun tau aku kos deket banget dari sekolah. Awalnya aku kurang suka dengan yang namanya angga, hahahaha bukan apa-apa, tapi aku bener-bener ngga tahan kalo ngomong dengan dia, dia itu salah satu orang yang selalu always kalo ngomong mengeluarkan bau yang kurang sedap, hah, bukan kurang, tapi sangat tidak sedap, dan tau? Alasannya sepanjang tahun selama aku kelas 1, katanya “lagi sariawan” dan itu ia katakan setiap hari ketika ia diledek teman sekelas termasuk aku.

Tak terasa libur semester dua berakhir, nilaiku semester ini menurun seiring semakin bandelnya aku disekolah dan dilingkungan sekitar aku kos, walhasil aku dapet ceramah panjang lebar dirumah, yahh bawa happy aja, dalam hatiku mikir nilai ngga penting, aku bukan ngejar nilai kok sekolah jauh-jauh kepadang, yang aku cari ilmunya toh hasilnya dengan nilai ku yang pas-pasan disekolah, aku bisa punya ilmunya, dan sangat bermanfat untuk diriku saat ini.

Seperti biasa, hari ini hari minggu dipenghujung libur semester dua, berarti besok aku sudah ada dikelas dua masuk ke semester tiga, aku berangkat jam 2 siang dari pasaman dengan bus yang lumayan biasa aku tumpangi, sampai didepan kos ku kira-kira jam setengah delapan malam, saat aku sampai ada banyak sekali anak baru disini, junior aku yang baru masuk tahun itu, mereka aneh melihatku, tapi seharusnya aku yang aneh melihat mereka, kok jadi kebalik gini, apa dia nyangka aku anak baru juga? Huffttt ngga penting, aku langsung menuju kamarku yang paling pojok didekat kamar mandi, saat jalan dari luar kedalam aku mengaruk-ngaruk kantong untuk mengambil kunci kamarku, susah banget ngambilnya mana barang bawaan banyak banget lagi, aku berhasil mengambil kunci saat sampai didepan kamar tapi aku kaget saat masuk kedalam kamar, kamarnya terbuka, didalam banyak banget barang-barang yang jelas-jelas bukan punya aku, ada lemari yang lebay banget, gedenya minta ampun aku tau, itu bukan lemari untuk anak kos, tapi itu lemari untuk pasangan yang baru kawin, saat aku masuk ternyata sudah ada angga didalam, oh god!!! Sekarang gue sekamar dengan anak yang nafasnya paling ngga enak sekelas!! Aku sama sekali tidak menyangka, kalau dia bakalan milih sekamar dengan aku, padahal kamar lain masih ada tuh yang kosong, then.. why me??

Mungkin hanya aku tidak sadar itu adalah awal ketawa garing yang kita lakukan setiap hari, nyaris 2 tahun bersama, banyak hal yang berubah dari angga semenjak kita sekamar, nilai semesternya semakin naik setiap semesternya, mulutnya sudah tak begitu lagi, sudah mulai mendingan, mungkin dia merasa dengan ucapanku ceplas-ceplos tanpa mikirin perasaan orang lain, tapi yang aku suka dari angga seberapapun aku menjahilinya tak pernah sekalipun dia marah kepadaku, yahh akupun tak terlalu begitu menjahilinya, aku tau batasannya. Diwaktu kelas satu, dia biasa menyendiri dan paling deket dengan satu teman saja yaitu oki. Kalo dikelas mereka berdua itu emang deket banget, ketika pelajaran berakhir dan bel pulang berbunyi dia tak pernah ikut kita untuk kumpul-kumpul dulu, dia langsung saja pulang kekontrakan lamanya,

Aku ingat saat kemaren, yahh rasanya baru kemaren, dia mengajakku untuk pergi kekampungnya pesisir selatan, harus aku akui itulah pertama kali aku menginjakan kaki dipesisir selatan, menginap disitu beberapa hari, dan dia mengajakku kesemua tempat wisata dipesisir selatan, setau aku itu tempat paling indah yang pernah aku kunjungi, ada ribuan tempat wisata disitu, disaat awal sampai disana, aku langsung diajak ketempat yang namanya pucak tarusan, sore-sore dengan pemandangan yang sangat menakjubkan, dari atas puncak itu kelihatan sekali laut lepas dan beberapa pulau, hari selanjutnya aku pergi ke “jembatan aka” seperti namanya warga sumatera barat pasti tau jembatan yang terbuat dari akar secara alami tanpa ada bantuan tangan manusia, tapi hari itu disaat aku kesitu, akar itu sudah dibantu dengan besi-besi dan kawat agar akar nya tetap kuat menahan setiap orang yang menyeberang disana. Selanjutnya aku pergi kepantai carocok pantai yang enak banget buat dipandang mata,sekalian kepuncak langkisau, pemandangan paling exstrem, gila!!! Aku benar-benar terpesona dengan keindahan puncak langkisau, jika kepainan, tapi tidak pergi kesitu, takkan lengkap rasanya. Pengalaman dengan angga yang tak pernah terduga olehku, dan takkan pernah kulupakan sepanjang hidupku.

Perubahan angga yang sangat signifikan adalah ketika disemester terakhir sekolah, memang dia cerita bagaimana dia berkenalan dengan seorang wanita, tapi aku lupa detailnya, aku dikenalkan dengan wanita itu, namanya ii, aneh ya, aku tulis ie-ie saja, aku sama sekali tidak pernah mengerti, mungkin karena aku tak pernah merasakan cinta pada seorang wanita seperti angga mencintai seorang wanita, yakni wanita itu, aku masih belum bisa menemukan wanita yang benar-benar bisa membuatku seperti yang angga rasa, bagaimana tidak, bukan tanpa alasan angga yang aku tahu, dari kelas satu sampai dia kenal dengan wanita itu, aku sama sekali tak pernah melihat dia shalat, hanya terkadang aku hanya liat dia shalat jum’at itupun sesekali, tapi perubahan besar terjadi pada angga ketika dia kenal dengan wanita itu, wanita itupun bukanlah keturunan ustadz apalagi kiayi, yang aku dengar dari angga ayah wanita itu seorang polisi, beberapa bulan setelah mereka jadian, angga yang biasa males bangun pagi, saat aku terbangun subuh-subuh aku sudah melihat dia shalat subuh, habis shalat subuh dia nelfon ie-ie, hanya nelfon itu yang aku kurang suka, dan akupun ngga bisa lakukan itu, yaa dia nelfon seperti minum obat, 3 kali sehari. Tapi beberapa minggu setelah mereka jadian, angga semakin rajin shalat, tidur tepat waktu, bangun sangat pagi untuk shalat dan nelfon, menjadi pribadi yang semakin tenang, aku bisa rasakan perubahan itu, ya bagaimana tidak merasakan, dari 24 jam sehari mungkin hanya 4 jam aku tidak bersamanya,

jadi ingat waktu dulu, bikin tugas bareng, kalo mau tidur ngobrol dulu, sebelum tidur luluran dulu, sharing tentang musik yang up to date, ngantri nyuci saat hari minggu, ngantri nyetrika, ngantri ketika mau mandi, semua kegiatan harian nyaris semua kita lakukan bersama, saat sore abis pulang sekolah, kita satu kos bareng-bareng ke pantai pergi mandi-mandi sampai matahari terbenam.

Dan bagiku semua itu berubah kearah yang lebih baik, bahkan sangat baik, angga berubah jauh lebih baik daripada aku, yahh terkadang aku merasa iri pada angga, aku rasanya ingin berubah seperti itu, tapi ngga ada yang bisa buat aku termotivasi, aku mau bilang lagi, “aku belum bisa mencintai seorang wanita, seperti angga mencintai seorang wanita” hah!!! Yang pasti secara diam-diam aku banyak belajar dari angga, belajar tentang kehidupan yang mungkin angga sendiri tak pernah mempelajari itu dari dirinya sendiri, dia bukanlah orang yang pinter dikelas, tapi ilmu tentang kehidupan banyak yang aku ambil darinya tanpa pernah ia sadari, yaa terkadang aku lihat, dia tak menyadari tentang perubahannya dan nilai-nilai yang ada dikehidupannya, dia itu seorang lelaki yang baik, sabar, hmmm ngomong-ngomong bicara sabar, nanti bakalan aku ceritain tentang temanku oyong, temanku paling sabar sejagad raya. Kembali ke angga lagi, kalo mungkin dia membaca postingan ini, aku ingin katakan, terserah dia mau menganggapku apa, tapi aku menganggapnya lebih dari seorang teman, bahkan lebih dari seorang sahabat, aku sudah menganggapnya sebagai saudara kandungku sendiri.

Banyak yang aku masih belum ceritakan tentang ANGGA, tapi ini terlalu panjang, ntar bosen lagi bacanya :p

ini nihh,, beberapa potret angga beberapa tahun yang lalu :)




Jadul bangett nih foto



Fir'aun

Monday, 13 June 2011

Kisah “Mamak Azli” kakak Ibu

Ya,, biasa dipanggil Buyuang Zili untuk tahun ini (2011), bisa dikatakan umurnya mungkin sudah berumur 60 tahunan, anak ke 4 dari 7 orang bersaudara, ibuku biasa memanggil ajo kepadanya ibuku anak nomor 5, saat aku bertanya bagaimana tampang mamak (dalam minang kabau “mamak” ialah panggilan untuk saudara laki-laki ibu) ku ini, uci nenek ku dari ayah bilang, ganteng sekali orangnya, diantara anak nenek aku, dialah yang paling tampan, kulitnya kuning langsat, tak seperti ibu yang harus aku akui, ibu itu sao matang, bukan kuning langsat, yaa dialah yang paling tampan, bisa dibilang tampangnya diatas rata-rata, hanya satu yang kurang dari dia, yaitu dia mengidap penyakit epilepsi, hal tersebut yang membuat nenek tak ingin menyekolahkan dia, hanya karena alasan malu ntar disekolah penyakit dia kambuh, padahal dari cerita yang aku dengar dari ibu, mamak ialah seorang lelaki yang cerdas, dia bisa membaca dan menulis, dia tidak buta huruf, hanya butuh sebulan buat dia belajar caranya membaca dan menulis dan dia bisa, itu membuktikan bahwa dia bukanlah orang sembarangan, dia pribadi yang cerdas dengan satu kekurangan saja, kekurangan itu yang dijadikan alasan oleh nenek untuk tidak menyekolahkan dia, abangnya yang mengajarinya cara membaca dan menulis, yaitu paman aku juga, namanya Damai, mamak aku yang paling tua, itu benar, dia hanya diajar oleh kakaknya untuk belajar membaca dan menulis, hanya dalam waktu satu bulan, dari situ aku dapat kesimpulan, dia adalah seorang lelaki cerdas yang tampan.

1979,, (32 tahun yang lalu)
Sudah menjadi suatu hal yang biasa, mamak zili pulang kerumah sekali dalam tiga bulan, kerjaannya hanya keluar dari rumah, nggak tau pergi kemana, dan pulang sekali-kali, banyak yang ngga tau kemana dia, ada kabar, kadang dia sampai kedaerah talu, kira-kira 30 km dari kampungku, nenek memang agak sentimen pada anaknya yang satu ini, sering dimarahin, dan jarang dikasih kesempatan, aku sangat sedih denger semua cerita dari ibu, bahkan aku dengar dari uci juga, kadang dia sampai dikampung uci ku ini, terus digebukin sama preman kampung sana, ibu juga pernah bilang terkadang pulang kerumah dia sudah dalam keadaan benjol-benjol, hiks, kasihan dia.
Sampai klimaksnya suatu hari saat dia pulang entah dari mana, tahun 1979 itu ketika dia berumur sekitar 25 tahun, diwaktu magrib, saat itu nenek abis selesai shalat magrib, dia ngeloyor masuk dan langsung mengambil nasi untuk dia makan, mungkin karena dia lapar, abis pulang dari perjalanan jauh, nenek marah besar sama dia, sangat marah, “kok kamalala me kiajo ang tu nyoh, jang makan jo ang diumah ko leh, malu mbo dek ang diliek urang” ( jika kerjaanmu hanya bermain saja,kamu tak usah lagi makan dirumah ini, amak malu dilihat orang ) kata nenek sambil menyambar piring yang berisikan nasi yang sedang dipegang oleh mamak zili untuk ia makan, yahh aku fikir karena dia cerdas, lalu dia ngomong, sambil mengambil nasi dengan jempol dan telunjuknya yang sedang dipegang nenek hanya sebiji nasi saja, sambil bilang ke nenek, “ko mak, mbo ambiak sabijo nasi umak ko ha, untuak mbo makan, ndak ka mbo makan-makan lai nasi umak saumua iduik mbo leh” ( ini mak, aku makan nasi amak yang sebiji ini,seumur hidup tak akan aku makan-makan lagi nasi amak" katanya sambil terus melangkah dari rumah dan langsung pergi, yaa itulah terakhir kalinya ia berada dikampung ini, tak ada yan pernah tau dia kemana, tapi selama dirumah dia sangat sering mengatakan pada semua orang pada nenek dan pada kakak dan adiknya, dia sangat ingin pergi kemedan, hari ini sudah 30 tahun sejak dia pergi, sangat perih hati nenek bila mengingat kejadian ini lagi, jika kami bercerita masalah ini dan nenek mendengar dia selalu saja menangis, apa mungkin ini yang masih menahan nenek untuk terus ada, umur nenek sudah lebih 90 tahun mungkin akan masuk ke 100 tahun, nenek adalah orang paling tua nomor 2 dikampungku setelah eyangnya singgih sahabat kecilku, aku saja menangis mendengar cerita ibu tentang kakaknya itu, aku sangat ingin, sangattt ingin bertemu dengan mamak ku ini, mungkin dia sedang berada disuatu tempat, mungkin sudah punya anak yang juga mungkin ada yang seumuran dengan aku, jika ada yang membaca postingan ini, jikalau tau, apa itu mungkin ada orang disekeliling kamu, yang berasal dari pasaman, sumatera barat,bernama Azli atau zili, secara fisik aku tidak tau bagaimana rupanya, dia sudah pergi jauh sebelum aku dilahirkan, yah tolong saja dikomen, akupun yakin dalam perjalanannya pasti dia mengidam-idamkan medan, karena ibu bilang dia getol dan selalu bilang ingin sekali pergi kemedan, entah dia nyasar, aku tak tahu, tapi aku ingin sekali bertemu dengannya, sangat ingin.




Tahun lalu entah darimana datang kabarnya, sampailah kabar itu dikampungku, kabar itu mengatakan bahwa mamak zili itu sedang berada disuatu tempat dikota pinang, tanpa pikir panjang ayah pun berangkat kekota pinang disumatera utara, dan ternyata itu bukanlah mamak zili, benar dia orang pasaman yang tidak tahu jalan pulang, tapi dia bukanlah orang yang dimaksud, kampungnya beda dengan kampungku, dan kekecewaaan lah yang ayah bawa pulang, saat ini hanya menunggu kabar, dan menunggu dia kembalilah yang kami bisa, mau dicaripun, akan dicari kemana, aku yakin dia masih hidup, karena nenek masih menunggu dia, karena nenek belum ikhlas bila belum bertemu dengan dia, hal itu yang membuat aku yakin mamak zili ku, masih hidup dan dalam keadaaan yang baik-baik saja.
Aku percaya itu.